Kamis, 24 Februari 2022

ULAR

 

Ular

(Sumber: https://id.wikipedia.org/wiki/Ular)

Ular, menurut Wikipedia, adalah kelompok reptilia tidak berkaki dan bertubuh panjang yang tersebar luas di dunia. Secara ilmiah, semua jenis ular dikelompokkan dalam satu sub-ordo, yaitu Serpentes dan juga merupakan anggota dari ordo Squamata (reptilia bersisik) bersama dengan kadal.   

Meskipun ular cenderung menghindar daripada berhadapan dengan manusia, tapi banyak orang yang takut pada ular. Hal ini disebabkan orang takut digigit, terlebih jika ular itu memiliki bisa yang mematikan.

Dalam mencari mangsa, ular termasuk hewan yang sabar. Ketika menargetkan mangsanya, ia dapat menunggu dan memantau selama berjam-jam untuk menerkamnya. Untuk mendekati mangsanya, ular bergerak secara perlahan. Namun demikian, ketika memutuskan untuk menerkam, ular bergerak dengan kecepatan yang sangat tinggi.

Ular dapat hidup di semua tipe habitat, seperti hutan, padang rumput, gurun atau padang pasir, sungai, danau, dataran tinggi, perkebunan, persawahan, laut, dan juga pemukiman manusia.

Ular disebut beberapa kali dalam Al-Qur’an, dan semuanya berhubungan dengan kisah Nabi Musa. Dalam Al-Qur’an Surat Al-A’rāf ayat 107, Surat Thāhā ayat 20, Surat An-Naml ayat 10, dan Surat Al-Qashash ayat 31, ular disebut dalam hubungannya dengan Nabi Musa saat menerima wahyu.

 

Maka Musa menjatuhkan tongkatnya, lalu seketika itu juga tongkat itu menjadi ular yang sebenarnya (Al-Qur’an Surat Al-A’rāf ayat 107).

 

Lalu dilemparkannyalah tongkat itu, maka tiba-tiba ia menjadi seekor ular yang merayap dengan cepat (Al-Qur’an Surat Thāhā ayat 20). 

 

Dan lemparkanlah tongkatmu”. Maka tatkala (tongkat itu menjadi ular dan) Musa melihatnya bergerak-gerak seperti dia seekor ular yang gesit, larilah ia berbalik ke belakang tanpa menoleh. “Hai Musa, janganlah kamu takut. Sesungguhnya orang yang dijadikan rasul, tidak takut di hadapan-Ku (Al-Qur’an Surat An-Naml ayat 10).

 

Dan lemparkanlah tongkatmu. Maka tatkala (tongkat itu menjadi ular dan) Musa melihatnya bergerak-gerak seolah-olah dia seekor ular yang gesit, larilah ia berbalik ke belakang tanpa menoleh. (Kemudian Musa diseru), “Hai Musa datanglah kepada-Ku dan janganlah kamu takut. Sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang aman (Al-Qur’an Surat Al-Qashash ayat 31).

 

Al-Qur’an Surat Al-A’rāf ayat 103-171, Surat Thāhā ayat 9-98, dan Surat Qashash ayat 1-43 berisi kisah Nabi Musa. Dari ayat-ayat yang berhubungan dengan kisah Nabi Musa, ada kisah saat Nabi Musa menerima wahyu.  

Saat itu Nabi Musa melihat cahaya api yang diturunkan oleh Allah untuknya. Nabi Musa pun mendatangi cahaya api itu. Seperti sudah diceritakan dalam tulisan “Domba dan/atau Kambing”, ketika berada di lembah yang suci Thuwa, Nabi Musa diberi tahu bahwa oleh Allah bahwa Ia telah memilih Musa untuk menjadi utusan-Nya. Allah  memerintahkan kepada Musa dan umatnya agar menyembah Allah semata,  melaksanakan perintah shalat, dan diberi tahu bahwa kiamat itu akan datang.  

 Allah kemudian menanyakan kepada Musa tentang benda yang ada di tangan kanannya.

 “Ini adalah tongkatku. Aku bertumpu padanya, dan aku merontokkan daun-daun dengan tongkat ini untuk memberi makanan kambingku. Bagiku, tongkat ini masih ada lagi manfaat yang lain”, jawab Nabi Musa.

