Kamis, 25 November 2021

UMMU JAMIL TIDAK MELIHAT NABI MUHAMMAD


 

Namanya Arwa (ada yang menyebut Auraa’), tapi orang-orang memanggilnya Ummu Jamil. Ayahnya bernama Harb bin Umayah, pemimpin dan tokoh bangsa Arab.

Ummu Jamil menikah dengan Abu Lahab, saudara Abdullah, ayah Nabi Muhammad. Nama asli Abu Lahab adalah Abdul Uzza. Dipanggil Abu Lahab, karena wajahnya yang kemerah-merahan seperti bara api. Lahab artinya bara api, gejolak api. Dengan demikian, Ummu Jamil termasuk bibi Nabi Muhammad, karena ia menikah dengan paman Nabi Muhammad.

 Sebelum Muhammad diangkat menjadi nabi, hubungan Abu Lahab dan Ummu Jamil dengan beliau dan keluarganya cukup dekat. Ketika Abu Lahab diberitahu oleh budaknya bahwa Aminah melahirkan anak laki-laki yang kemudian diberi nama Muhammad, ia sangat bergembira. Kegembiraan itu diwujudkan dengan membebaskan budaknya yang menyampaikan kabar tadi.

Ketika Muhammad menikah dengan Siti Khadijah dan memiliki anak, Abu Lahab dan Ummu Jamil sempat berbesanan dengan Muhammad. Dua putri Muhammad yang bernama Ruqayah dan Ummu Kultsum, dinikahkan dengan putra-putra Abu Lahab dan Ummu Jamil, yakni Utbah dan Utaibah

 Sayangnya, hubungan baik tersebut di kemudian hari menjadi berbalik 180 derajat, tepatnya semenjak Muhammad diangkat sebagai nabi. Abu Lahab dan Ummu Jamil yang tadinya memiliki kasih sayang terhadap Muhammad dan keluarganya, menjadi sangat benci disebabkan risalah yang dibawakan oleh keponakannya itu. 

Pada awalnya, Nabi Muhammad berdakwah secara sembunyi-sembunyi. Setelah tiga tahun, Allah kemudian memerintahkan kepada Nabi Muhammad agar berdakwah secara terang-terangan. Nabi Muhammadpun mulai melaksanakan perintah-Nya.

Seperti dikatakan oleh Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri, langkah pertama yang dilakukan oleh Nabi Muhammad adalah mengundang Bani Hasyim. Dua kali beliau mengundang mereka. Pada pertemuan pertama Nabi Muhammad hanya diam, karena sebelum beliau berbicara, Abu Lahab sudah mengingatkan agar beliau tidak berbuat macam-macam. Pada pertemuan kedua, Nabi Muhammad berhasil menyampaikan dakwahnya, tapi Abu Lahab menentangnya. Sementara Abu Thalib berusaha melindungi tindakan Nabi Muhammad, tapi beliau tidak mau mengikuti seruan keponakannya yang sangat dicintai itu.

  Setelah Nabi Muhammad yakin bahwa pamannya yang bernama Abu Thalib akan melindungi, maka pada suatu hari beliau menuju Bukit Shafa. Dari atas bukit, Nabi Muhammad kemudian berseru.

“Yaa shabahaah!”[1])

Mendengar panggilan yang diucapkan berkali-kali, penduduk Makkah mendatangi tempat di mana suara itu berasal. Mereka bertanya-tanya siapa gerangan yang memanggil dan apa yang akan disampaikan?

 Ummu Jamil yang berada di rumah pun penasaran. Ia meminta kepada suaminya untuk mendatangi orang yang memanggil-manggil. Abu Lahabpun menuju ke Bukit Shafa, tempat Nabi Muhammad memanggil-manggil penduduk Makkah. Sesampainya di Bukit Shafa, Abu Lahab melihat orang-orang sedang mengerumuni Nabi Muhammad.

“Ada apa ya Muhammad?”, tanya orang-orang yang berkumpul di tempat tersebut.

 “Apa pendapat kalian, seandainya aku beritahu bahwa musuh akan datang besok pagi atau petang, apakah kalian percaya kepadaku?”, kata Nabi Muhammad kepada orang-orang di hadapannya. Orang-orangpun menjawab “percaya”, karena selama ini mereka melihat Nabi Muhammad adalah orang yang jujur, tak pernah berbohong.

“Sesungguhnya aku diutus oleh Allah sebagai pemberi peringatan akan datangnya azab yang sangat pedih”.

Mendengar kata-kata Nabi Muhammad, ada yang percaya, ada yang ragu-ragu, ada juga yang tidak percaya. Sementara Abu Lahab sangat marah mendengar ucapan keponakannya itu.

“Celakalah kamu Muhammad! Jadi hanya untuk ini kamu mengumpulkan kami di sini?”

Dengan menahan amarah, Abu Lahab kembali ke rumah. Ummu Jamil menyambut kedatangan suaminya dengan pertanyaan-pertanyaaan. Abu Lahab memberitahu istri apa yang disampaikan oleh Nabi Muhammad. Mendengar penuturan suami, Ummu Jamil naik darah. Ia tak mau keponakannya itu menjadi panutan, karena ia merasa suami dan dirinyalah yang pantas menjadi panutan.

Ummu Jamil sebenarnya berasal dari kalangan bangsawan yang dihormati. Namun sayang kelakuannya tidak sesuai dengan sebutannya. Ummu Jamil artinya ibu yang cantik. Akan tetapi fakta menunjukkan hatinya tak secantik sebutannya. Demikian pula suaminya, Abu Lahab. Semenjak saat itu ia menjadi sangat membenci Nabi Muhammad.

Bagi Ummu Jamil, tiada hari tanpa menyebarkan isu jahat dan menghasut orang-orang agar tidak mengikuti ajaran Nabi Muhammad. Dia juga memengaruhi suaminya agar menyebarkan kata-kata yang dapat mencegah orang menjadi pengikut Nabi Muhammad.

Guna mencelakai Nabi Muhammad, Ummu Jamil menyebarkan duri-duri di tempat yang biasa dilalui oleh Nabi Muhammad. Meskipun demikian, Nabi Muhammad tak pernah terkena duri-duri itu, karena Allah selalu melindunginya. Nabi Muhammad pun dihina dengan sebutan seorang fakir.

Kebencian Ummu Jamil terhadap Nabi Muhammad, tak hanya berhenti sampai di situ. Ummu Jamil juga memerintahkan kepada kedua anak laki-lakinya, Utbah dan Utaibah, agar menceraikan istri-istrinya, Ruqayah dan Ummu Kultsum, yang keduanya merupakan putri Nabi Muhammad.

Perbuatan tidak terpuji yang dilakukan berkali-kali oleh pasangan suami istri itu menyebabkan Allah menurunkan Surat Al-Lahab.


تَبَّتْ يَدَآ اَبِيْ لَهَبٍ وَّتَبَّۗ - ١

مَآ اَغْنٰى عَنْهُ مَالُهٗ وَمَا كَسَبَۗ - ٢

سَيَصْلٰى نَارًا ذَاتَ لَهَبٍۙ - ٣

وَّامْرَاَتُهٗ ۗحَمَّالَةَ الْحَطَبِۚ - ٤

فِيْ جِيْدِهَا حَبْلٌ مِّنْ مَّسَدٍ ࣖ - ٥

 Terjemahan:

1.    Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan sesungguhnya dia akan binasa.

2.   Tidaklah berfaedah kepadanya harta bendanya dan apa yang ia usahakan.

3.   Kelak dia akan masuk ke dalam api yang bergejolak.

4.   Dan (begitu pula) istrinya, pembawa kayu bakar.

5.    Yang di lehernya ada tali dari sabut.

Di sini, Allah telah memvonis sepasang suami istri tersebut masuk neraka. Padahal, saat ayat itu turun, mereka berdua masih hidup. Ayat 1-3 membicarakan Abu Lahab, sedangkan ayat 4-5 membahas Ummu Jamil.

Peribahasa Jawa menyebutkan, “Ciri wanci lelai ginawa mati”. Artinya, perbuatan jelek yang tidak akan pernah hilang kecuali yang bersangkutan telah mati. Begitulah gambaran Ummu Jamil dan suaminya. Perbuatan-perbuatan jahat itu terus-menerus mereka lakukan terhadap Nabi Muhammad tanpa pernah merasa bersalah dan kemudian bertobat. Sebaliknya, mereka justru semakin menggila dalam usahanya menghalang-halangi dakwah Nabi Muhammad, dengan berbagai cara.  

Mendengar ada wahyu yang menyinggung dirinya dan suaminya, Ummu Jamil kebenciannya kepada Nabi Muhammad semakin memuncak. Ia mengira wahyu itu adalah syair karangan Nabi Muhammad.

Suatu ketika, Ummu Jamil mencari Nabi Muhammad karena kekesalannya. Ia merasa diejek sebagai hammaa latal hathab ‘pembawa kayu bakar’. Pengibaratan dalam Al-Qur’an ini didasarkan pada kebiasaan orang-orang Arab yang mengumpamakan orang yang suka menyebar fitnah dan mengadu domba dianggap sebagai pembawa kayu bakar. Di Indonesia, orang semacam ini biasa disebut sebagai tukang kompor. Artinya, ia suka mengompori orang-orang agar satu sama lain panas hatinya sehingga mereka tidak rukun, benci, atau berantem.

