Senin, 19 Januari 2026

TASIK ARDI: Tlaga Gawean Umure Atusan Taun

 

Cover Majalah Jaya Baya, Nomor 21, Minggu IV, Januari 2026


Majalah Jaya Baya, Nomor 21, Minggu IV, Januari 2026, halaman 25.




Salinan dari tulisan di atas

 

Nalika aku sakulawarga niliki anak mbarep ing Kutha Serang, diajak dolan menyang papan wisata Tasik Ardi kang dumunung ing Desa Margasana, Kecamatan Kramatwatu, Kabupaten Serang, Provinsi Banten. Udakara setengah jam numpak mobil suwene nempuh laku saka Kutha Serang.

Saka katrangan tinulis ing plang kang tumancep ing pinggiring Tasik Ardi, tlaga iki digawe ing jaman Sultan Maulana Yusuf kang jumeneng wiwit 1570 nganti tekan 1580. Dununge ing sisih kidul wetane Kraton Surosowan, punjering paprentahan Kasultanan Banten.

Sakawit, tlaga mau digawe minangka pisungsung marang ibune Sultan Maulana Yusuf kanggo tafakur ing pulo kang ana ing satengahing tlaga sing diarani Kaputren. Tasik Ardi uga dienggo papan plesiran kulawarga Kasultanan Banten lan nampa tamu kasultanan. Tumrape para tani, Tasik Ardi mujudake papan kanggo nyimpen banyu saka kali Cibanten kang banjur diilekake menyang sawah-sawah ing sacedhake tlaga. Banyu saka Tasik Ardi uga wigati banget tumrap sumber banyu resik kanggo kabutuhaning kulawarga kasultanan.  Ing sarehning tlaga mau yasane Sultan Banten, mula ora jeneng aneh yen Tasik Ardi cinathet minangka Benda Cagar Budaya kanthi nomer: SK 139/M/1998 tanggal 16 Juni 1998.

Pulo ing satengahing tlaga Tasik Ardi (Foto: Mulyono Atmosiswartoputra).


Tasik Ardi pancen katon prasaja. Senajan mangkono, ing dina Minggu, sing padha teka katon akeh. Kacihna mobil pengunjung padha ngebaki papan parkir. Sajake, ramene papan iki jalaran cedhak karo Masjid Agung Banten lan bekas Kraton Surosowan apa dene Kraton Kaibon. Mbokmanawa wong-wong mau pancen mesisan njujug papan-papan tinggalane Kasultanan Banten.

Tlaga Tasik Ardi jembare kurang luwih 6,5 hektar lan dhasare nganggo bata. Saka Kraton Surosowan, dohe kira-kira 2 kilometer, dene yen saka dalan gedhe Serang - Cilegon, dohe kira-kira sakilometer. Ing pulo kang ana ing satengahing tlaga, ana tilas telung bangunan, yaiku bangunan turap, blumbang, lan turahan-turahan pondhasi.   

Taun 1706, Sultan Banten tau nampa tamu Landa aran Cornelis de Bruin ing papan iki. Nalika Daendels gawe dalan saka Merak menyang Karangantu, tlaga iki ora diterak dalan sing dibangun.

Yen biyen Tasik Ardi mligi dienggo papan plesiran tumraping kulawarga Kasultanan Banten, ing jaman saiki papan iki dadi plesirane wong akeh. Tumrap sing ora nggawa panganan utawa unjukan, ora susah kuwatir ngelih utawa ngelak, jalaran ing kene akeh wong dodolan. Mung wae, akeh-akehe padha milih dodolan sacedhake lawang mlebu tlaga utawa sacedhake parkiran. Ewa samono, ana uga bakul sing wani gawe warung misah rada adoh karo kanca-kancane. Mbomenawa pancen kanggo njagani yen ana wong sing padha wani ngubengi tlaga.

Sing dodolan ing pinggiring tlaga, cedhak lawang mlebu Tasik Ardi  (Foto: Mulyono Atmosiswartoputra).

Sing kepengin ngubengi tlaga lumantar sandhuwuring banyu, ing papan iki uga ana sing nyewakake prau bebek. Tumrap sing kepengin nyawang pulo saka cedhak sing ana ing tengahing tlaga, nyewa prau bebek mujudake cara sing paling gampang tumuju ing papan mau, jalaran ora ana kreteg sing bisa nglantarake menyang papan kuwi. 

Mulyono Atmosiswartoputra

 

 

 

 

 








Jumat, 21 November 2025

HIDANGAN YANG TURUN DARI LANGIT

 

Dalam Al-Qur’an ada surat yang bernama Al-Maidah yang berarti “hidangan”. Penamaan surat ke-5 dalam Al-Qur’an tersebut merupakan bentuk pengabadian mukjizat Nabi Isa, yakni hidangan yang bukan dibuat oleh manusia, melainkan turun dari langit. Kisahnya termuat dalam Surat Al-Maidah ayat 112-115.

112.  (Ingatlah) ketika pengikut-pengikut Isa berkata, “Hai Isa putra Maryam, bersediakah Tuhanmu menurunkan hidangan dari langit kepada kami?” Isa menjawab, “Bertakwalah kepada Allah jika betul-betul kamu orang yang beriman”.

113.  Mereka berkata. “Kami ingin memakan hidangan itu dan supaya tenteram hati kami, dan supaya kami yakin bahwa kamu telah berkata benar kepada kami, dan kami menjadi orang-orang yang menyaksikan hidangan itu”.