“Lemparkanlah tongkat itu, wahai Musa!”.

 Nabi Musa pun melempar tongkat itu, dan seketika berubah menjadi seekor ular yang merayap dengan cepat. Mengetahui tongkatnya berubah menjadi ular yang gesit, Nabi Musa pun berbalik ke belakang dan lari tanpa menoleh.

“Peganglah ia dan jangan takut. Kami akan mengembalikannya pada keadaan semula”, perintah Allah kepada Nabi Musa.

Nabi Musa mengikuti perintah Allah. Dipegangnya ular tersebut, dan seketika ular tersebut berubah menjadi tongkat kembali.

Sementara ular yang disebut dalam Al-Qur’an Surat Asy-Syu’arā’ ayat 32, berhubungan dengan Nabi Musa ketika berhadapan dengan Fir’aun.

 

Maka Musa melemparkan tongkatnya, lalu tiba-tiba tongkat itu (menjadi) ular yang nyata (Al-Qur’an Surat Asy-Syu’arā’ ayat 32).

 

Dalam Al-Qur’an Surat Asy-Syu’arā’, kisah Nabi Musa diceritakan mulai ayat 10 hingga ayat 68 yang di dalamnya ada dialog antara Nabi Musa dengan Fir’aun.

Nabi Musa diperintahkan oleh Allah untuk mendatangi kaum yang zalim, yakni kaum Fi’aun, mengapa mereka tidak bertakwa.

“Ya Tuhanku, sesungguhnya aku takut bahwa mereka akan mendustakanku yang mengakibatkan dadaku sesak dan lidahku tidaklah lancer untuk menyampaikan dakwah. Oleh karena itu, utuslah Malaikat Jibril kepada saudaraku, Harun, agar ia dapat membantuku, dan membenarkan apa-apa yang aku katakan, dan menjelaskan kepada mereka apa-apa yang aku sampaikan, karena dia lebih jelas dalam berbicara. Aku juga punya dosa terhadap mereka, karena  pernah membunuh seorang lelaki dari mereka, sehingga aku takut mereka akan membunuhku”, kata Nabi Musa.

Allah berfirman, “Jangan takut, karena mereka tidak akan dapat membunuhmu. Pergilah kalian berdua (bersama Harun) dengan membawa mukjizat-mukjizat yang menunjukkan kebenaran kalian berdua. Sesungguhnya Kami bersama kalian berdua dan mendengarkan apa-apa yang merka katakan. Datangilah Fir’aun, dan katakanlah kepadanya, ‘Sesungguhnya kami berdua adalah utusan Allah, Tuhan alam semesta. Oleh karena itu, lepaskanlah orang-orang Bani Israil agar pergi bersama kami.”

“Bukankah dahulu kami telah mengasuhmu sewaktu kamu masih kecil, dan kamu tinggal di dalam perawatan kami sekian tahun dari usiamu. Kemudian kamu berbuat kejahatan dengan membunuh seorang lelaki dari kaumku, ketika kamu memukul dan mendorongnya, dan kamu termasuk orang-orang yang melupakan kenikmatan-kenikmatan dariku”, jawab Fir’aun.

“Aku memang telah melakukan apa yang kamu katakan, dan waktu itu saya termasuk orang yang khilaf. Aku kemudian melarikan diri ke negeri Madyan, karena aku takut kalian akan membunuhku karena apa yang telah aku perbuat tanpa sengaja. Kemudian Tuhanku menganugerahiku kenabian dan ilmu, sebagai bentuk kemurahan dari-Nya bagiku, dan menjadikanku termasuk di antara utusan-Nya. Pengasuhan terhadapku dahulu kamu anggap sebagai budi baik, padahal kamu telah memperbudak orang-orang Bani Israil”, jawab Nabi Musa.

"Siapa Tuhan semesta alam itu?”, tanya Fir’aun kepada Nabi Musa.

 "Tuhan pencipta langit dan bumi serta apa-apa yang di antara keduanya, jika kamu sekalian benar-benar mempercayai-Nya”, jawab Nabi Musa.

Fir'aun berkata kepada para pemuka kaumnya yang ada di sekelilingnya, "Apakah kalian tidak mendengarkan jawaban Musa yang penuh dengan klaim dusta?"