Pencariannya sampai di Ka’bah. Saat itu, Abu Bakar sedang duduk bersama Nabi Muhammad di dekat Ka’bah. Ketika bertemu Abu Bakar, berkatalah Ummu Jamil, “Wahai Abu Bakar, di mana temanmu itu. Saya dengar ia mengejekku. Seandainya ia berada di sini, maka akan kutimpuk mulutnya dengan batu ini”.

Setelah berkata demikian, Ummu Jamil kemudian pergi meninggalkan Abu Bakar. Dipandangnya Ummu Jamil dengan penuh keheranan oleh Abu Bakar. Setelah Ummu Jamil lenyap dari pandangan matanya, Abu Bakar yang sedang duduk bersama Nabi Muhammad lalu bertanya, “Ya Rasulullah, apakah dia tidak melihatmu berada di sini?”.

“Tidak! Dia tidak melihatku, karena ada malaikat yang selalu menutupiku sampai ia pergi dari sisiku”, jawab Nabi Muhammad.

Ummu Jamil betul-betul ditutup pandangan matanya agar tidak melihat Nabi Muhammad berada di dekatnya. Itulah sebabnya niat melempar batu kepada beliau tidak berhasil.

 

DAFTAR ACUAN

 

1.   Buku

 

Abdurrahman Umairah. 2009. Wanita-Wanita dalam Al-Qur’an. Jakarta: Pustaka Al-Kautsar.

Ali Muthohar. 2000. Perempuan dalam Catatan Tuhan. Surabaya: Pustaka Progressif.

Al-Ustadz Afif Abdul Fattah Thabbarah. 2002. Tafsir Juz ‘Amma Lengkap & Ilmiah. Bandung: Sinar Baru Algensindo.

Al-Walidi an-Nisaburi. 2014. Asbabun Nuzul, Sebab-Sebab Turunnya Ayat-Ayat Al-Qur’an. Surabaya: Amelia.

Asrifin An Nakhrawi. 2011. Ringkasan Asbaabun Nuzul, Sebab-Sebab Turunnya Ayat-Ayat Al-Qur’an. Surabaya: Ikhtiar.

Ath-Thabari. 2019. Muhammad di Makkah dan Madinah. Yogyakarta: Ircisod.

Fuad Kauma. 2000. 50 Mukjizat Rasulullah. Jakarta: Gema Insani.

H.A.A. Dahlan dan M. Zaka Alfarisi. 2004. Asbābun Nuzūl, Latar Belakang Historis Turunnya Ayat-Ayat Al-Quran. Bandung: CV Penerbit Diponegoro.

Hamid bin Ahmad. 2010. Hukuman dan Azab bagi Mereka yang Zalim. Surabaya: Amelia.  

Jabir Asysyaal. 1988. Al-Qur’an Bercerita Soal Wanita. Jakarta: Gema Insani Press.

K.H. Salim Bahraesy. 2002. Menyaksikan 35 Mukjizat Rasulullah SAW. Surabaya: Pustaka Progresif.

Martin Lings. 2018. Muhammad, Kisah Hidup Nabi Berdasarkan Sumber Klasik. Cetakan Ke-3. Jakarta: PT Serambi Ilmu Semesta.

Muhammad Chirzin. 2011. Buku Pintar Asbabun Nuzul, Mengerti Peristiwa dan Pesan Moral di Balik Ayat-Ayat Suci Al-Quran. Jakarta: Zaman.

Muhammad Sa’id Ramadhan Al-Buthy. 2006. Sirah Nabawiyah, Analisis Ilmiah Manhajiah Sejarah Pergerakan Islam di Masa Rasulullah SAW. Jakarta: Robbani Press.

Said Yusuf Abu Aziz. 2005. Azab Allah bagi Orang-Orang Zalim. Bandung: Pustaka Setia.

Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri. 2008. Sirah Nabawiyah. Jakarta: Pustaka Al-Kautsar.

Ust. Labib MZ. 2003. 10 Orang Divonis Masuk Neraka. Surabaya: Bintang Usaha Jaya. 

Yanuar Arifin. 2014. Mereka Memilih Jalan Kesesatan. Yogyakarta: Diva Press. 

 

2. Internet

 

quran.kemenag.go.id/sura/111

 



[1]) Shabahaah adalah sebuah seruan untuk meminta tolong (Al-Walidi an-Nisaburi, 2014:727).

 

Selasa, 23 November 2021

HUJAN DI MUSIM KEMARAU

 

 

Kala itu, waktu telah memasuki tahun keenam tinggal di Madinah bagi Nabi Muhammad dan kaum Muhajirin semenjak hijrah dari Makkah. Tanaman yang biasanya tumbuh subur, kali ini banyak yang kering. Daun-daun pun berguguran dan pohon-pohon tampak menjulang tanpa dedaunan. Kemarau panjang saat itu memang sedang melanda Madinah. Akibatnya, banyak binatang ternak yang mati karena tidak adanya air untuk minum dan rerumputan atau dedaunan untuk makanan. Bahan pokok makanan pun harganya menjadi melambung akibat lahan-lahan pertanian tidak menghasilkan gandum dan buah-buahan. Pacekilik benar-benar sedang dialami penduduk Madinah.

Apakah Nabi Muhammad tidak memahami keadaan yang membuat rakyat hidupnya menjadi serba sulit? Tentu saja paham. Bahkan sangat paham. Beliau juga tahu bahwa keadaan yang sedang menimpa penduduk Madinah merupakan ujian dari Allah. Allah menguji seberapa besar iman mereka kepada-Nya. Akan tetapi Nabi Muhammad sengaja tidak memberitahukan hal ini kepada penduduk Madinah. Beliau ingin melihat seberapa besar kekuatan iman yang tertanam dalam jiwa para sahabat, meskipun beliau bisa saja memohon kepada Allah agar menghentikan keadaan yang demikian. Selama masyarakat Madinah masih bersabar dengan keadaan seperti itu, maka beliau mendiamkannya.  

Meskipun penderitaan mendera para sahabat, namun mereka tetap memilih hidup berdampingan dengan Nabi Muhammad yang selalu mencurahkan belas kasih kepada umatnya. Mereka rela hidup pahit dan getir asalkan selalu bersama beliau.

Pada suatu hari, Nabi Muhammad berkhutbah di masjid. Dengan penuh kelembutan, beliau menyampaikan nasihat yang membuat para sahabat yang sedang mendengarkan terpukau. Saat itu, tiba-tiba ada seorang Arab pedalaman yang baru saja ikut berjamaah bersama Nabi Muhammad, berdiri dan berkata, “Ya, Rasulullah! Akibat kemarau yang sangat panjang, banyak harta benda kami yang musnah. Oleh karena itu, berdoalah kepada Allah agar Dia menurunkan hujan untuk kami”.

Nabi Muhammad mengabulkan permohonan orang Arab pedalaman tadi. Beliau berdoa, memohon kepada Allah agar hujan turun. Tak berselang lama, udara yang tadinya panas, berubah menjadi sejuk. Langit yang tadinya biru, tiba-tiba tertutup awan hitam. Tak lama kemudian, air turun dari langit mengguyur bumi.

Para sahabat yang ada di dalam masjid, mencoba menunggu hujan reda untuk pulang ke rumah. Lama mereka menunggu, namun hujan belum berhenti juga. Akhirnya mereka pulang dengan tubuh terguyur hujan.

Guruh masih menggelegar silih berganti dengan kilat, dan hujan masih mengguyur bumi kala waktu Asar tiba. Akibatnya, hanya beberapa orang yang shalat berjamaah di masjid bersama Nabi Muhammad. Yang lain memilih shalat di rumah bersama istri dan anak.

Sudah sepekan hujan turun terus-menerus tanpa henti. Di masjid, Nabi Muhammad hanya berjamaah dengan beberapa orang saja. Setelah selesai melaksanakan shalat Asar, Nabi Muhammad, seperti biasanya, memberikan khutbah di hadapan para sahabat. Dalam khutbahnya, beliau tidak menyinggung hujan yang terus-menerus tiada henti selama sepekan. Saat itu, orang yang dulu meminta kepada Nabi Muhammad agar memohonkan hujan kepada Allah, tiba-tiba berkata kepada beliau.

“Ya, Rasulullah! Harta benda kami rusak akibat hujan terus-menerus. Mohonkanlah kepada Allah agar hujan berhenti”.

Nabi Muhammad tidak menolak permohonan sahabatnya itu. Beliau lalu berdoa kepada Allah agar hujan berhenti. Tak lama kemudian, awan hitam itu tersapu angin hingga perlahan-lahan matahari menampakkan diri setelah sepekan tidak menyinari bumi Madinah. Udara yang tadinya dingin, kian lama makin terasa hangat. Hujan benar-benar telah berhenti.

 

 

Daftar Acuan

 

 

 

Fuad Kauma. 2000. 50 Mukjizat Rasulullah. Jakarta: Gema Insani.

 

K.H. Salim Bahreisy. 2002. Menyaksikan 35 Mukjizat Rasulullah SAW. Cetakan Kelima. Surabaya: Pustaka Pogresif.

Minggu, 21 November 2021

TENTARA ALLAH PADA PERANG KHANDAQ


Orang-orang Yahudi Bani Nadhir sangat menaruh dendam kepada Nabi Muhammad dan kaum muslim karena mereka diusir dari Madinah. Pengusiran ini bukan tanpa alasan. Penyebabnya, mereka telah berkhianat dan berencana melakukan pembunuhan terhadap Nabi Muhammad. Berkat diberi tahu oleh Malaikat Jibril, maka Nabi Muhammad mengetahui rencana mereka, sehingga pembunuhan pun gagal dilaksanakan. 