114.  Isa putra Maryam berdoa. “Ya Tuhan kami, turunkanlah kiranya kepada kami suatu hidangan dari langit (yang hari turunnya) akan mejadi hari raya bagi kami, yaitu bagi orang-orang yang bersama kami dan yang datang sesudah kami, dan menjadi tanda bagi kekuasaan Engkau; beri rezekilah kami, dan Engkaulah pemberi rezeki yang paling utama”.

115.  Allah berfirman, “Sesungguhnya Aku akan menurunkan hidangan itu kepadamu; barang siapa yang kafir di antaramu sesudah (turun hidangan itu), maka sesungguhnya Aku akan menyiksanya dengan siksaan yang tidak pernah Aku timpakan kepada seorang pun di antara umat manusia”.

Nabi Isa adalah nabi yang diutus kepada Bani Israil. Ia lahir dari seorang gadis suci yang belum pernah disentuh laki-laki, Maryam namanya. Ia mengandung dan melahirkan anak tanpa ayah memang kehendak Allah.

Isa diutus sebagai nabi pada usia 30 tahun. Ia menerima tugas tersebut di Bukit Zaitun. Setelah diutus oleh Allah, Nabi Isa kemudian menyampaikan ajaran Allah kepada Bani Israil yang sudah menyimpang dari ajaran Nabi Musa. Seperti halnya nabi-nabi lain, kaumnya pun ada yang mau menerima dan tidak sedikit yang menolak ajakan Nabi Isa agar tidak memutarbalikkan hukum-hukum yang telah diturunkan Allah.

Selama menjadi nabi, Isa diberi banyak mukjizat oleh Allah, seperti membuat benda dari tanah yang berbentuk seperti burung lalu ditiupnya benda tersebut dan jadilah ia seekor burung; dapat menyembuhkan orang yang buta sejak lahir; dapat menyembuhkan orang yang berpenyakit sopak (kusta); dapat menghidupkan orang mati atas izin Allah; dan mengetahui rahasia yang dimakan dan disimpan oleh orang lain. Bahkan ia bisa berbicara dengan orang lain saat masi dalam buaian

Mukjizat lain yang dimiliki oleh Nabi Isa adalah turunnya hidangan dari langit. Mukjizat yang dijadikan sebagai nama surat dalam Al-Qur’an ini bermula ketika para pengikut setia Nabi Isa, yakni orang-orang Hawariyun, meminta satu bukti kekuasaan Allah kepada Nabi Isa, sekaligus bukti penguat tentang kebenaran dan kedekatannya dengan Allah.

Orang-orang Hawariyun berkata, “Hai Isa putra Maryam, bersediakah Tuhanmu menurunkan hidangan dari langit kepada kami?” 

Mendengar permintaan orang-orang Hawariyun, Nabi Isa menjawab, “Bertakwalah kepada Allah jika betul-betul kamu orang yang beriman”.

“Kami ingin memakan hidangan itu dan supaya tenteram hati kami, dan supaya kami yakin bahwa kamu telah berkata benar kepada kami, dan kami menjadi orang-orang yang menyaksikan hidangan itu”.

Mendapat desakan para pengikutnya, Nabi Isa akhirnya mengabulkan permohonan mereka. Nabi Isa kemudian berdoa kepada Allah, memohon agar berkenan menurunkan hidangan dari langit.

“Ya Tuhan kami, turunkanlah kiranya kepada kami suatu hidangan dari langit (yang hari turunnya) akan menjadi hari raya bagi kami, yaitu bagi orang-orang yang bersama kami, dan menjadi tanda bagi kekuasaan Engkau. Beri rezekilah kami, dan Engkaulah pemberi rezeki yang paling utama”.

Allah sebagai Dzat Maha Pengasih, berkenan mengabulkan permohonan Nabi Isa untuk para pengikut setianya.

Allah berfirman, “Sesungguhnya Aku akan menurunkan hidangan itu kepadamu.

Namun demikian, Allah mengancam kepada orang-orang Hawariyun, jika di antara mereka ada yang ingkar dan tidak pandai bersyukur kepada-Nya, maka Allah akan memberikan siksaan yang tidak pernah diberikan kepada umat sebelumnya sebagaimana disebut dalam Surat Al-Ma’idah ayat 115.

Barang siapa yang kafir di antaramu sesudah (turun hidangan itu), maka sesungguhnya Aku akan menyiksanya dengan siksaan yang tidak pernah Aku timpakan kepada seorang pun di antara umat manusia”.

Tentang permintaan orang-orang Hawariyun, menurut Ibnu Katsir, sebagian ulama mengatakan bahwa mereka meminta hidangan itu adalah untuk memenuhi kebutuhan dan karena kemiskinannya. Akan tetapi Ibnu Katsir sendiri dalam tafsirnya  menerangkan tentang turunnya hidangan tersebut dari riwayat Ibnu Abbas, Salman al-Farisi, Ammar bin Yasar dan beberapa ulama salaf lainnya bahwa Nabi Isa telah memerintahkan pengikutnya, orang-orang Hawariyun, untuk melaksanakan ibadah puasa. Mereka meminta kepada Nabi Isa agar Tuhan menurunkan hidangan makanan dari langit sebagai makanan dan santapan bagi mereka, sehingga mereka menjadi tenang, karena Allah telah menerima amal ibadah puasa mereka selama tiga puluh hari dan juga mengabulkan permohonan mereka. Selain itu, menurut mereka, hidangan itu dapat menjadi hidangan mereka di hari raya yang dapat mencukupi segala kebutuhan mereka, baik untuk orang dewasa maupun anak kecil, laki-laki maupun perempuan, orang kaya maupun miskin dan sebagainya.