"Allah-lah Tuhan kalian dan Tuhan nenek moyang kalian yang dahulu”,

"Sesungguhnya orang yang mengklaim bahwa ia adalah Rasul yang diutus kepada kalian, benar-benar orang gila”, kata Fir’aun.

 “Tuhan yang menguasai timur dan barat serta semua yang ada di antara keduanya, itulah Tuhanmu, jika kalian orang-orang yang berakal”, jawab Nabi Musa.

“Bila kamu menyembah sesembahan selain aku, aku benar-benar akan memenjarakanmu bersama orang-orang yang aku penjarakan.”, kata Fir’aun mengintimidasi.

“Meskipun akan aku tunjukkan kepadamu suatu keterangan yang nyata atas kebernaranku?”,  Nabi Musa balik bertanya.

“Tunjukkanlah apa yang kamu katakan, jika kamu orang yang benar”, kata Fir’aun.

Nabi Musa kemudian melemparkan tongkatnya, tiba-tiba tongkat itu berubah menjadi ular yang benar-benar ular, bukan suatu tipu daya ilusi sebagaimana yang dilakukan oleh para tukang sihir.

Lalu mengeluarkan tangannya dari dalam lubang bajunya yang terbuka sampai ke dada, tiba-tiba menjadi putih seperti salju yang membelalakkan pandangan orang-orang yang memandang.

Fir’aun berkata kepada para pemuka kaumnya lantaran takut mereka akan beriman, “Sesungguhnya Musa itu seorang tukang sihir yang lihai. Dengan sihirnya, dia hendak mengeluarkan kalian dari negeri kalian. Maka apakah yang kalian usulkan kepadaku terkait dengan dirinya, niscaya aku akan mengikuti pendapat kalian di dalam masalah itu”.

Demikian, ular yang diceritakan dalam Al-Qur’an Surat Asy-Syu’arā’ ayat 32.

 

 

Daftar Acuan Ular

 

 

1. Buku

 

Departemen Agama RI. 2004. Al-Qur'an dan Terjemahannya: Al-Jumanatul 'Ali, Seuntai Mutiara Yang Mahaluhur. Bandung: J-Art.

 

Fatchur Rochman AR. 1995. Kisah-Kisah Nyata dalam Al-Qur’an. Surabaya: Apollo.

 

H. Mahmud Junus. 1987. Tarjamah Al-Quran Al-Karim.Cetakan ke-3. Bandung: PT Al-Ma’arif.

 

Ibnu Katsir. 2015. Qishashul Anbiya’ (Kisah Para Nabi). Terjemahan: Moh. Syamsi Hasan. Surabaya: Amelia.

 

Judirman Djalimin. 2010. Pembelajaran Moral dari Sifat Binatang. Jakarta: PT Elex Media Komputindo. 

 

Labib Mz. dan Maftuh Ahnan. Tth. Mutiara Kisah 25 Nabi Rasul. Gresik: CV Bintang Pelajar.

 

Maftan. 2005. Kisah 25 Nabi & Rasul. Jakarta: Sandro Jaya.

 

Majdiy Muhammad asy-Syahawiy. 2003. Kisah-kisah Binatang dari Al-Qur’an dan Al-Hadis. Yogyakarta: Mitra Pustaka.

 

Ust. Fatihuddin Abul Yasin. 1997. Kisah Teladan 25 Nabi & Rasul. Surabaya: Terbit Terang.

 

Moh. Rifai. 1976. Riwayat 25 Nabi dan Rasul. Semarang: CV. Tohaputra.

 

Siti Zainab Luxfiati. 2007. Cerita Teladan 25 Nabi. Jilid 2. Cetakan ke-7. Jakarta: Dian Rakyat.

 

 

2. IntInternet

 

https://id.wikipedia.org/wiki/Ular

 

https://tafsirweb.com/

Rabu, 23 Februari 2022

SINGA

 

Singa

(Sumber: https://www.minews.id/cuitan-mi/singa-dijuluki-raja-hutan-mitos-atau-fakta)

 

 


Singa bernama ilmiah Panthera leo. Dalam bahasa Sanskerta, singa disebut simha. Dalam bukunya berjudul Ensiklopeda Hewan 9, Janu Ismadi menyebutkan bahwa singa adalah nama spesies anggota suku Felidae. Singa merupakam kerabat kucing besar yang dapat mengaum, paling besar, paling kuat, dan dijuluki “Raja Hutan”. Akan tetapi julukan “Raja Hutan” ini, menurut https://bobo.grid.id/, sebenarnya lebih disebabkan oleh mitos dan penampilannya, bukan karena kekuatan atau kebesarannya. Apalagi, habitat singa juga bukan di hutan. Singa hidup di semak belukar, padang rumput, savana, dan perbukitan berbatu. Penyebutan singa sebagai raja hutan bukan berdasar pada kemampuannya, melainkan karena penampilannya yang mirip raja. Rambutnya yang tebal di sekitar kepala disebut crown atau mahkota, karena bentuknya memang seperti mahkota raja.