Menurut Syaikh Shafiyyurrahman Al-Mubarakfuri, orang-orang Yahudi Bani Nadhir yang diusir dari Madinah, kebanyakan dari mereka, terutama para tokoh dan pemimpinnya, seperti Huyai bin Akhthab dan Sallam bin Al-Huqaiq pergi Khaibar, sedang sebagian yang lain pergi ke Syam. Hanya dua orang yang tetap di Madinah karena mereka masuk Islam, yaitu Yamin bin Amr dan Abu Sa'd bin Wahb.

Setelah lari ke Khaibar, mereka merencanakan persekongkolan untuk melawan orang-orang muslim. Hal ini dikarenakan mereka tidak berani menyerang sendiri orang-orang muslim.

Para pemimpin dan pemuka Yahudi Bani Nadhir di Khaibar mendatangi pemimpin dan pemuka kaum kafir Quraisy. Mereka mendorong orang-orang kafir Quraisy agar menyerang Nabi Muhammad dan kaum muslim. Mereka berjanji akan membantu penyerangan tersebut hingga memperoleh kemenangan. Mereka berdalih dan menyakinkan kaum kafir Quraisy bahwa kepercayaan orang-orang Quraisy jauh lebih baik daripada agama Nabi Muhammad. Pemimpin dan pemuka kaum kafir Quraisy menyambut dengan senang hati tawaran kerja sama tersebut dan membuat kesepakatan hari penyerangannya.

Setelah mendatangi kaum kafir Quraisy, para pemimpin dan pemuka Yahudi Bani Nadhir melanjutkan rencananya, menemui pemimpin dan pemuka Bani Ghathafan dan mengajak mereka untuk menyerang Nabi Muhammad seperti mereka mengajak kaum kafir Quraisy. Ajakan tersebut pun disambut oleh mereka.

Tak berhenti sampai di situ. Orang-orang Yahudi tadi juga mendatangi kabilah-kabilah Arab lainnya, seperti: Bani Murrah, Bani Fazarah, Bani Asyja', Bani Sulaim, Bani Sa'ad, dan Bani Asad dengan ajakan yang sama, dan semuanya mengiyakan ajakan tersebut.

Setelah semuanya siap, mereka secara serentak bergerak menuju Madinah dari tempat masing-masing. Yang menjadi panglima perang adalah Abu Sufyan bin Harb.

Ketika Nabi Muhammad mendengar berita ada persekongkolan antara Yahudi Bani Nadhir dengan kaum kafir Quraisy dan kabilah-kabilah Arab lainnya untuk menyerang beliau dan kaum muslim, maka beliau segera mengadakan rapat untuk mengatur strategi dan persiapan perang. Apalagi berdasarkan informasi yang diperoleh, jumlah pasukan musuh sekitar 10.000 orang, sedangkan pasukan muslim hanya 3.000 orang, maka strategi perang yang diterapkan harus jitu. Dalam rapat tersebut, Salman Al-Farisi mengusulkan supaya dibuat parit di sekitar Madinah untuk pertahanan. Usulan ini didasarkan pada pengalamannya ketika berperang di negaranya dulu, di Persia. Usulan tersebut disetujui oleh Nabi Muhammad. Para sahabat pun kagum atas usulan Salman Al-Farisi, karena strategi perang seperti itu, sebelumnya tidak pernah ada di Arab.

Tanpa menunda-nunda waktu, penggalian parit pun dimulai. A.R. Shohibul Ulum menyebutkan bahwa setiap 10 orang mendapat tugas menggali parit sepanjang 40 hasta (Sitiatava Rizema Putra menyebut 10 hasta), dengan kedalaman 10 hasta dan lebar 9 hasta. Total panjang parit kira-kira 5.000 hasta.

Siang malam seluruh warga Madinah, termasuk Nabi Muhammad, menggali parit. Parit dapat diselesaikan selama 6 hari, sebelum pasukan musuh itu tiba di Madinah. Penggalian parit ini termasuk relatif singkat untuk ukuran saat itu, dengan berbagai kendala seperti kekurangan peralatan, kurang makanan, cuaca yang sangat dingin, ditambah dengan sikap-sikap orang-orang munafik yang terus mengikis semangat para sahabat. Meskipun demikian, semangat yang didasari iman yang kuat membuat mereka tidak pernah surut membela agama Allah dan Rasul-Nya.

Parit dibuat di bagian depan. Parit ini akan menjadi penghalang bagi pasukan berkuda, apalagi unta, karena lebar dan dalam. Batu-batu ditumpuk untuk senjata melempar musuh bila ada yang berani melompati parit. Rumah-rumah di sisi parit dikosongkan, sementara perempuan dan anak-anak diungsikan ke belakang. Sebelah kanan terlindungi gunung batu yang terjal. Di sebelah kiri terdapat bukit Sila'. Di bukit inilah Nabi Muhammad bermarkas bersama 3.000 pasukannya. Tenda Nabi Muhammad berwarna merah, menghadap ke arah parit. Di bagian belakang, adalah pemukiman orang Yahudi Bani Qiraizhah yang terikat perjanjian damai dengan Nabi Muhammad. Mereka inilah yang bertugas mengatur kebutuhan makan bagi pasukan muslim di garis depan.

Ribuan pasukan musuh yang merupakan persekongkolan orang Yahudi Bani Nadhir, kaum kafir Quraisy dan beberapa kabilah di Arab itu akhirnya tiba di Madinah. Akan tetapi betapa terkejutnya mereka, ketika hendak menyerbu Madinah, ternyata di depan mereka ada parit yang menganga lebar dan dalam. Padahal mereka tahu, sebelumnya parit itu tidak ada. Parit yang lebarnya mencapai 9 hasta itu, tidak mungkin kuda mereka bisa melompatinya. Kalau dipaksakan, mungkin yang terjadi justru terjerumus ke parit yang sangat dalam. 

Sebetulnya, bisa saja pasukan musuh itu lewat belakang, tapi itu tidak mungkin dilakukan, karena di sana ada pemukiman Yahudi Bani Quraizhah. Akhirnya pasukan persekongkolan itu hanya berputar-putar di sekitar parit sambil mencari titik-titik kelemahan yang bisa dimanfaatkan untuk menyerang kaum muslim. Sementara itu, pasukan muslim selalu mengawasi gerak-gerik pasukan musuh agar mereka jangan sampai bisa menyeberangi parit atau menimbun parit sebagai jalan untuk menyeberang, sambil sesekali melepaskan anak panah kepada mereka.

Sekelompok orang dari pasukan persekongkolan ada yang mendapatkan lubang parit yang lebih sempit. Mereka dapat melompati parit, namun Ali bin Abi Thalib dan beberapa sahabat dapat mengepung dan mengalalahkan mereka. Bahkan Amr bin Abi Wuud dapat dibunuh oleh Ali bin Abi Thalib. 

Pasukan persekongkolan itu masih terus berusaha keras untuk dapat menyeberangi parit atau membuat jalur penyeberangan meskipun sudah berhari-hari belum membuahkan hasil. Akibatnya, ada shalat yang tak sempat dilakukan oleh Nabi Muhammad dan kaum muslim karena tidak pernah berhenti melakukan perlawanan terhadap pasukan musuh yang terus-menerus berusaha agar dapat melewati parit. Shalat Asar yang terlewati itu dilaksanakan setelah matahari terbenam, yang langsung disusul shalat Maghrib.

Melihat betapa lelahnya pasukannya yang tak dapat beristirahat dikarenakan diserang terus oleh pasukan musuh yang jumlahnya tiga kali lipat lebih, Nabi Muhammad khawatir pasukannya tak kuat sehingga menyebabkan kekalahan. Oleh karena itu, beliau berniat memperkecil kekuatan musuh dengan cara mengadakan perdamaian dengan Bani Ghathafan. Rencana perdamaian itu: (1) Bani Ghathafan harus menarik kembali pasukannya dari medan perang; dan (2) Sebagai imbalannya, Nabi Muhammad akan menyerahkan sepertiga hasil panen kaum Anshar. Namun keinginan tersebut dibatalkan setelah beliau mendengar pendapat dua tokoh Anshar yang tidak menyetujuinya.

Di pihak musuh, dikarenakan serangannya tak membuahkan hasil meskipun sudah berhari-hari, pemuka kaum Yahudi Bani Nadhir, Huyai bin Akhthab, menemui pemimpin kaum Yahudi Bani Quraizhah. Ia menghasut Ka'ab bin Asad Al-Khurazhy, pemimpin kaum Yahudi Bani Quraizhah agar mau bersama-sama mereka menyerang Nabi Muhammad dan kaum muslim. Awalnya Ka'ab bin Asad Al-Khurazhy menolak ajakan pemuka Yahudi Bani Nadhir karena terikat perjanjian dengan Nabi Muhammad untuk tidak membantu siapapun yang berusaha mencelakai beliau dan kaum muslim. Ka'ab bin Asad Al-Khurazhy juga mengatakan bahwa Nabi Muhammad adalah orang yang baik budi pekertinya dan menepati janji. Namun Huyai bin Akhthab terus-menerus membujuk dan merayu Ka'ab bin Asad Al-Khurazhy dengan janji-janji manis, akhirnya Ka'ab bin Asad Al-Khurazhy menyepakati untuk turut menyerang Nabi Muhammad dan kaum muslim.