 

Daftar Acuan 

 

Departemen Agama RI. 2004. Al-Qur'an dan Terjemahan-nya: Al-Jumanatul 'Ali, Seuntai Mutiara yang Mahaluhur. Bandung: J-Art

Ibnu Katsir. 2015. Qishashul Anbiya’ (Kisah Para Nabi). Terjemahan: Moh. Syamsi Hasan. Surabaya: Amelia..

Labib MZ. dan Maftuh Ahnan. 1983. Mutiara Kisah 25 Nabi Rasul. Gresik: CV. Bintang Pelajar.

Muhammad Ali Ash-Shabuny. 2002. Cahaya Al-Qur’an, Tafsir Tematik Surat Al-Baqarah - Al-An’am. Jilid 1. Cetakan ke-2. Jakarta: Pustaka Al-Kautsar.

Octavia Pramono. 2013. Mereka Tak Pernah Mati, Kisah Orang-orang Sholeh yang Dihukum Mati & yang Terbunuh. Bantul-Yogyakarta: In Azna Books.

Siti Zainab Luxfiati. 2007. Cerita Teladan 25 Nabi. Jilid 2. Jakarta: Dian Rakyat.

https://www.facebook.com/notes/mulyono-atmosiswartoputra/al-maidah-hidangan/10208214563983993/

Selasa, 18 November 2025

Pembunuhan Pertama di Dunia


 

Nabi Adam dan Hawa pada mulanya hidup di surga. Di tempat tersebut sesungguhnya mereka tidak kelaparan, tidak telanjang, tidak merasa haus, dan tidak pula terpapar sinar matahari. Namun karena bujukan iblis, akhirnya Nabi Adam dan Hawa melanggar larangan Allah, yakni memakan buah khuldi. Akibatnya, mereka berdua dikeluarkan dari surga dan tinggal di bumi. Allah kemudian memilih Adam sebagai utusan-Nya.

Dan Kami berfirman, “Hai Adam, diamilah oleh kamu dan istrimu surga ini, dan makanlah makanan-makanannya yang banyak lagi baik di mana saja yang kamu sukai, dan janganlah kamu dekati pohon ini yang menyebabkan kamu termasuk orang-orang yang zalim (Al-Qur’an Surat Al-Baqarah ayat 35).

Sesungguhnya kamu tidak akan kelaparan di dalamnya dan tidak telanjang; dan sesungguhnya kamu tidak akan merasa dahaga dan tidak (pula) akan ditimpa panas matahari di dalamnya. Kemudian setan membisikkan pikiran jahatnya kepadanya, dengan berkata, “Hai Adam, maukah saya tunjukkan kepada kamu pohon khuldi (keabadian) dan kerajaan yang tidak akan binasa?”. Maka keduanya memakan buah dari pohon itu, lalu tampaklah bagi keduanya aurat-auratnya dan mulailah keduanya menutupinya dengan daun-daun (yang ada di) surga, dan durhakalah Adam kepada Tuhan dan sesatlah ia. Kemudian Tuhannya memilihnya (menjadi nabi). Maka Dia menerima tobatnya dan memberinya petunjuk. Dia (Allah) berfirman, “Turunlah kamu berdua dari surga bersama-sama, sebagian kamu menjadi musuh bagi sebagian yang lain. Maka jika datang kepadamu petunjuk dari-Ku, lalu barang siapa yang mengikuti petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka (Al-Qur’an Surat Thaha ayat  118-123).

Setelah turun ke bumi, Nabi Adam dan Hawa kemudian dikaruniai keturunan. Berapa jumlah anak mereka, Al-Qur’an tidak menyebutkannya. Yang diabadikan di dalam Al-Qur’an justru perseteruan dua anak Nabi Adam. Para ahli tafsir mengatakan bahwa kedua anak tersebut bernama Qabil dan Habil. Kisah perseteruannya diabadikan dalam Al-Qur’an Surat Al-Māidah ayat 27-31.

27. Ceritakanlah kepada mereka kisah kedua putra Adam (Habil dan Qabil) ketika keduanya mempersembahkan kurban, maka diterima dari salah seorang dari mereka berdua (Habil) dan tidak diterima dari yang lain (Qabil). Ia (Qabil) berkata, “Aku pasti membunuhmu”. Habil berkata, “Sesungguhnya Allah hanya menerima (kurban) dari orang-orang yang bertakwa.

28. Sungguh, kalau kamu menggerakkan tanganmu kepadaku untuk membunuhku, aku sekali-kali tidak akan menggerakkan tanganku kepadamu. Sesungguhnya aku takut kepada Allah, Tuhan seru sekalian alam.

29. Sesungguhnya aku ingin agar kamu kembali dengan (membawa) dosa (membunuh)ku dan dosamu sendiri, maka kamu akan menjadi penghuni neraka, dan yang demikian itulah pembalasan bagi orang-orang yang zalim”.

30. Maka hawa nafsu Qabil menjadikannya menganggap mudah membunuh saudaranya, sebab itu dibunuhnyalah, maka jadilah ia  seorang di antara orang-orang yang merugi.

