Senin, 10 April 2023

NASIHAT LUQMAN KEPADA ANAKNYA

  

 

Al-Qur’an mengajarkan banyak hal kepada kita, salah satunya adalah mengajarkan tentang cara mendidik anak. Meskipun Al-Qur’an bukan buku parenting, tetapi di dalamnya banyak ayat yang mengajarkan kepada kita tentang bagaimana cara mendidik anak yang baik. Al-Qur’an Surat Luqman ayat 12-19 misalnya, menginformasikan kepada kita tentang bagaimana Luqman atau Luqmanul Hakim mendidik anak.

Siapa sebenarnya Luqman, sehingga namanya diabadikan sebagai nama surat ke-31 dalam Al-Qur’an, dan nasihat-nasihatnya dijadikan teladan bagi manusia yang hidup sesudah beliau?

Terjadi perbedaan pendapat di antara para ulama tentang siapa sebenarnya Luqman, seperti dari mana asal beliau, fisik beliau, maupun nasabnya. Meskipun demikian, kebanyakan ulama sepakat bahwa Luqman bukanlah nabi, melainkan seorang laki-laki yang shaleh, ahli ibadah, memiliki pengetahuan dan hikmah yang luas. 

Bahwa Luqman bukan seorang nabi, dapat kita ketahui dari hadits yang diriwayatkan oleh Al-Qurthuby.

Dari Ibnu Abbas RA. berkata: Saya mendengar Rasulullah SAW bersabda: Luqman bukanlah  seorang nabi, tetapi beliau adalah seorang hamba yang banyak berpikir secara bersih dan penuh keyakinan sehingga ia mencintai Allah dan Allah pun mencintainya, maka dilimpahkan kepadanya al-Hikmah” (HR. Al-Qurthuby).

Meskipun Luqman bukan seorang nabi, tapi cintanya kepada Allah tak dapat diragukan, sehingga Allah pun mencintainya, bahkan Allah melimpahkan hikmah kepadanya.

Luqman adalah sosok orang tua panutan, yang kecintaannya kepada Allah tak hanya untuk dirinya sendiri, tapi ia wariskan juga kepada anak-anaknya dalam bentuk nasihat yang disampaikan dengan cara bijak dan penuh hikmah. Tak mengherankan jika namanya diabadikan sebagai nama surat dalam Al-Qur’an.

Adapun nasihat Luqman kepada anakya adalah:

 

1. Jangan Mempersekutukan Allah 

 

Syirik adalah dosa yang paling besar. Bahkan dosa syirik tidak akan diampuni selama pelakunya tidak bertobat dan tidak kembali ke jalan Allah. Itulah sebabnya Luqman berpesan dengan sungguh-sungguh kepada anaknya, agar dosa yang paling besar itu tidak menimpa anaknya. Luqman mengatakan,

“Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar” (Al-Qur’an Surat Luqman ayat 13).

 

2. Berbakti Kepada Kedua Orang Tua  

 

Kita tahu, bagaimana sengsaranya ibu mengandung, melahirkan, menyusui, dan memelihara anaknya. Begitu juga betapa berat dan susahnya seorang ayah berusaha mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan istri dan anak-anaknya. Itulah sebabnya kita harus menyadari bahwa pengorbanan kedua orang tua kepada kita tak pernah dapat diganti dengan materi. Untuk itu, kita wajib berbakti kepada kedua orang tua. Jalankan apa yang diperintahkan kedua orang tua, sepanjang mereka tidak meminta kita untuk berbuat syirik. Jika mereka memerintahkan kita untuk berbuat syirik, kita tidak boleh mengikuti perintahnya. Namun demikian, kita tetap wajib berbuat baik kepada mereka.

Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada kedua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang ibu-bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu. Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, maka Ku-beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan (Al-Qur’an Surat Luqman 14-15).


3. Sadar bahwa Setiap Perbuatan Akan Mendapat Balasan

 

Luqman menyadari bahwa setiap jiwa akan mendapat balasan atas apa yang telah dilakukan. Oleh karena itu, Luqman menasihati anaknya agar selalu ingat bahwa suatu perbutan, meskipun hanya seberat biji sawi, Allah akan memberikan balasan atas perbuatan tersebut.

(Luqman berkata): “Hai anakku, sesungguhnya jika ada (suatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasinya). Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha Mengetahui” (Al-Qur’an Surat Luqman 16).