Dengan berkhianatnya kaum Yahudi Bani Quraizhah, beban kaum muslim tentu akan semakin berat. Tak mengherankan jika pasukan muslim semangatnya menjadi menurun setelah mendengar kabar tersebut. Nabi Muhammadpun menyusun rencana dalam menghadapi pengkhiatan kaum Yahudi Bani Quraizhah. Beliau mengutus beberapa pasukan untuk menjaga perempuan dan anak-anak yang berada dalam benteng.

Setelah kira-kira 20 hari dalam pengepungan, pada suatu malam Nabi Muhammad memanjatkan doa, memohon pertolongan Allah. Malam itu, datang seorang tokoh Bani Ghathafan, Nu'aim bin Mas'ud, menemui Nabi Muhammad. Ia mengatakan bahwa dirinya telah Islam, tapi menyembunyikan keislamannya di tengah-tengah kaumnya. Untuk itu, ia memohon kepada Nabi Muhammad agar memerintahkan kepadanya apapun yang beliau kehendaki. Setelah mendengar pengakuan Nu'aim bin Mas'ud, Nabi Muhammad lalu memerintahkan kepadanya agar mencerai-beraikan pasukan persekongkolan, karena perang adalah tipu daya. Nu'aim bin Mas'ud melaksanakan perintah Nabi Muhammad.

Allah Yang Maha Mendengar, mengabulkan doa yang dipanjatkan oleh Nabi Muhammad. Nu'aim bin Mas'ud berhasil melaksanakan perintah Nabi Muhammad. Pasukan lawan menjadi bercerai-berai setelah dipecah-belah oleh Nu'aim bin Mas'ud. Selain itu, Allah juga mengirimkan angin topan dan udara yang dingin menusuk tulang pada malam hari. Angin topan yang disertai hujan deras yang turun tiada henti dengan kilat dan petir saling menyambar, membuat suasana benar-benar mencekam. Kemah-kemah mereka porak-poranda, tak ada satupun yang masih berdiri. Allah juga mengirimkan malaikat yang mengguncangkan hati mereka sehingga merasa takut dan lari pontang-panting.

Dalam keadaan kalut, kacau, dan panik yang luar biasa, akhirnya para pemimpin pasukan musuh memerintahkan pasukannya untuk kembali ke daerah masing-masing.

Pagi harinya, pasukan muslim baru menyadari bahwa pasukan musuh telah meninggalkan peperangan. Mereka terkejut begitu melihat perkemahan pasukan musuh telah porak-poranda. Ribuan prajurit yang mengepung Madinah betul-betul telah hilang dari depan mata mereka. Merekapun segera mengucapkan syukur kepada Allah yang telah menolong mereka.

Itulah mukjizat yang terjadi pada Perang Khandaq atau Perang Ahzab. Disebut Perang Khandaq, karena pasukan muslim menggunakan khandaq atau parit sebagai pertahanan mereka. Disebut Perang Ahzab, karena orang Yahudi Bani Nadhir bersekongkol dan membentuk persekutuan (ahzab) dengan kaum kafir Quraisy, Bani Ghathafan, dan kabilah-kabilah lain di Arab.


Daftar Acuan


Agus N. Cahyo. 2012. Perang-Perang Paling Fenomenal. Jogjakarta: Buku Biru.

Ali Muhammad Ash-Shallabi. 2016. Peperangan Rasulullah. Jakarta: Ummul Qura.

A.R. Shohibul Ulum. 2019. Seni Perang dalam Islam. Yogyakarta: Mueeza.

Drika Zein. 2012. Mukjizat Nabi Muhammad. Sleman - Yogyakarta: Wanajati Chakra Renjana.

Muhammad Sa'id Ramadhan Al-Buthy. 1999. Sirah Nabawiyah, Analisis Ilmiah Manhajiah Sejarah Pergerakan Islam di Masa Rasulullah SAW. Robbani Press.

Musthafa As-Siba'i. 2014. Sirah Nabawiyyah. Surakarta: Indiva.

Saiful Hadi El-Sutha. 2013. Muhammad, Jejak-Jejak Keagungan dan Teladan Abadi "Sang Nabi Akhir Zaman". Jakarta: As@-Prima Pustaka.

Sitiatava Rizema Putra. 2014. Perang-Perang dalam Sejarah Islam. Jogjakarta: IRCiSoD.

Syaikh Shafiyyurrahman Al-Mubarakfuri. 2008. Sirah Nabawiyah.  Jakarta: Pustaka Al-Kautsar.




Selasa, 16 November 2021

MAKANAN SEDIKIT, CUKUP UNTUK ORANG BANYAK


Nabi Muhammad diberi mukjizat dapat menjadikan makanan sedikit, cukup untuk dimakan orang banyak. Mukjizat seperti ini tidak hanya sekali terjadi, tapi beberapa kali terjadi. Dua di antaranya seperti di bawah ini.

Sejarah mencatat, ketika Nabi Muhammad baru hijrah dari Makkah ke Yatsrib (yang kemudian diganti namanya menjadi Madinah Al-Munawwarah), beliau pernah tinggal di rumah Abu Ayyub al-Anshari selama 7 bulan.

Nama asli Abu Ayyub al-Anshari adalah Khalid bin Zaid bin Kulaib. Ia berasal dari Bani an-Najar. Ia termasuk orang yang beruntung, karena Allah memilih rumahnya sebagai tempat singgah Nabi Muhammad. Padahal, saat itu banyak orang Anshar yang mengharap Nabi Muhammad berkenan singgah di rumah mereka. Hampir setiap orang yang rumahnya dilalui oleh Nabi Muhammad, mereka mempersilakan beliau singgah, bahkan sampai memegang tali kekang unta yang dinaiki Nabi Muhammad agar singgah di rumahnya. Akan tetapi Nabi Muhammad mengatakan, "Biarlah unta ini berjalan, karena sesungguhnya ia telah diperintah".

Unta yang menjadi kendaraan Nabi Muhammad tetap melanjutkan perjalanan. Ketika sampai di tempat terbuka, unta itu berhenti dan menderum di tempat tersebut. Nabi Muhammad masih berada di punggung unta ketika unta itu berdiri lagi. Unta berjalan beberapa langkah, menolehkan kepala, dan kembali lagi ke tempat semula. Tentu ini menjadi kebahagiaan tersendiri bagi Abu Ayyub al-Anshari, karena unta itu berhenti di dekat rumahnya. Abu Ayyub al-Anshari segera mengambil pelana unta Nabi Muhammad, lalu memasukkannya ke dalam rumah. Nabi Muhammad singgah di rumah Abu Ayyub al-Anshari.

Abu Ayyub al-Anshari memiliki rumah tingkat. Nabi Muhammad tinggal di bawah, sedang keluarga Abu Ayyub al-Anshari tinggal di atas. Meskipun Abu Ayyub sudah mempersilakan Nabi Muhammad untuk tinggal di atas, tapi beliau memilih tinggal di bawah. Alasannya agar memudahkan siapa saja yang datang menemui beliau.

Terkait mukjizat makanan, Abu Ayyub al-Anshari bercerita demikian.

Suatu ketika Abu Ayyub al-Anshari menyediakan makanan untuk Nabi Muhammad dan Abu Bakar. Makanan itu hanya cukup untuk berdua saja. Namun Nabi Muhammad memerintahkan kepada Abu Ayyub al-Anshari agar memanggil 30 orang pemuka kaum Anshar. Kebingungan pun menyelimuti hati Abu Ayyub al-Anshari. Betapa tidak bingung, makanan yang hanya cukup untuk dua orang, harus mengundang orang sebanyak 30? Meskipun demikian, ia patuh pada perintah Nabi Muhammad. Ia undang 30 orang pemuka kaum Anshar. 

Ketika pemuka kaum Anshar yang diundang itu telah tiba, Nabi Muhammad mengajak makan bersama. Atas izin Allah, makanan yang sesungguhnya hanya cukup untuk dua orang, ternyata cukup dimakan oleh 32 orang, termasuk Nabi Muhammad dan Abu Bakar. Bahkan makanan tersebut masih sisa. 

Selesai makan, Nabi Muhammad memerintahkan lagi kepada Abu Ayyub al-Anshari agar mengundang 60 orang. Yang diundang pun datang. Mereka dipersilakan makan makanan yang ada, yang tidak habis dimakan 32 orang sebelumnya. Atas izin Allah, makanan itupun cukup dimakan oleh 60 orang, sampai mereka kenyang. Makanan pun masih sisa.

Kali ini Nabi Muhammad meminta kepada Abu Ayyub al-Anshari agar mengundang 70 orang yang lain (ada yang mengatakan 90 orang). Ketika mereka datang dan dipersilakan makan oleh Nabi Muhammad, lagi-lagi atas izin Allah, makanan itupun cukup.

Melihat kejadian tersebut, Abu Ayyub al-Anshari berkata dengan penuh takjub, "Subhanallah! Subhanallah!".

Pada lain kesempatan, mukjizat seperti itu dialami lagi. Makanan sedikit, cukup untuk orang banyak. Mujizat ini terjadi saat kaum muslim menggali parit sebagai pertahanan bagi prajurit muslim dalam menghadapi Perang Khandaq.