31. Kemudian Allah menyuruh seekor burung gagak menggali-gali di bumi untuk memperlihatkan kepadanya (Qabil) bagaimana dia seharusnya menguburkan mayat saudaranya. Qabil berkata, “Aduhai celaka aku, mengapa aku tidak mampu berbuat seperti burung gagak ini, lalu aku dapat memguburkan mayat saudaraku ini?” Karena itu, jadiah dia seorang di antara orang-orang yang menyesal.

Kebanyakan ahli tafsir mengatakan bahwa setiap Hawa melahirkan anak selalu kembar, laki-laki dan perempuan. Menurut syariat Nabi Adam, saudara kembar tidak boleh dinikahkan. Qabil misalnya, tidak boleh dinikahkan dengan perempuan yang lahir bersamanya alias saudara kembarnya. Demikian juga Habil, tidak boleh dinikahkan dengan saudara kembarnya.

 Ketika usia Qabil dan Habil menginjak dewasa, Allah memberi petunjuk kepada Nabi Adam agar menikahkan anak-anaknya. Aturan yang berlaku adalah tidak diperbolehkan menikahi saudara kembarnya sendiri. Cara tersebut disampaikan oleh Nabi Adam kepada anak-anaknya. Qabil akan dinikahkan dengan perempuan yang merupakan saudara kembar Habil; sedang Habil akan dinikahkan dengan perempuan yang merupakan saudara kembar Qabil.

Qabil tidak mau menerima ketentuan dari ayahnya. Ia menolak dinikahkan dengan saudara kembar Habil. Alasannya, perempuan yang akan dinikahkan dengan Habil adalah saudara kembarnya, saudara yang lahir bersamanya.  Itulah sebabnya ia merasa dirinyalah yang berhak menikahi saudara kembarnya daripada Habil. Terlebih, saudara kembarnya berparas cantik, lebih cantik daripada saudara kembar Habil.

Meskipun ketentuan yang disampaikan oleh Nabi Adam itu berasal dari Allah, tapi Qabil lebih menuruti hawa nafsunya daripada menaati perintah ayahnya. Untuk menyelesaikan permasalahan yang dihadapi oleh kedua anaknya, Nabi Adam kemudian memerintahkan kepada Qabil dan Habil untuk berkurban di jalan Allah.

Kedua anak Nabi Adam tersebut memiliki karekter yang berbeda. Qabil adalah anak yang egois dan mementingkan diri sendiri. Sementara Habil merupakan anak yang baik dan shaleh, selalu berbuat baik kepada sesama, taat beribadah, dan taat atas apa yang diperintahkan kepadanya.

Keduanya kemudian melaksanakan kurban. Qabil yang egois, mempersembahkan hasil panennya yang jelek untuk kurban. Ia memang seorang petani, sehingga kurbannya berupa hasil panen. Sementara Habil yang seorang peternak, mempersembahkan seekor kambing untuk kurban. Oleh karena Habil merupakan anak yang taat beribadah, ia tidak asal berkurban, melainkan ia mempersembahkan kambing yang gemuk untuk kurban.

Untuk menandai kurban siapa yang diterima, maka kurban yang disambar api itulah  yang diterima. Qabil dan Habil lalu meletakkan kurban masing-masing di tempat yang tinggi. Tak lama berselang, turunlah api menyambar kambing milik Habil. Dengan demikian, berarti kurban Habil-lah yang diterima.

Qabil yang hatinya dipenuhi hawa nafsu, makin dengki kepada Habil karena kurban yang diterima adalah miliki saudaranya, dan bukan miliknya. Ia kemudian mengancam kepada saudara tersebut.

“Aku pasti akan membunuhmu”.

 “Sesungguhnya Allah hanya menerima kurban orang-orang yang bertakwa”, jawab Habil.

Sungguh, jika kamu menggunakan tanganmu untuk membunuhku, maka sekali-kali saya tidak akan menggunakan tanganku untuk membunuhmu, karena saya takut kepada Allah, Tuhan Penguasa Alam. Saya ingin mengembalikan dosaku untukmu dan dosamu sendiri karena membunuhku, sehingga kamu akan menjadi penghuni neraka. Itulah balasan bagi orang-orang yang zalim”, lanjut Habil.

Dikarenakan hatinya telah diliputi hawa nafsu, maka ketika memiliki kesempatan, Qabil betul-betul melaksanakan niatnya. Qabil membunuh Habil. Dengan membunuh Habil, Qabil berkeyakinan bahwa ia akan dapat menikahi saudara kembarnya sendiri dan hidup bahagia. Namun apa yang terjadi setelah Habil berhasil dibunuh? Ternyata dengan membunuh Habil, bukannya ia beruntung, melainkan termasuk salah satu di antara orang-orang yang merugi. Kematian Habil sama sekali tidak mendatangkan kebahagiaan bagi Qabil, meskipun orang yang dianggap sebagai penghalang untuk dapat mempersunting saudara kembarnya itu telah tewas di tangannya.

Qabil dicekam rasa takut dan bingung begitu mengetahui saudaranya meninggal. Ia tak tahu apa yang harus diperbuat.  Ia belum pernah memperoleh contoh bagaimana merawat jenazah. Habil adalah orang yang pertama kali meninggal, dan Qabil adalah pembunuhnya.

Beberapa saat kemudian, Allah mengutus dua ekor burung gagak agar menjadi pelajaran bagi Qabil. Dua ekor gagak tersebut saling bertarung hingga ada yang meregang nyawa. Gagak yang menang dalam pertarungan tersebut kemudian mencakar-cakarkan kakinya ke tanah untuk membuat lubang. Setelah lubang selesai dibuat, ditariklah bangkai gagak yang tewas ke dalam lubang yang telah dibuatnya, kemudian diurug.