 

4. Dirikanlah Shalat, Berbuatlah Kebaikan, Cegahlah Kemungkaran, dan    Bersabarlah

 

Shalat tidak hanya diperintahkan kepada Nabi Muhammad. Nabi-nabi sebelumnya juga diperintahkan untuk shalat oleh Allah, atau nabi-nabi sebelumnya dan orang-orang shaleh terdahulu juga melaksanakan shalat. Hanya saja, shalat mereka berbeda dengan shalat yang dilakukan Nabi Muhammad dan umatnya. Dalam bukunya yang berjudul Sejarah Ibadah, Menelusuri Asal-Usul Memantapkan Penghambaan, Syahruddin El-Fikri mengatakan bahwa shalat berasal dari bahasa Arab yang berarti doa, dan doa adalah permohonan.

Bahwa para nabi atau orang shaleh terdahulu diperintahkan melaksanakan shalat atau mereka juga melaksanakan shalat, dapat diketahui dari beberapa ayat dalam Al-Qur’an. Nabi Ibrahim, Nabi Ismail, dan Nabi Ishaq juga mendirikan shalat (Al-Qur’an Surat Ibrahim ayat 37, 40). Nabi Musa dan Nabi Harun juga diperintahkan Allah untuk mendirikan shalat (Al-Qur’an Surat Yunus ayat 87). Nabi Daud bahkan bertasbih bersama gunung-gunung dan burung-burung (Al-Qur’an Surat Shad ayat 18-20). Nabi Zakaria juga mendirikan shalat (Al-Qur’an Surat Ali Imran ayat 39). Nabi Isa juga diperintahkan shalat (Al-Qur’an Surat Maryam ayat 30-33). Bahkan Luqman yang bukan nabi juga menasihati anaknya agar mendirikan shalat (Al-Qur’an Surat Luqman 17).

Dengan mengerjakan shalat, kata Ibnu Katsir dalam tafsirnya, sesungguhnya manusia telah berusaha menjalankan yang ma’ruf dan meninggalkan kemungkaran. Untuk menjalankan yang ma’ruf dan meninggalkan yang mungkar, sudah pasti akan banyak mendapatkan gangguan dari orang lain. Oleh karena itu, Luqman berpesan kepada anaknya untuk tetap bersabar.

“Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah)” (Al-Qur’an Surat Luqman 17).

 

5. Jangan Sombong

 

Dalam bukunya yang berjudul Hati: Kedudukan, Keadaan, Penyakit, dan Pengobatannya, Al Ustadz Ahmad Izzuddin Al Bayanuniy mengatakan bahwa sombong adalah condong kepada melihat diri dalam suatu kedudukan di atas kedudukan orang yang menyainginya. Obatnya adalah mengerti bahwa kedudukan-kedudukan itu tidak dikenal di sisi Allah, dan boleh jadi orang yang disombongi itu lebih dicintai Allah daripada orang yang sombong dan merasa tinggi tersebut.

Sebagai orang yang shaleh, Luqman tahu bahwa Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri. Itulah sebabnya, Luqman menasihati anaknya agar jangan sombong.

“Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri” (Al-Qur’an Surat Luqman 18).

 

6. Sederhanalah dalam Berjalan dan Lembutkan Suaramu

 

Luqman menasihati anaknya agar sederhana dalam berjalan. Yang dimaksud dengan sederhana dalam berjalan, menurut Departemen Agama dalam catatan kakinya di buku Al-Qur'an dan Terjemahan-nya: Al-Jumanatul 'Ali, Seuntai Mutiara yang Mahaluhur, adalah ketika berjalan janganlah terlampau cepat dan jangan pula terlalu lambat. Berjalanlah dengan sopan dan merendahkan diri. Tidak memakai pakaian dan perhiasan secara berlebihan, tetapi tidak juga rendah diri.

Sementara jika berbicara, Luqman menasihati anaknya agar melembutkan suara, jangan seperti keledai. Menurut Ibnu Asyur, suara yang paling mungkar adalah suara keledai. Itulah yang melatarbelakangi perintah untuk merendahkan suara. Berteriak dianggap mirip dengan suara keledai, mengingat suara keledai adalah suara yang paling buruk. Berteriak-teriak ketika berbicara mirip seperti ringkikan keledai yang menunjukkan bahwa berteriak-teriak termasuk kemungkaran. Ibnu Katsir mengatakan bahwa maksud ayat yang memerintahkan agar melunakkan suara adalah janganlah berbicara keras dalam hal yang tidak bermanfaat, karena sejelek-jelek suara adalah suara keledai. Dalam hal ini Mujahid menyebutkan bahwa sejelek-jelek suara adalah suara keledai. Barang siapa berbicara dengan suara keras, berarti ia mirip dengan keledai dalam hal mengeraskan suara, dan suara seperti itu dibenci oleh Allah. Sementara Syaikh As Sa’di mengatakan, seandainya mengeraskan suara dianggap ada faedah dan manfaatnya, tentu tidak dinyatakan secara khusus dengan suara keledai yang sudah diketahui jelek dan menunjukkan kelakuan orang bodoh.