Setelah Nabi Muhammad mendapatkan informasi tentang pergerakan musuh, bahwa kaum Yahudi Bani Nadhir yang telah keluar dari Madinah dan menetap di Khaibar sudah bersekongkol dengan kaum kafir Quraisy dan orang-orang Ghathafan untuk menyerang kaum muslim di Madinah, maka Nabi Muhammad segera mengadakan rapat kilat. Rapat yang dihadiri oleh kaum muslimin baik dari Muhajirin maupun Anshar, menyepakati usulan Salman al-Farisi agar membuat parit untuk melindungi pasukan. 

Seperti diceritakan oleh Jabir bin Abdullah, ketika kaum muslim sedang menggali parit untuk pertahanan pasukan muslim dari serangan musuh, ia melihat Nabi Muhammad tampak kelaparan. Sejak tiga hari para penggali parit tersebut memang melaluinya tanpa ada makanan yang dapat dimakan. 

Jabir bin Abdullah meminta izin kepada Nabi Muhammad untuk pulang ke rumah. Sesampai di rumah, Jabir bin Abdullah menanyakan kepada istrinya apakah ada makanan yang bisa dihidangkan untuk Nabi Muhammad, karena beliau tampak sangat lapar. Istrinya menjawab bahwa ia memiliki gandum dan anak kambing.

Jabir bin Abdullah menyembelih kambing dan kemudian membuat adonan gandum hingga menjadi makanan dalam tungku. Ketika makanan itu mulai matang, Jabir bin Abdullah menemui Nabi Muhammad dan memberitahukan bahwa ia memiliki sedikit makanan. Untuk itu, ia berharap Nabi Muhammad bersama satu atau dua orang berkenan makan di rumahnya.

"Berapa banyak makanannya?", tanya Nabi Muhammad.

Jabir bin Abdullah memberitahu makanan yang ada di rumah, yang tak seberapa banyak.

"Tidak mengapa orang banyak datang", kata Nabi Muhammad. "Katakan pada istrimu, jangan ia angkat periuknya dan adonan roti dari tungku api hingga aku datang", lanjut beliau.

Setelah itu, Nabi Muhammad memerintahkan kepada para penggali parit agar datang ke rumah Jabir bin Abdullah untuk makan bersama. Betapa terperanjatnya Jabir bin Abdullah kala mendengar perkataan Nabi Muhammad. Ia sadar betul bahwa makanan di rumah tidak seberapa banyak, tidak akan cukup untuk makan seluruh penggali parit. 

Ketika tiba di rumah, Jabir bin Abdullah menemui istrinya dan memberitahu hal yang merisaukannya, yakni Nabi Muhammad akan datang bersama para Muhajirin, Anshar dan yang lain, yang turut menggali parit. Istrinya pun terkejut. Mereka bingung, tidak tahu apa yang harus dilakukan. Jabir bin Abdullah kemudian menyampaikan pesan Nabi Muhammad, yaitu agar jangan mengangkat periuk dan adonan roti dari tungku api.

Tatkala Nabi Muhammad dan para sahabat tiba, beliau langsung berkata, "Masuklah dan jangan berdesak-desakan".

Nabi Muhammad kemudian membagi-bagikan makanan yang ada kepada seluruh sahabat yang hadir, namun isi periuk masih seperti semula. Bahkan ketika mereka sudah merasa kenyang, isi periuk tidak berkurang. Padahal yang hadir dan makan ada 1.000 orang.


Daftar Acuan


Abdul Malik Ali Al Kulaib. 1992. Nubuwwah (Tanda-Tanda Kenabian). Jakarta: Gema Insani Press.

Abdurrahman Ra'fat Basya. 2010. Sirah Shahabat. Jakarta: Pustaka As-Sunnah.

Ali Muhammad Ash-Shallabi. 2018. Peperangan Rasulullah. Jakarta: Ummul Qura.

Amru Khalid. 2007. Jejak Sang Junjungan, Sebuah Narasi Sirah Populer. Solo: Aqwam.

K.H. Salim Bahraesy. 2002. Menyaksikan 35 Mukjizat Rasulullah SAW. Surabaya: Pustaka Progresif.

Manshur bin Nashir  Al-'Awaji. 2014. 45 Mukjizat Nabi. Solo: Kiswah Media.

Saiful Hadi El-Sutha. 2013. Muhammad, Jejak-Jejak Keagungan dan Teladan Abadi "Sang Nabi Akhir Zaman". Jakarta: As@-Prima.

Syaikh. Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri. 2008.Sirah Nabawiyah. Jakarta: Pustaka Al-Kautsar.

Senin, 15 November 2021

PEDANG UKASYAH BIN MIHSHAN

 


Api peperangan tetah menyala. Dua pasukan yang tak seimbang jumlahnya itu bertemu di Badar, nama suatu tempat di antara Makkah dan Madinah. Perang yang terjadi pada tahun kedua setelah Nabi Muhammad hijrah ke Madinah ini merupakan perang pertama bagi kaum muslim melawan kaum kafir Quraisy. Pasukan muslim yang berjumlah 313 orang (ada yang mengatakan 314 orang) harus berhadapan dengan pasukan kafir Quraisy yang berjumlah 1.000 orang.

Dentingan pedang beradu dengan pedang terdengar saling bersaut-sautan, terkadang berbarengan. Setelah berjalan sekian lama, tanda-tanda kekalahan pasukan kafir Quraisy mulai tampak. Sudah banyak korban yang jatuh karena serangan pasukan muslim yang gencar. 

Jatuhnya korban di pihak pasukan kafir Quraisy itu bukan semata-mata kerja keras dan kerja cerdas pasukan muslim. Ada campur tangan Allah dalam peperangan tersebut. Seusai meluruskan dan menata barisan pasukan muslim, Nabi Muhammad tak henti-hentinya memohon kemenangan kepada Allah, dan Allah mengabulkan permohonan Nabi-Nya. Dalam peperangan tersebut, Allah turunkan ribuan malaikat secara bertahap untuk membantu pasukan muslim yang jumlahnya tidak mencapai sepertiga dari jumlah pasukan kafir Quraisy.

 Melihat korban di pihak kafir Quraisy telah banyak yang berjatuhan, Abu Jahal sebagai panglima perang mengobarkan semangat kepada pasukannya agar tidak lari dari gelanggang pertempuran dan terus berjuang melawan pasukan muslim. 

Ketika perang sedang berlangsung dengan sengitnya, ada seorang tentara muslim yang pedangnya patah saat dipakai sebagai senjata perang. Dia adalah Ukasyah bin Mihshan, sahabat nabi yang termasuk golongan orang yang pertama masuk Islam atau as-sabiqunal awwalun. Meskipun demikan, ia tak patah semangat untuk tetap berjuang di jalan Allah. Ia tak ingin mundur dari medan laga. 

Ukasyah bin Mihshan menghadap Nabi Muhammad dan memberitahukan bahwa pedang miliknya patah. Untuk itu, ia memohon kepada beliau agar diberi pedang yang lain. Nabi Muhammad kemudian memberi sebilah kayu. 

"Berperanglah dengan menggunakan (kayu) ini, wahai Ukasyah!", kata Nabi Muhammad.

Diambillah kayu tersebut oleh Ukasyah bin Mihshan. Kayu kemudian digerak-gerakkan, seolah-olah ia sedang menggerak-gerakkan pedang. Di sinilah mukjizat itu terjadi. Kayu yang digerak-gerakkan itu berubah menjadi pedang panjang, berwarna putih, tajam, dan sangat kuat. Pedang ini kemudian diberi nama Al-Aun, yang berarti pertolongan Allah.

Ukasyah bin Mihshan maju ke medan perang lagi. Ia menerobos barisan musuh hingga kemenangan diraih oleh pasukan muslim. 

Seusai Perang Badar, pedang yang berasal dari kayu tadi disimpan oleh Ukasyah bin Mihshan. Selanjutnya, pedang tersebut selalu digunakan sebagai senjata oleh Ukasyah bin Mihshan saat perang terjadi lagi. Tatkala Abu Bakar menjadi khalifah, pedang tersebut juga digunakan oleh Ukasyah bin Mihshan sebagai senjata perang. Ia gugur sebagai syuhada dalam peperangan melawan kemurtadan di masa khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq.

 

 

 

DAFTAR ACUAN

 

 

 

Manshur bin Nashir Al-‘Awaji. 2014. 45 Mukjizat Nabi. Solo: Kiswah Media.

 

Martin Lings. 2018.  Muhammad, Kisah Hidup Nabi Berdasarkan Sumber Klasik. Cetakan Ke-3. Jakarta: PT Serambi Ilmu Semesta.

 

Syaikh Shafiyyurrahman Al-Mubarakfuri. 2014. Sirah Nabawiyah. Jakarta: Pustaka Al-Kautsar. 

 

Ummu Rumaisha. 2015. 77 Cahaya Cinta di Madinah: Kisah Cinta Paling Mengharukan Para Sahabat. Surakarta: Al Qudwah Publishing.

 

Sabtu, 13 November 2021

ABU JAHAL TERPEROSOK KE DALAM LUBANG JEBAKAN SENDIRI


Nama Abu Jahal tidaklah asing bagi kaum muslim. Ia merupakan tokoh kafir Quraisy yang sangat memusuhi Nabi Muhammad. Penyebabnya, ia tidak suka terhadap ajaran agama Islam yang dibawakan oleh Nabi Muhammad. Dakwah yang disampaikan oleh Nabi Muhammad dianggap menghina agama nenek moyangnya dan mencela tuhan-tuhan yang mereka sembah, serta dianggap merusak tatanan sosial di masyarakat.