Qabil yang sedari tadi memperhatikan gerak-gerik burung gagak tersebut, sempat terhenyak saat melihat salah satu dari kedua burung tersebut memberinya pelajaran.

“Aduh, celaka aku! Mengapa aku tidak mampu berbuat seperti burung gagak itu?”, Qabil menyadari ketololannya.

Qabil yang tadinya kebingungan menghadapi jasad saudaranya, kini telah memperoleh pelajaran dari seekor burung gagak. Qabil segera menggali lubang dan kemudian menguburkan Habil seperti yang diajarkan oleh burung gagak.

  

Daftar Acuan

 

Fatchur Rochman AR. 1995. Kisah-Kisah Nyata dalam Al Qur’an. Surabaya: Apollo.

H. Ali Mas’ud. 2013. Kehancuran bagi Orang yang Serakah dan Iri Hati. Surabaya: Amelia.

Hamid bin Ahmad. 2010. Hukuman dan Azab bagi Mereka yang Zalim. Surabaya: Amelia.

Majdiy Muhammad asy-Syahawiy. 2003. Kisah-Kisah Binatang dari Al-Qur’an dan Al-Hadis. Yogyakarta: Mitra Pustaka.

Muhammad Ali Ash-Shabuny. 2001. Cahaya Al-Qur’an, Tafsir Tematik Surat Al-Baqarah – Al-An’am. Jilid 1. Terjemahan: Munirul Abidin. Jakarta: Pustaka Al-Kautsar.

Muhammad Fairuz NA. 2011. Koleksi Kisah 25 Nabi dan Rasul. Cetakan Kedua. Surabaya: Pustaka Media.

Mulyono Atmosiswartoputra. 2025. 29 Hewan yang Namanya Disebut dalam Al-Qur’an. Majalengka: PT Pusat Literasi Dunia.

Said Yusuf Abu Aziz. 2005. Azab Allah bagi Orang-Orang Zalim. Bandung: CV Pusaka Setia. 

Shalah Al-Khalidy. 2000. Kisah-Kisah Al-Qur’an, Pelajaran dari Orang-Orang Dahulu. Jilid 3. Jakarta: Gema Insani Press.

 

Selasa, 30 September 2025

SEKILAS SEJARAH AL-QUR’AN


 

Al-Qur’an adalah kitab suci bagi umat Islam yang berisi firman Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad melalui Malaikat Jibril. Al-Qur’an berfungsi sebagai petunjuk dan pedoman hidup bagi manusia dalam meraih kebahagiaan baik di dunia maupun di akhirat.

Firman Allah yang kini terkumpul menjadi sebuah kitab, tidak diturunkan sekaligus, melainkan secara berangsur-angsur selama 22 tahun 2 bulan 22 hari (menurut kalender Hijriah). Firman Allah yang pertama kali turun sebanyak lima ayat, yang di Al-Qur’an tercantum dalam Surat Al-Alaq ayat 1-5. Ayat-ayat tersebut diturunkan saat Nabi Muhammad ber-tahannuts di Gua Hira yang terletak di Jabal Nur. Menurut kesepakatan para ulama, peristiwa tersebut terjadi pada hari Senin, tanggal 17 Ramadhan atau 6 Agustus 610 Masehi. Sementara firman Allah yang diturunkan terakhir adalah ayat yang turun di Bukit ‘Arafah (Jabal Rahmah) saat Rasulullah melaksanakan Haji Wada’. Dalam Al-Qur’an, ayat tersebut tercantum dalam Surat Al-idah ayat 3. Dalam ayat yang cukup panjang ini, ada bagian ayat yang berbunyi, Pada hari ini telah Aku sempurnakan agamamu untukmu, dan telah Aku cukupkan nikmat-Ku bagimu, dan telah Aku ridoi Islam sebagai agamamu”. Ayat ini turun pada 9 Dzulhijah 10 Hijriah atau sekitar tanggal 16 Maret 632 Masehi.

Dari kurun waktu sepanjang 22 tahun lebih, Rasulullah menerima wahyu di Makkah selama 12 tahun lebih, sedangkan di Madinah selama 10 tahun. Ayat-ayat yang turun di Makkah disebut ayat-ayat Makkiyah, sedangkan ayat-ayat yang turun di Madinah disebut ayat-ayat Madaniyah. Meskipun Rasulullah telah berhijrah ke Madinah, tapi bila ayat tersebut turun di Makkah seperti Surat Al-idah ayat 3 di atas, maka ayat tersebut termasuk ayat Makkiyah.

Hikmah di balik turunnya Al-Qur’an secara berangsur-angsur atau sedikit demi sedikit adalah:

1) untuk meneguhkan hati Rasulullah dalam perjuangan dakwah dan menghadapi berbagai tantangan dari orang-orang kafir;

2) agar Rasulullah tidak merasa keberatan membacakan dan mengajarkan kepada para pengikutnya;

3) agar lebih mudah dihafalkan, dipahami, dan diamalkan; dan

4) untuk menjawab pertanyaan atau memberi penjelasan atas suatu permasalahan yang diajukan kepada Rasulullah.