Singa merupakan hewan yang hidup berkelompok. Biasanya terdiri atas seekor jantan dan banyak betina. Kelompok ini menjaga daerah kekuasaannya. Umur singa antara 10 sampai 15 tahun di alam bebas, tetapi dalam penangkaran memungkinkan lebih dari 20 tahun.

Menurut hasil penelitian, seperti disebutkan dalam https://www.detik.com/, singa merupakan hewan yang cukup berani. Meskipun singa tidak mengalami perasaan keberanian seperti manusia, tetapi singa tidak takut untuk berburu mangsa yang besar dan berbahaya. Keberanian yang dimiliki singa terkadang berubah menjadi kebodohan, karena ia mencoba menangkap badak atau gajah yang dapat menyebabkan kematian bagi dirinya.

Singa disebut satu kali dalam Al-Qur’an, tepatnya dalam Surat Al-Muddatsir ayat 51, yakni: “lari daripada singa”.

Buku Al-Qur'an dan Terjemahan-nya: Al-Jumanatul 'Ali, Seuntai Mutiara yang Mahaluhur menyebutkan bahwa Al-Qur’an Surat Al-Muddatsir mulai dari ayat 32 hingga 56 membicarakan tentang balasan bagi orang yang menerima dan menolak dakwah. Sementera ayat 38-51 membahas masalah jiwa manusia. 

Secara ringkas dapat disebutkan bahwa ayat 38-51 menurut tafsir Kementerian Agama Republik Indonesia seperti dikutip https://pecihitam.org/, tiap jiwa terikat dengan amal yang dikerjakan sampai hari kiamat, kecuali golongan kanan. Yang dimaksud golongan kanan adalah orang-orang mukmin yang ikhlas, yang menerima buku amalan mereka di sebelah kanan pada hari kiamat. Ada yang mengatakan bahwa golongan kanan adalah anak-anak yang memang belum diperhitungkan dosa dan kejahatannya. Bahkan ada yang berpendapat bahwa golongan kanan adalah para malaikat. Golongan kanan itu tempatnya di surga, sedangkan golongan yang berdosa berada di neraka. Namun demikian, mereka dapat saling bertanya, “Apa yang menyebabkan kamu masuk ke dalam (neraka) Saqar?” Mereka menjawab, “Dahulu kami tidak termasuk orang-orang yang melaksanakan salat, dan kami (juga) tidak memberi makan orang miskin, bahkan kami biasa berbincang (untuk tujuan yang batil) bersama orang-orang yang membicarakannya, dan kami mendustakan hari pembalasan, sampai datang kepada kami kematian”. Oleh karena itu, tidak berguna lagi bagi mereka syafaat dari orang-orang yang memberi syafaat, sebab syafaat hanyalah berguna bagi yang berhak menerimanya. Dengan nada cercaan, Allah bertanya, “Mengapa orang-orang kafir itu berpaling dari peringatan-Ku?” Maksudnya, mengapa orang-orang Makkah dan orang-orang seperti mereka menentang kebenaran Al-Qur’an yang telah memberikan peringatan-peringatan begitu hebat dan dahsyat kepada mereka? Mereka diibaratkan seperti keledai liar yang lari terkejut menjauh dari singa. Artinya, orang-orang musyrik itu lari dari Nabi Muhammad, atau mereka yang kafir itu lari dari agama Islam, seperti keledai ketakutan lari dikejar singa, atau lari ketakutan karena diburu manusia (pemburu). Ayat ini mengisyaratkan pula bahwa orang-orang yang seharusnya telah menerima seruan Islam dan mengambil pelajaran dari peringatan-peringatan yang diberikan Allah, justru menentangnya tanpa sebab-sebab yang logis. Di sini pula kita perbandingkan bagaimana seekor keledai lari ketakutan tanpa arah. Demikian pula manusia lari dari agama tanpa alasan yang tepat.