Nama asli Abu Jahal adalah Amir bin Hisyam. Ia berasal dari Bani Makhzum. Menurut Wikipedia, Abu Jahal sebenarnya orang yang terkenal bijaksana dan cerdas, sehingga para tetua Quraisy sering meminta bantuan kepadanya ketika menghadapi masalah. Itulah sebabnya ia dijuluki Abu Al-Hakam yang berarti Bapak Kebijaksanaan oleh oang-orang Quraisy. Sayangnya, Amir bin Hisyam selalu memusuhi dan menolak dakwah yang disampaikan oleh Nabi Muhammad, sehingga ia justru dijuluki Abu Jahal 'Bapak Kebodohan' oleh beliau.

Berkali-kali Abu Jahal berusaha mempermalukan Nabi Muhammad baik secara psikis maupun fisik, akan tetapi semua itu diterima oleh Nabi Muhammad dengan penuh kesabaran. Tak hanya mempermalukan, berusaha mencelakakan Nabi Muhammad pun sering dilakukan oleh Abu Jahal, tapi setiap saat usahanya itu dilaksanakan, Nabi Muhammad selalu mendapat perlindungan Allah.

Sebetulnya Abu Jahal telah berkali-kali melihat dengan mata kepala sendiri mukjizat yang diberikan oleh Allah kepada Nabi Muhammad, tapi hatinya yang tertutup kebodohan, enggan mengakuinya. Mukjizat yang dilihatnya itu bahkan dianggap sebagai sihir Nabi Muhammad.

Tabiat buruk Abu Jahal terhadap Nabi Muhammad memang dikenal tak pernah henti. Kali ini, Abu Jahal telah menyusun rencana busuknya. Ia ingin membunuh Nabi Muhammad dengan cara menjerumuskan beliau ke dalam lubang jebakan. Rencana busuknya itu dilaksanakan dengan cara membuat lubang sedalam sumur di depan rumahnya. Setelah lubang itu selesai dibuat, mulut lubang itu ditutup dengan rumput kering, kemudian ditaburi pasir di atasnya supaya tidak kelihatan bahwa itu jebakan.

Setelah semua persiapan selesai, Abu Jahal menyuruh budaknya untuk menemui Nabi Muhammad dan mengabarkan bahwa dirinya sakit. Untuk melengkapi sandiwaranya, Abu Jahal tidur di atas ranjang, berpura-pura sakit.

Sebagai orang yang gemar menyambung tali silaturahmi dan mempunyai kasih sayang yang besar, begitu dikabari bahwa Abu Jahal sakit, Nabi Muhammad segera pergi menuju rumah Abu Jahal. Nabi Muhammad berusaha untuk menjenguk Abu Jahal yang dikabarkan sakit. Ini menunjukkan betapa mulianya hati Nabi Muhammad. Meskipun beliau tahu bahwa Abu Jahal selalu mempermalukan dirinya di depan umum, bahkan sering hendak mencelakakan, tapi beliau masih saja bersikap baik terhadap Abu Jahal.

Ketika langkah Nabi Muhammad telah dekat dengan rumah Abu Jahal, Malaikat Jibril memberi tahu tentang keadaan Abu Jahal yang sebenarnya. Abu Jahal tidaklah sakit kecuali hanya berpura-pura, dengan tujuan untuk mencelakakan beliau setibanya di rumah orang yang berhati dengki itu. 

Mengetahui hal yang sebenarnya, Nabi Muhammad pun mengurungkan niatnya untuk menjenguk Abu Jahal. Beliau membalikkan badan, hendak pulang ke rumah. Demi melihat Nabi Muhammad tidak jadi menjenguknya, tanpa pikir panjang Abu Jahal melompat dari tempat pembaringan dan bergegas menyusul Nabi Muhammad. Ia lupa, bahwa di depan rumahnya telah dibuat lubang jebakan yang dipersiapkan untuk menjebak Nabi Muhammad. Abu Jahal terperosol ke dalam lubang jebakan yang dibuatnya. Betul-betul senjata makan tuan.

Abu Jahal merintih kesakitan, Abu Jahal berteriak meminta tolong. Orang-orang kafir yang mendengar teriakan Abu Jahal, segera datang menghampirinya. Mereka berusaha menolongnya. Tali pun diulurkan ke dalam lubang untuk membantu mengangkat Abu Jahal. Ternyata, tali yang mereka ulurkan tidak sampai ke tangan Abu Jahal. Tali pun disambung. Meskipun demikian, tali masih belum bisa digapai oleh Abu Jahal. Abu Jahal posisinya makin terperosok ke dalam. Yang demikian terus berulang, walau tali telah berkali-kali disambung.

Rasa takut kian mencekam di hati Abu Jahal. Ia takut tak dapat keluar dari lubang jebakan yang dibuat sendiri.

"Hai, kawan-kawan! Tolong susul Muhammad. Suruh dia datang ke sini untuk menolongku", teriak Abu Jahal dari dalam lubang.

Nabi Muhammadpun disusul dan dimintai pertolongan. Beliau bersedia kembali ke rumah Abu Jahal.

"Pamanku, apabila aku berhasil menyelamatkan paman dari dalam lubang ini, apakah paman bersedia beriman kepada Allah dan Rasul-Nya?", tanya Nabi Muhammad kepada Abu Jahal ketika telah sampai di dekat lubang jebakan.

"Ya, aku bersedia!", balas Abu Jahal dari dalam lubang.

Nabi Muhammad mengulurkan tangan ke dalam lubang jebakan. Tanpa tali. Anehnya, meskipun tanpa menggunakan bantuan tali, tangan Nabi Muhammad dapat digapai oleh Abu Jahal. Abu Jahal betul-betul dapat keluar dari lubang jebakan hanya dengan uluran tangan. Itulah tanda kekuasaan Allah yang diberikan kepada Nabi Muhammad.

Apakah setelah keluar dari lubang jebakan, Abu Jahal lalu beriman? Ternyata kekafiran telah menutupi hatinya.

"Muhammad, hebat benar sihirmu".

Itulah kata-kata yang keluar dari mulut Abu Jahal setelah berhasil diselamatkan oleh Nabi Muhammad. Janjinya ia ingkari.

Dengan adanya peristiwa tersebut, Nabi Muhammad kemudian bersabda, "Barang siapa yang menggali lubang untuk mencelakakan saudaranya yang muslim, maka niscaya ia yang akan terperosok ke dalamnya".

 

 

Daftar Acuan

 

 

Fuad Kauma. 2000. 50 Mukjizat Rasulullah. Jakarta: Gema Insani.

Yanuar Arifi. 2014. Mereka Memilih Jalan Kesesatan. Jogjakarta: Diva Press.

https://id.wikipedia.org/wiki/Amr_bin_Hisyam

Kamis, 11 November 2021

ISRA' MI'RAJ

       

Dakwah Islam yang dilakukan oleh Nabi Muhammad di Makkah adalah periode dakwah yang sangat pahit dan getir. Nabi Muhammad dan pengikutnya sering mendapat ancaman, siksaan, dan penindasan. Hal ini disebabkan dakwah yang disampaikan oleh Nabi Muhammad dianggap menghina tuhan-tuhan yang mereka sembah, dan dianggap merusak tatanan sosial di masyarakat. Beruntung Nabi Muhammad dilindungi oleh pamannya, Abu Thalib, orang terpandang dan paling disegani di Makkah kala itu. Jadi, meskipun kebencian kaum kafir Quraisy kepada Nabi Muhammad sampai ke ubun-ubun, mereka tidak berani mencelakai atau membunuh beliau. Mereka merasa segan dan takut kepada Abu Thalib. Para pengikut Nabi Muhammadlah yang sering mendapat siksaan dari kaum kafir Quraisy agar orang-orang tersebut mau kembali ke agama semula. Terlebih jika pengikut Nabi Muhammad itu orang miskin atau budak, maka penyiksaan yang dilakukan oleh kaum kafir Quraisy sampai di luar batas kemanusiaan seperti yang dialami oleh Bilal.

Tak berhasil menghentikan dakwah yang dilakukan oleh Nabi Muhammad, kaum kafir Quraisy berupaya melakukan pendekatan kepada Abu Thalib. Mereka meminta kepada Abu Thalib agar mau menghentikan dakwah yang dilakukan oleh Nabi Muhammad. Upayanya itu ditolak secara halus oleh Abu Thalib. Pada lain waktu mereka datang lagi kepada Abu Thalib dengan mengajukan pilihan: Abu Thalib yang menghentikan dakwah yang dilakukan oleh Nabi Muhammad, atau mereka sendiri yang akan mengambil tindakan terhadap keponakan Abu Thalib itu.

Ancaman kaum kafir Quraisy kepada Abu Thalib bukan sekedar gertakan. Mereka betul-betul membuktikan keseriusan ancamannya. Mereka melakukan boikot terhadap Nabi Muhammad dan para pengikutnya. Bahkan Bani Hasyim dan Bani Muththalib yang merupakan klan yang menurunkan Nabi Muhammad, juga turut diboikot. Kelompok mereka melarang melakukan transaksi jual beli, berteman, menikah, berinteraksi, maupun melakukan perjanjian damai dengan kelompok orang-orang yang sedang diboikot. Pengumuman pemboikotan digantungkan di dinding Ka'bah. Pemboikotan ini berlangsung selama dua atau tiga tahun, dan baru berhenti setelah ada upaya penghentian oleh sebagian kaum kafir Quraisy yang tidak tega melihat penderitaan orang-orang yang diboikot.