Pada zaman Rasulullah, Al-Qur’an belum terkumpul menjadi satu buku atau kitab seperti yang kita kenal sekarang. Saat itu, setiap menerima wahyu, Rasulullah langsung memyampaikan kepada sahabat-sahabatnya dan memerintahkan untuk menghafalkannya. Tak mengherankan jika banyak sahabat yang hafal Al-Qur’an di luar kepala. Inilah salah satu hikmah diturunkannya Al-Qur’an secara berangsur-angsur.

Di samping itu, Rasulullah juga memerintahkan kepada para sahabat yang pandai menulis untuk menuliskan ayat-ayat yang baru diterima oleh beliau. Tidak sedikit sahabat yang pernah diperintahkan untuk menuliskannya. Dalam bukunya berjudul Keajaiban Kitab Suci Al-Quran, Ust. Mujaddidul Islam MAFA dan Ust. Jalaluddin Al-Akbar menyebutkan paling sedikit ada 26 sahabat yang pernah diperintahkan oleh Rasulullah untuk menuliskan ayat-ayat yang diterimanya, yakni: Abu Bakar, Umar bin Kaththab, Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Zubair bin Awwam, Amir bin Fuhairah, Abdullah bin Al-Arqam, Amr bin Ash, Ubai bin Ka’ab, Mughirah bin Syu’bah, Handhalah bin Rabi’, Abdullah bin Ruwahah, Khalid bin Walid, Khalid bin Sa’id, Al-’Alla bin Hadrami, Mu’awiyah bin Abi Sufyan, Yazid bin Abi Sufyan, Muhammad bin Maslamah, Abdullah bin Abdullah bin Ubay, Mu’aiqib bin Abi Fatimah, Hudzaifah bin Yaman, Abdullah bin Abi Sarah, Huwaithib bin Abdul Uzza, Hasin bin Namir, Tsabit bin Qais, dan Zaid bin Tsabit.

Para sahabat dalam menuliskan firman Allah yang diturunkan kepada Rasulullah menggunakan alat-alat yang masih sangat sederhana, seperti pelepah kurma, kulit binatang, batu, tulang unta, dan aqtab (bantalan kayu yang biasa dipasang di atas punggung unta). Salah seorang sahabat yang mendapat kepercayaan dari Rasulullah untuk menuliskan ayat-ayat yang beliau terima, yaitu Zaid bin Tsabit, menuturkan pengalamannya dalam riwayat Bukhari bahwa, “Dahulu kami di sisi Rasulullah menyusun Al-Qur’an dari riqa’ (kulit). Aku mengumpulkannya dari riqa’, aktaf (tulang unta), dan hafalan-hafalan orang”. Zaid bin Tasbit sangat berhati-hati dalam melaksanakan tugas selaku “juru tulis” wahyu. Ia tidak mau menuliskan ayat-ayat suci Al-Qur’an begitu saja, kecuali setelah disaksikan kebenarannya oleh dua orang saksi yang adil, meskipun ia sendiri hafal Al-Qur’an.

Untuk menghindari kecampuradukkan antara ayat-ayat suci Al-Qur’an dengan yang lain, maka Rasulullah tidak membenarkan para sahabat menulis apapun selain Al-Qur’an. Hal ini dapat diketahui dari hadits riwayat Muslim dari Abi Sa’id al-Khudriy yang berbunyi, “Janganlah kalian tulis dariku kecuali Al-Qur’an. Barang siapa yang telah menulis dari selain Al-Qur’an supaya menghapusnya”.

Meskipun Al-Qur’an telah ditulis sejak zaman Rasulullah, namun ayat-ayat suci tersebut masih belum terhimpun menjadi satu. Al-Qur’an masih berserakan. Ada yang disimpan beberapa sahabat yang diperintahkan menulis oleh Rasulullah, dan ada juga beberapa sahabat yang menulis untuk diri sendiri dan kemudian menyimpannya. Bahkan tidak sedikit sahabat yang menyimpannya di otak dalam bentuk hafalan.

Setelah Rasulullah wafat, Abu Bakar terpilih sebagai khalifah menggantikan kedudukan Rasulullah dalam hal menjalankan pemerintahan berdasarkan prinsip-prinsip Islam, membuat kebijakan, dan menjaga keamanan umat.

Pada saat Abu Bakar menjadi khalifah, masalah berat menghadangnya. Dikarenakan Rasulullah telah wafat, banyak orang yang tadinya telah masuk Islam lalu kembali ke agama lamanya. Mereka murtad. Bahkan ada beberapa orang yang mengaku sebagai nabi. Mereka adalah Musailamah Al-Kadzdzab, Thulaihah Ibn Khuwailid Al-Asadi, Al Aswad Al-‘Ansi, dan Sajah binti Al-Harits At-Taghlabiyyah. Masalah lain yang menghadang Abu Bakar adalah Malik bin Nuwairah dan pengikutnya dari Bani Tamim yang tidak mau membayar zakat.

Untuk mengatasi keadaan yang kacau-balau, Abu Bakar mengadakan persiapan untuk memberantas mereka yang menyimpang, demi untuk menegakkan kembali kewibawaan Islam. Namun sebelum mengirimkan pasukannya, Abu Bakar telah mengirim surat terlebih dahulu kepada pemimpin di daerah yang akan didatangi pasukannya. Isi surat, mengajak mereka kembali ke jalan yang benar. Jika tidak mau kembali ke jalan yang benar, barulah pasukannya dikirimkan.