 

 

Daftar Acuan

 

 

1.   Buku

 

Departemen Agama RI. 2004. Al-Qur'an dan Terjemahan-nya: Al-Jumanatul 'Ali, Seuntai Mutiara yang Mahaluhur. Bandung: J-Art.

 

Janu Ismadi. 2009. Ensiklopedi Hewan 9. Jakarta: Buana Cipta Pustaka.

 

2.  Internet

 

https://bobo.grid.id/read/083055044/singa-dikenal-sebagai-raja-hutan-ternyata-julukan-itu-salah-kok-bisa?page=all

 

https://id.wikipedia.org/wiki/Singa

 

https://pecihitam.org/surah-al-muddatstsir-ayat-38-56-terjemahan-dan-tafsir-al-quran/

 

https://www.detik.com/edu/detikpedia/d-5842106/apa-singa-adalah-hewan-pemberani-ini-kata-peneliti

 

https://www.minews.id/cuitan-mi/singa-dijuluki-raja-hutan-mitos-atau-fakta

Selasa, 22 Februari 2022

SEMUT

 

Semut

(Sumber: https://www.shopback.co.id/katashopback/kelebihan-semut)

 

 

Dalam Wikipedia disebutkan bahwa semut adalah semua serangga anggota suku Formicidae, bangsa Hymenoptera. Semut memiliki lebih dari 12.500 jenis (spesies), yang sebagian besar hidup di kawasan tropika. Akan tetapi https://www.rentokil.co.id/ menyebutkan bahwa spesies dan subspesies semut di seluruh dunia sekitar 15.000, sedang 3.700 di antaranya banyak ditemukan di wilayah Asia Tenggara.

Sebagian besar semut dikenal sebagai serangga sosial, dengan koloni dan sarang-sarangnya yang teratur. Per koloni anggotanya mencapai ribuan yang terbagi menjadi semut pekerja, semut pejantan, dan ratu semut. Koloni semut dipimpin oleh ratu semut yang bertugas untuk menghasilkan keturunan. Ratu semut bertubuh lebih besar dibandingkan anggota kelas yang lain. Semut pejantan bertugas untuk membantu menghasilkan keturunan bagi ratu semut. Semut pejantan biasanya berukuran lebih kecil dibandingkan ratu semut, dan semut pejantan itu bersayap. Setelah kawin, semut pejantan akan mati atau meninggalkan sarangnya. Sementara semut pekerja bertugas mencari makanan dan menjaga telur. Semut pekerja ukuran tubuhnya paling kecil dibandingkan ratu semut dan semut pejantan, dan jumlahnya paling banyak. Semut pekerja merupakan semut yang mandul. Selain bertugas mencari makanan dan menjaga telur, semut pekerja juga memiliki tugas membangun dan mempertahankan sarangnya, serta mearwat ratu semut dan anak-anaknya.

Di Indonesia, kita mengenal beberapa jenis semut, seperti semut hitam rumah, semut api, semut hantu, semut bau, semut fir’aun, semut tukang kayu, dan semut trotoar yang menurut https://www.rentokil.co.id/ dikategorikan sebagai hama. Sementara beberapa jenis semut lainnya, seperti dikatakan oleh Cepi Suherman, adalah semut pemotong daun, semut penenun, semut legiun, dan semut beludru. Tentu saja yang disebutkan tadi hanya sebagian kecil semut yang ada di Indonesia, karena masih banyak lagi jenis semut yang ada di sekitar kita.

Di balik tubuhnya yang kecil, semut adalah hewan yang pantang menyerah. Ketika semut berjalan ke suatu tujuan, biasanya ia akan membentuk satu barisan. Jika di tengah jalan menghadapi rintangan atau masalah, maka semut akan mencari jalan keluarnya. Lihatlah gambar di atas, semut pantang menyerah dan mencari solusi ketika menghadapi masalah atau rintangan.

Semut juga tergolong hewan pekerja keras. Semut pekerja yang memiliki tugas mencari makanan, akan berjalan dengan cepat mengumpulkan makanan mereka di musim panas untuk persediaan di musim dingin. Mereka tidak ada yang santai seperti manusia.