Beberapa bulan setelah pemboikotan berakhir, Abu Thalib meninggal dunia. Peristiwa ini terjadi pada tahun kesepuluh kenabian. Padahal, pamannya inilah yang selama ini melindungi beliau. Masih pada tahun yang sama, istrinya, Siti Khatijah, yang selalu setia meringankan beban-beban, kesedihan, dan kegelisahan Nabi Muhammad, juga meninggal dunia. 

Kematian paman dan istrinya dalam jangka waktu yang berdekatan menjadi pukulan berat bagi Nabi Muhammad. Terlebih, sejak kematian dua orang tersebut, kaum kafir Quraisy makin berani melakukan kekerasan kepada Nabi Muhammad. Pada masa-masa sulit itulah Allah berkehendak memperjalankan Nabi Muhammad dalam sebuah wisata spiritual yang sangat agung, yakni isra' dan mi'raj.

Isra' adalah perjalanan Nabi Muhammad dari Masjidil Haram di Makkah, ke Masjidil Aqsha di Palestina. Sementara mi'raj adalah naiknya Nabi Muhammad menembus lapisan langit tertinggi sampai batas yang tidak dapat dijangkau oleh akal manusia. Isra' mi'raj dilakukan pada malam hari dan ditempuh dalam tempo satu malam sejak keberangkatannya hingga kembali ke Makkah. Hikmah Allah memperjalankan Nabi Muhammad dari Makkah ke Masjidil Aqsha dan kemudian naik ke langit tertinggi adalah untuk menambah kekuatan iman dan keyakinan beliau sebagai utusan Allah yang memiliki kewajiban menyampaikan risalah-Nya di tengah-tengah umat manusia.

S. Anwar Effendie dalam bukunya berjudul Isra' Mi'raj, Perjalanan Ruang Waktu dalam Kaitannya dengan Penciptaan Alam Raya menyebutkan bahwa peristiwa isra' mi'raj sejak awal sejarahnya telah menimbulkan perbedaan pendapat di antara para ahli. Perbedaan pendapat itu dalam garis besarnya terbagi menjadi empat kelompok, yakni:
1. Kelompok yang menyatakan bahwa isra' mi'raj dilakukan oleh Nabi Muhammad dengan roh dan jasadnya. Pendapat ini diyakini oleh golongan ulama salaf. Keyakinan itu didasarkan pada keimanan, dengan pemikiran, Allah adalah Maha Pencipta, maka bila dikehendaki, segala sesuatu dapat terjadi.
2. Kelompok yang menyatakan bahwa isra' mi'raj hanya dengan roh. Pendapat ini diyakini oleh golongan Mu'tazilah yang menganggap bahwa segala masalah harus dapat dipecahkan dengan akal. Tak masuk akal jasad dapat mengarungi langit begitu cepat.
3. Kelompok yang menyatakan bahwa isra' dilakukan dengan roh dan jasadnya, sedangkan mi'raj dilakukan hanya dengan roh. Pendapat ini tidak banyak penganutnya.
4. Kelompok yang menyatakan bahwa isra' mi'raj adalah mimpi khusus yang dianugerahkan oleh Allah kepada Nabi Muhammad. Seperti halnya kelompok ketiga, kelompok ini juga tidak banyak penganutnya.

Terkait dengan adanya perbedaan pendapat tentang isra' mi'raj, Imam al-Qusyairi mengatakan bahwa para pengikut kebenaran sepakat bahwa Nabi Muhammad mi'raj dengan roh dan jasadnya. Alam ini ada karena ada yang mengadakan, yakni Zat Yang Mahaagung dan Mahakuasa. Jika Zat Yang Mahaagung dan Mahakuasa berkuasa mengadakan alam, tentu berkuasa pula memperjalankan hamba pilihan-Nya ke luar angkasa.

Perjalanan isra' mi'raj dimulai dari Masjidil Haram menuju Masjidil Aqsha dengan mengendarai buraq, yakni seekor binatang berwarna putih yang lebih tinggi dari keledai, tapi lebih rendah dari kuda. Sesampai di Masjidil Aqsha, beliau lalu melaksanakan shalat dan mengimami para nabi yang lain

Dari Masjidil Aqsha, Nabi Muhammad naik ke langit yang bertingkat-tingkat. Di setiap langit, beliau bertemu dengan nabi-nabi sebelumnya. Di langit pertama, beliau bertemu dengan Nabi Adam. Kemudian naik ke langit kedua, bertemu dengan Nabi Isa dan Nabi Yahya. Selanjutnya naik ke langit ketiga, bertemu dengan Nabi Yusuf. Naik lagi ke langit keempat, bertemu dengan Nabi Idris. Dari langit keempat beliau meneruskan perjalanan menuju ke langit kelima, di sini beliau bertemu dengan Nabi Harun. Di langit keenam, beliau bertemu dengan Nabi Musa, sedang di langit ketujuh bertemu dengan Nabi Ibrahim.

Dari langit ketujuh, Nabi Muhammad naik lagi hingga sampai di Sidratul Muntaha. Di sini, Nabi Muhammad bertemu dan melihat Allah secara langsung yang tidak bisa beliau lukiskan dengan kata-kata dan diluar jangkauan otak manusia. Dalam pertemuan tersebut, Allah mewajibkan kepada Nabi Muhammad dan umat Islam agar menjalankan shalat sebanyak 50 kali dalam sehari semalam. 

Setelah mendapatkan perintah demikian, Nabi Muhammad turun dari Sidratul Muntaha dan bertemu dengan Nabi Musa.  

"Apa yang diperintahkan Allah kepadamu?", tanya Nabi Musa.  

"Aku diperintahkan shalat sebanyak 50 kali dalam sehari semalam", jawab Nabi Muhammad.

"Umatmu tidak akan mampu melaksanakannya. Mohonlah keringanan kepada Allah", saran Nabi Musa.

Nabi Muhammad mengikuti saran Nabi Musa. Beliau kembali menghadap Allah di Sidratul Muntaha dan memohon keringanan. Allah memberikan keringanan, jumlah shalat dikurangi 10. 

Nabi Muhammad turun lagi dan bertemu kembali dengan Nabi Musa. Nabi Musa menanyakan hasil permohonan Nabi Muhammad kepada Allah. Setelah mendapat jawaban, Nabi Musa menyarankan lagi kepada Nabi Muhammad agar kembali menghadap Allah untuk memohon keringanan lagi. Demikian, Nabi Muhammad bolak-balik menghadap Allah dan bertemu dengan Nabi Musa hingga Allah memberikan keringanan shalat sebanyak 5 kali dalam sehari semalam, tapi pahalanya sama dengan pahala shalat 50 kali.

Setelah mendapat perintah shalat 5 kali dalam sehari semalam, Nabi Muhammad turun dari langit menuju Masjidil Aqsha. Dari Masjidil Aqsha, beliau melanjutkan perjalanan pulang ke Makkah. Sebelum subuh, Nabi Muhammad telah tiba di Makkah.

Pagi harinya, Nabi Muhammad menceritakan perjalanan isra' mi'raj-nya kepada orang-orang. Tentu saja mereka tidak memercayai cerita yang disampaikan oleh Nabi Muhammad, meskipun beliau dapat menjawab dengan benar apa yang mereka tanyakan, seperti bagaimana bentuk Masjidil Aqsha, berapa jumlah pintunya, bagaimana keadaan di sekelilingnya, dan berapa jauh jarak antara Masjidil Aqsha dengan gunung yang ada di dekatnya. Dasar yang dipakai oleh mereka untuk menolak kebenaran isra' mi'raj adalah nalar manusia. Menurut logika, perjalanan dari Makkah ke Masjidil Aqsha saja tidak mungkin bisa dilakukan manusia dalam waktu semalam dengan kendaraan yang ada pada waktu itu, seperti unta, keledai, bagal, maupun kuda; apalagi ini sampai ke langit. Di antara orang-orang kafir Quraisy, ada yang mengatakan bahwa dirinya pernah ke Masjidil Aqsha dengan mengendarai unta, lama perjalanannya satu bulan. Demikian juga pulangnya, lama perjalanannya juga satu bulan. Jadi, menurut mereka, mustahil hanya ditempuh dalam tempo satu malam.

Bagi kaum kafir Qiraisy, isra' mi'raj merupakan senjata untuk menuduh Nabi Muhammad sebagai orang gila, dan menjadikan sebagai bahan hinaan dan olok-olokan. Akan tetapi bagi Nabi Muhammad, isra' mi'raj justru menjadi penguat tekad dan keyakinan beliau dalam menegakkan agama Islam. Sementara bagi kaum muslim, isra' mi'raj merupakan ujian, apakah mereka beriman dan percaya kepada kejadian menakjubkan dan di luar akal manusia, atau justru sebaliknya. Abu Bakarlah orang yang langsung memercayai cerita Nabi Muhammad yang telah melakukan perjalanan jauh hingga bermil-mil dalam tempo satu malam. Itulah sebabnya Abu Bakar diberi gelar Ash-Shidiq, artinya yang membenarkan.

Peristiwa perjalanan Nabi Muhammad tersebut diabadikan dalam Al-Qur'an Surat Al-Isra' ayat 1:

Maha suci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha, yan telah kami berkahi  sekelilingnya agar kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) kami. Sesungguhnya dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. 



Daftar Acuan

 
 
Amru Khalid. 2007. Jejak Sang Junjungan, Sebuah Narasi Sirah Populer. Solo: Aqwam.