Menurut Ustadz Dja’far Amir, Abu Bakar mengirimkan 11 pasukan dengan serentak di bawah 11 orang pemimpin untuk disebar ke daerah-daerah yang kacau tadi. Para pemimpin tersebut adalah Khalid bin Walid, ‘Ikrimah bin Abu Jahal, Syurahbil bin Hasanah, Al-Muhajir bin Abi Umayyah, Hudhaifah bin Muhsin, ‘Arfajah bin Hartsamah, Suwaid bin Muqrin, Al-‘Alla bin Al-Hadrami, Dhzuraifah bin Hajiz, Amr bin Ash, dan Khalid bin Said.

Dalam pertempuran di Yamamah melawan Musailamah Al-Kadzdzab yang mengaku sebagai nabi, pasukan muslim di bawah pimpinan ‘Ikrimah bin Abu Jahal tak mampu mengalahkan barisan nabi palsu tersebut. Oleh karena itu, ‘Ikrimah bin Abu Jahal berkirim surat kepada Abu Bakar sebagai khalifah, sambil mengawasi Musailamah Al-Kadzdzab apakah masih berada di Yamamah atau tidak.

Mengetahui pasukan yang dikirimkan ke Yamamah tidak mampu mengalahkan pasukan Musailamah Al-Kadzdzab, Abu Bakar lalu mengirim pasukan lagi di bawah panglima perang Khalid bin Walid. Akhirnya, pasukan muslim dapat mengalahkan pasukan nabi palsu, dan Musailamah Al-Kadzdzab yang mengaku sebagai nabi tewas terbunuh oleh pasukan muslim.

Dalam peperangan di Yamamah, tidak sedikit pasukan muslim yang gugur di medan perang sebagai syuhada. Bahkan banyak di antara yang gugur dalam perang tersebut adalah penghafal Al-Qur’an. Melihat kenyataan ini, Umar bin Kaththab merasa khawatir akan kehilangan sebagian besar ayat-ayat suci Al-Qur’an akibat gugurnya para penghafal Al-Qur’an. Apalagi jika di kemudian hari terjadi perang lagi dan para penghafal Al-Qur’an banyak yang gugur kembali, maka lama kelamaan umat Islam akan kehilangan Al-Qur’an. Oleh karena itu, ia mengusulkan kepada Abu Bakar sebagai khalifah, agar melakukan pembukuan Al-Qur’an dalam satu mushaf.

Menanggapi usulan Umar bin Khaththab, Abu Bakar pada mulanya merasa berkeberatan, karena perbuatan semacam ini belum pernah dilakukan oleh Rasulullah. Akan tetapi setelah Umar bin Khaththab meyakinkan bahwa perbuatan pengumpulan ayat-ayat suci Al-Qur’an adalah demi untuk memelihara kemurnian Al-Qur’an, akhirnya Abu Bakar menyetujui. Demikian pula para sahabat terkemuka, mereka juga menyetujui usulan Umar bin Khaththab.

Untuk mewujudkan pengumpulan ayat-ayat suci Al-Qur’an dalam satu mushaf, Abu Bakar kemudian mengangkat Zaid bin Tsabit sebagai pemimpin pelaksanaan pengumpulan dan penghimpunan ayat-ayat suci Al-Qur’an yang disepakati oleh para sahabat yang lain. Zaid bin Tsabit adalah salah satu penulis ayat-ayat suci Al-Qur’an yang sangat terkenal pada waktu itu karena senantiasa menuliskan wahyu yang diturunkan kepada Rasulullah.

Awalnya Zaid bin Tsabit berkeberatan melaksanakan perintah Abu Bakar karena Rasulullah belum pernah melakukannya. Selain itu, ia juga merasa bahwa tugas melakukan pengumpulan dan penghimpuan ayat-ayat suci Al-Qur’an itu sangat berat, lebih berat dari memindahkan gunung. Namun setelah diyakinkan oleh Abu Bakar bahwa pekerjaan tersebut sangat mulia dan utama agar Al-Qur’an tidak musnah karena sahabat nabi yang hafal Al-Qur’an banyak yang meninggal dunia dan tulisan ayat-ayat suci Al-Qur’an yang berserakan itu semakin lama kian rusak, maka Zaid bin Tsabit pun akhirnya bersedia melaksanakan perintah Abu Bakar.

Dalam melaksanakan tugasnya, Zaid bin Tsabit dibantu oleh Ubay bin Ka’ab, Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, dan beberapa sahabat yang hafal Al-Qur’an. Meskipun Zaid bin Tsabit merupakan orang yang hafal Al-Qur’an dan telah banyak menuliskan ayat-ayat suci Al-Qur’an pada masa Rasulullah, tapi ia tetap berhati-hati dalam menjalankan tugasnya itu. Zaid bin Tsabit menghimpun ayat-ayat suci Al-Qur’an yang ditulis di atas pelepah kurma, kayu, tulang, maupun batu. Ia tidak menerima ayat yang hanya berdasarkan hafalan tanpa didukung tulisan.

Di bawah pengawasan Abu Bakar, Umar bin Khaththab, dan para tokoh sahabat nabi lainnya, Zaid bin Tsabit berhasil menyelesaikan tugas yang dibebankan di atas bahunya. Pengumpulan ayat-ayat suci Al-Qur’an dalam bentuk mushaf itu dikerjakan selama satu tahun, yakni pada tahun 13 Hijriah. Mushaf Al-Qur’an yang dikumpulkan oleh Zaid bin Tsabit tadi, kemudian diserahkan kepada Khalifah Abu Bakar, dan selanjutnya disimpan hingga beliau meninggal dunia.