Dalam Al-Qur’an, semut tidak hanya disebut namanya, tapi juga diabadikan sebagai nama surat ke-27, yakni Surat An-Naml yang terdiri atas 93 ayat dan termasuk surat Makkiyyah. Semut disebut tiga kali dalam Surat An-Naml ayat 18, sedangkan ayat 19 hanya menyebut “kaulaha” yang berarti “perkataannya”, yaitu perkataan semut.

 

Hingga apabila mereka sampai di lembah semut berkatalah seekor semut, “Hai semut-semut, masuklah ke dalam sarang-sarangmu, agar kamu tidak diinjak oleh Sulaiman dan tentaranya, sedangkan mereka tidak menyadari” (Al-Qur’an Surat An-Naml ayat 18).

 

Maka dia tersenyum dengan tertawa karena (mendengar) perkataannya (perkataan semut) itu. Dan dia berdoa, “Ya Tuhanku berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakku dan untuk mengerjakan amal saleh yang Engkau ridoi; dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang saleh” (Al-Qur’an Surat An-Naml ayat 19).

 

Ayat di atas menceritakan semut yang memerintahkan kawan-kawannya agar masuk ke sarang agar tidak terinjak oleh Nabi Sulaiman dan bala tentaranya. Itulah sebabnya surat ini diberi nama Surat An-Naml atau semut, karena di dalamnya ada kisah semut dengan Nabi Sulaiman. Kisah ini disebutkan pada ayat 17-19.

Pada suatu ketika Nabi Sulaiman menghimpun bala-tentaranya yang terdiri atas manusia, jin, dan burung. Mereka berbaris dengan tertib pada posisinya masing-masing. Tentara burung terbang di angkasa sebagai penunjuk jalan. Selain menjadi penunjuk jalan, mereka juga menaungi bala-tentara Nabi Sulaiman dari panasnya terik matahari dengan bentangan sayapnya. Nabi Sulaiman mengatur tiap-tiap kelompok dengan rapi. Kelompok tentara yang tidak teratur, dibenahi oleh Nabi Sulaiman.

Ketika rombongan tentara Nabi Sulaiman sampai di sebuah lembah atau sarang semut, salah seekor semut yang khawatir kaki-kaki bala-tentara Nabi Sulaiman akan meluluhlantakkan sarang mereka, memberi perintah kepada kawan-kawannya.

“Wahai semut-semut, masuklah ke dalam sarang kalian agar tidak terinjak-injak kaki Nabi Sulaiman dan bala-tentaranya, karena mereka tidak menyadari perbuatannya”.

Nabi Sulaiman yang memahami bahasa binatang dan mendengar perkataan semut tadi, tersenyum lalu tertawa. Beliau kemudian berdoa, “Ya Tuhanku, berilah saya ilham untuk tetap mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakku dan untuk mengerjakan amal saleh yang Engkau ridoi; dan masukkanlah saya dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang saleh”.

 

Daftar Acuan 

 

 

1.   Buku

 

Cepy Suherman. 2009. Meladadani Sikap dan Perlikau Semut. Banten: Talenta Pustaka Indonesia.

 

Departemen Agama RI. 2004. Al-Qur'an dan Terjemahannya: Al-Jumanatul 'Ali, Seuntai Mutiara Yang Mahaluhur. Bandung: J-Art

 

H. Mahmud Junus. 1987. Tarjamah Al-Quran Al-Karim.Cetakan ke-3. Bandung: PT Al-Ma’arif

 

Judirman Djalimin. 2010. Pembelajaran Moral dari Sifat Binatang. Jakarta: PT Elex Media Komputindo.

 

Janu Ismadi. 2009. Ensiklopedi Hewan 9. Jakarta: Buana Cipta Pustaka.

 

Majdiy Muhammad asy-Syahawiy. 2003. Kisah-kisah Binatang dari Al-Qur’an dan Al-Hadis. Yogyakarta: Mitra Pustaka.

 

 

2.  Internet

 

https://id.wikipedia.org/wiki/Semut

 

https://www.facebook.com/notes/mulyono-atmosiswartoputra/semut/1456677914521866/

 

https://www.rentokil.co.id/semut/jenis-semut/

 

https://www.shopback.co.id/katashopback/kelebihan-semut