Ath-Thabari. 2019. Muhammad di Makkah dan Madinah. Yogyakarta: Ircisod.

Fuad Kauma. 2000. 50 Mukjizat Rasulullah. Jakarta: Gema Insani.

Imam al-Qusyairi. 2006. Kisah & Hikmah Mikraj Rasulullah. Jakarta: PT Serambi Ilmu Semesta.

Martin Lings. 2018. Muhammad, Kisah Hidup Nabi Berdasarkan Sumber Klasik. Cetakan Ke-3. Jakarta: PT Serambi Ilmu Semesta.

Muhammad Sa’id Ramadhan Al-Buthy. 2006. Sirah Nabawiyah, Analisis Ilmiah Manhajiah Sejarah Pergerakan Islam di Masa Rasulullah SAW. Jakarta: Robbani Press.

Mushtafa As-Siba’i. 2014. Shirah Nabawiyah. Surakarta: Indiva.

Nizar Abazhah. 2014. Sahabat Muhammad, Kisah Cinta dan Pergulatan Iman Generasi Muslim. Jakarta: Zaman.

S. Anwar Effendie. 1993. Isra' Mi'raj, Perjalanan Ruang Waktu dalam Kaitannya dengan Penciptaan Alam Raya. Jakarta: PT Pradnya Paramita.

Saiful Hadi El-Sutha. 2013. Muhammad: Jejak-Jejak Keagungan dan Teladan Abadi “Sang Nabi Akhir Zaman”. Jakarta: As@-prima Pustaka.

Syaikh Shafiyyurrahman Al-Mubarakfuri. 2014. Sirah Nabawiyah. Jakarta: Pustaka Al-Kautsar.

Taufik Rahman.1990. Kisah dan Hikmah Isra Mi’raj. Bandung: Husaini

Ust. Maftuh Ahnan Asy. 2001. Kisah Kehidupan Nabi Muhammad SAW. (Rahmatan Lil ‘Alamiin). Surabaya: Terbit Terang.

Jumat, 05 November 2021

MENGEMBALIKAN BOLA MATA QATADAH BIN NU’MAN YANG TERBURAI


 

Muhammad sebagai utusan Allah, memiliki banyak mukjizat. Di antara mukjizat yang dimiliki oleh Nabi Muhammad adalah dapat mengembalikan bola mata Qatadah bin Nu’man yang terburai akibat terkena panah saat mengikuti Perang Uhud.

Disebut Perang Uhud, karena perang ini berlangsung di dekat Bukit Uhud, sebuah bukit yang berada di sebelah utara Madinah dengan jarak 5,5 km. dari Masjid Nabawi. Perang ini terjadi pada bulan Syawal tahun ketiga setelah Nabi Muhammad hijrah ke Madinah. Ada beberapa faktor pemicu terjadinya Perang Uhud. Ali Muhammad Ash-Shallabi mencatat setidaknya ada empat faktor. Pertama, faktor agama. Kaum kafir Quraisy berusaha menghalang-halangi orang memeluk agama Islam. Kedua, faktor sosial. Kekalahan dan banyaknya pemimpin kafir Quraisy yang terbunuh pada Perang Badar, menyebabkan api dendam kepada Nabi Muhammad dan kaum muslim kian membara. Ketiga, faktor ekonomi. Pergerakan ekspansi yang dilakukan oleh kaum muslim membawa dampak perekonomian bagi kaum kafir Qurisy karena jalur perdagangan mereka terblokade. Keempat, faktor politik. Akibat kekalahan yang dialami saat Perang Badar, kedaulatan Quraisy runtuh. Kedudukannya sebagai pemimpin di antara kabilah-kabilah semakin terguncang, sehingga harus ada upaya untuk memulihkan dan mempertahankan kepemimpinannya, meskipun harus mengeluarkan banyak tenaga, materi, dan pengorbanan.

Dalam Perang Uhud, pasukan kafir Quraisy yang turut berperang berjumlah tidak kurang dari 3.000 prajurit, sedangkan pasukan muslim hanya 700 prajurit. Awalnya, prajurit muslim sebetulnya berjumlah 1.000 orang, namun di tengah jalan, 300 orang munafik di bawah pimpinan Abdullah bin Salul memisahkan diri dari pasukan muslim, kembali ke Madinah.

Dalam menghadapi pasukan kafir Quraisy yang jumlahnya empat kali lipat lebih banyak dari pasukan muslim, Nabi Muhammad menyusun strategi jitu. Strategi tersebut adalah: memilih tempat yang tepat; menunjuk siapa saja yang layak untuk berperang, dan mengembalikan siapa saja yang belum layak ikut perang; memilih 50 orang pemanah dan memberi wasiat kepada mereka; membagi pasukan menjadi tiga regu dan memberikan panji kepada salah seorang di semua regu. Rasulullah juga berwasiat agar pasukannya jangan meninggalkan tempat sampai beliau mengizinkan untuk meninggalkan tempat tersebut; dan jangan sampai ada seorang pun yang memulai penyerangan sebelum beliau memerintahkan untuk menyerang.

Pada awal berkecamuknya perang, pasukan muslim yang berada di atas bukit berhasil memukul mundur pasukan kafir Quraisy yang dipimpin oleh Khalid bin Walid[1]). Pasukan kafir Quraisy lari meninggalkan gelanggang perang. Harta benda milik mereka diinggalkan begitu saja. Pasukan muslim bergembira melihat banyak harta rampasan perang yang ditinggalkan oleh pemiliknya di lembah Uhud. Pasukan muslim tergiur untuk mengambil harta benda yang kini tak bertuan itu. Banyak di antara mereka yang tidak menghiraukan lagi wasiat Nabi Muhammad agar tidak meninggalkan tempat. Mereka tidak tahu bahwa semua itu merupakan strategi Khalid bin Walid sebagai panglima perang kafir Quraisy untuk memukul balik pasukan muslim.

Tatkala pasukan muslim tengah bergembira mengambil harta yang mereka inginkan, pasukan musuh tiba-tiba muncul kembali, menyerang pasukan muslim. Akibatnya, pasukan muslim kocar-kacir menghadapi serangan mendadak. Nabi Muhammad terkepung pasukan musuh. Beberapa sahabat yang posisinya dekat dengan Nabi Muhammad, berusaha melindungi beliau. Abu Dajanah yang berada di depan Nabi Muhammad, berusaha menjadi perisai bagi beliau. Dengan punggung ke arah musuh, Abu Dajanah melindungi Nabi Muhammad dari anak panah – anak panah yang melesat dari busur tentara kaum kafir Quraisy. Tak pelak, banyak anak panah yang menancap di punggung Abu Dajanah. Sahabat yang lain turut melindungi Nabi Muhammad dari serangan musuh. Sementara Qatadah bin Nu’man yang saat itu juga turut melindungi Nabi Muhammad, tiba-tiba matanya terkena bidikan panah hingga bola matanya terburai.

 Ketika Nabi Muhammad dikira sudah wafat dalam perang tersebut, tentara kafir Quraisy kemudian menghentikan serangan. Perang pun usai. Setelah orang-orang kafir Quraisy kembali ke Makkah, pasukan muslim kemudian mencari orang-orang yang mati terbunuh dan yang terluka.  

Mengetahui Qatadah bin Nu’man bola matanya terburai, Nabi Muhammad dengan cepat mengembalikan bola mata yang keluar dari tempatnya, seraya berdoa, “Ya Allah, jagalah mata Qatadah sebagaimana ia melindungi nabi-Mu, dan kembalikanlah matanya lebih elok dan lebih tajam”.

Dalam sekejap, mata Qatadah bin Nu’man kembali seperti sedia kala. Tidak ada luka. Qatadah bin Nu’man terkejut melihat kejadian yang dialaminya, sekaligus bersyukur kepada Allah. Setelah itu, mata Qatadah bin Nu’man menjadi lebih tajam dan lebih indah dari sebelumnya.

 

 

Daftar Acuan

 

 

Ali Muhammad Ash-Shallabi. 2018. Peperangan Rasulullah. Jakarta: Ummul Qura.

 

Drika Zein. 2012. Mukjizat Nabi Muhammad. Sleman – Yogyakarta: Wanajati Chakra Renjana.

 

Fuad Kauma. 2000. 50 Mukjizat Rasulullah. Jakarta: Gema Insani.

 

K.H. Moenawar Chalil. 1983. Kelengkapan Tarikh Nabi Muhammad SAW. Jilid II B. Cetakan ke-4. Jakarta: Bulan Bintang.

 

Manshur bin Nashir Al-‘Awaji. 2014. 45 Mukjizat Nabi. Solo: Kiswah Media.

 

Saiful Hadi El-Sutha. 2013. Muhammad: Jejak-Jejak Keagungan dan Teladan Abadi “Sang Nabi Akhir Zaman”. Jakarta: As@-prima Pustaka.

 

Sitiatava Rizema Putra. 2014. Perang-Perang dalam Sejarah Islam. Yogyakarta: Ircisod.

 

Syaikh Shafiyyurrahman Al-Mubarakfuri. 2014. Sirah Nabawiyah. Jakarta: Pustaka Al-Kautsar

 

Ummu Rumaisha. 2015. 77 Cahaya Cinta di Madinah: Kisah Cinta Paling Mengharukan Para Sahabat. Surakarta: Al Qudwah Publishing.






[1]) Saat terjadi Perang Uhud, Khalid bin Walid masih kafir. Ia masuk Islam pada tahun 8 Hijriah, saat Perjanjian Hudaibiyah.