Sepeninggal Abu Bakar, yang menggantikan sebagai khalifah adalah Umar bin Khaththab. Ayat-ayat suci Al-Qur’an yang telah terkumpul menjadi satu mushaf, kemudian disimpan di rumah Umar bin Khaththab hingga ia meninggal. Sepeninggalnya, mushaf Al-Qur’an selanjutnya disimpan di rumah Hafsah, putri Umar bin Khaththab dan istri Rasulullah.

Utsman bin Affan menjadi khalifah ketiga menggantikan Umar bin Khaththab. Pada masa pemerintahannya, muncul masalah qira’ah (cara membaca Al-Qur’an) di kalangan umat Islam. Hal ini, menurut Ari Ghorir Atiq, disebabkan pada masa Rasulullah orang-orang dibebaskan dalam membaca dan menghafal Al-Qur’an sesuai lahjah (dialek) masing-masing kabilah.

Pada suatu ketika, datanglah Hudzaifah bin Yaman ke hadapan Utsman bin Affan. Ia menyampaikan informasi bahwa dirinya telah menyaksikan perselisihan di kalangan kaum muslimin tentang cara membaca Al-Qur’an. Masing-masing di antara mereka mengaku dirinya yang benar dalam cara membacanya. Untuk itu, Hudzaifah bin Yaman menyarankan kepada Khalifah Utsman bin Affan agar menyeragamkan cara membaca Al-Qur’an yang nantinya dijadikan pedoman bagi seluruh umat Islam di berbagai wilayah.

Menanggapi usulan Hudzaifah bin Yaman, Utsman bin Affan segera membentuk lajnah (panitia) yang bertugas menyalin kembali mushaf Al-Qur’an yang pernah ditulis pada masa Khalifah Abu Bakar. Mereka yang mendapat tugas adalah Zaid bin Tsabit, Abdullah bin Zubair, Sa’id bin Al ‘Ash, dan Abdurrahman bin Al Harits. Utsman bin Affan kemudian memerintahkan seseorang untuk meminjam mushaf Al-Qur’an yang disimpan oleh Hafsah binti Umar bin Khaththab.

Keempat orang yang bertugas menyalin kembali tadi, diperintahkan untuk menyalin sebanyak 7 mushaf Al-Qur’an. Mereka diperintahkan untuk menyeragamkan dialeknya, yaitu dialek Quraisy, karena Al-Qur’an diturunkan dengan menggunakan dialek Quraisy.

Setelah penyalinan selesai, mushaf-mushaf Al-Qur’an tersebut dikirim ke Makkah, Syam, Yaman, Bahrain, Bashrah, dan Kufah. Tujuannya untuk menyeragamkan kaum muslimin dalam bacaan Al-Qur'an. Selanjutnya Utsman bin Affan memerintahkan agar mushaf Al-Qur’an yang dipinjam dari Hafsah binti Umar bin Khaththab tadi dikembalikan. Menurut keterangan Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani sebagaimana dikutip oleh Ust. Mujaddidul Islam MAFA dan Ust. Jalaluddin Al-Akbar, penulisan mushaf pada masa Utsman bin Affan terjadi pada tahun 25 Hijriah.

Selain itu, Utsman bin Affan juga memerintahkan supaya mushaf Al-Qur’an lainnya yang ada di tangan sahabat dibakar. Kaum muslimin hanya diperbolehkan menyalin atau memperbanyak tulisan Al-Qur’an berdasarkan mushaf yang telah ditentukan sebagai standar, yaitu mushaf Utsmani.

Demikian, Khalifah Utsman bin Affan berhasil mempersatukan kaum muslimin dalam bacaan Al-Qur’an dan telah memelihara kemurnian Al-Qur’an. Mushaf Al-Qur’an yang tersebar di mana-mana di dunia, berpedoman pada mushaf Utsman bin Affan.

 

DAFTAR PUSTAKA


1. Buku

Ahmad Syauki. 2003. Lintasan Sejarah Al-Qur’an. Cetakan Ketiga. Bandung: CV. Sulita.

Ari Ghorir Atiq. 2020. Abu Bakar Ash-Shidiq, Sebuah Biografi. Yogyakarta: Mueeza.

Fuad Abdurahman dan Ali Sudansah. 2018. The Great of Abu Bakar Ash-Shiddiq: Keping-Keping Mozaik Menakjubkan Kehidupan Khalifah Pertama. Solo: Tinta Medina.

Ibrahim Al-Abyadi. 1996. Sejarah Al-Qur’an. Cetakan Kedua. Jakarta: Rineka Cipta.

Kamaluddin Marzuki. 1992. ‘Ulum Al-Qur’an. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Rosihon Anwar. 2007. Ulum Al-Quran. Bandung: Pustaka Setia.

Ustadz Dja’far Amir. 1985. Sejarah Khulafaur Rasyidin. Solo: Ramadhani.  

Ust. Mujaddidul Islam MAFA dan Ust. Jalaluddin Al-Akbar. 2010. Keajaiban Kitab Suci Al-Quran. Tanpa Nama Tempat: Delta Prima Press.

 

2. Internet

https://mulyonoatmosiswartoputra.blogspot.com/2024/10/musailamah-al-kadzdzab-nabi-palsu-saka.html

https://www.facebook.com/notes/mulyono-atmosiswartoputra/haji-wada'/675733363362679/