“Dan sederhanalah kamu dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai” (Al-Qur’an Surat Luqman 19).

 

Itulah nasihat Luqman kepada anaknya yang penuh dengan hikmah. Nasihat-nasihat tersebut tak hanya berlaku bagi anak-anak Luqman, tapi juga sangat baik untuk diterapkan kepada anak-anak kita agar dapat menjadi anak yang shaleh dan bijaksana.

 

 

Daftar Acuan

 

1. Buku

Al Ustadz Ahmad Izzuddin Al Bayanuniy. 1994. Hati: Kedudukan, Keadaan, Penyakit, dan Pengobatannya. Jakarta: Granada Nadia.

Departemen Agama RI. 2004. Al-Qur'an dan Terjemahan-nya: Al-Jumanatul 'Ali, Seuntai Mutiara yang Mahaluhur. Bandung: J-Art.

Dewi Astuti dkk. Tanpa Angka Tahun. Si Penyebar Fitnah, 38 Pelajaran Hidup dari Orang-Orang Pilihan. Jakarta: Penerbit Kalil (Imprint PT Gramedia Pustaka Utama.

Imail Thoib dan Moh. Asyiq Amrullah (editor). 2004. Membangun Anak Negeri, Kumpulan Khotbah Jumat Peduli Anak. Mataram: Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Nusa Tenggara Barat.

Nur Kholish Rif’ani. 2017. Teladan Rasulullah SAW dalam Mendidik Anak. Yogyakarta: Semesta Hikmah.

Syahruddin El-Fikri. 2014. Sejarah Ibadah, Menelusuri Asal-Usul Menantapkan Penghambaan. Jakarta: Republika.

 

2. Internet

https://suaraaisyiyah.id/keteladanan-luqman-al-hakim-dalam-pendidikan-anak/

https://www.facebook.com/notes/mulyono-atmosiswartoputra/keledai/10216736107537256/

Selasa, 04 April 2023

SEORANG ANAK YANG DISURUH KUFUR OLEH IBUNYA

 

 

Pada masa awal tersiarnya agama Islam di Mekah, ada kisah seorang anak yang disuruh kufur oleh ibunya, tapi anak tersebut tidak mau melaksanakan perintah ibunya. Ia tetap berpegang teguh pada agama Allah. Anak tersebut adalah Sa’ad bin Abi Waqqash.  

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata kufur yang berasal dari Bahasa Arab diartikan: (1) tidak percaya kepada Allah dan Rasul-Nya; kafir; dan (2) ingkar; tidak pandai bersyukur.

Sa’ad bin Abi Waqqash merupakan putra dari Malik bin Uhaib bin Abdu Manaf bin Zuhrah bin Kilab bin Murrah yang biasa dipanggil Abi Waqqash. Artinya, ayah dari Waqqash. Sementara ibunya bernama Hamnah binti Sufyan bin Umayyah bin Abdu Syam bin Abdu Manaf. 

Sa’ad bin Abi Waqqash berasal dari kabilah Zuhrah, sama dengan Aminah binti Wahab, ibunda Rasulullah. Ia termasuk paman Rasulullah berdasarkan garis keturunan dari pihak ibu. Nasab Sa’ad bin Abi Waqqash bertemu dengan Rasulullah pada Kilab bin Murrah.

Usianya 17 tahun ketika Sa’ad bin Abi Waqqash masuk Islam. Ia termasuk assabiqunal awwalun). Hal ini dapat diketahui dari ucapannya bahwa, “Pada suatu saat saya memperoleh kesempatan termasuk tiga orang pertama yang masuk Islam”. Maksudnya, Sa’ad bin Abi Waqqash termasuk salah satu dari tiga orang yang paling awal masuk Islam. Barangkali karena perkenalannya dengan Rasulullah sejak usia muda, maka ia mau menerima ajaran yang dibawakan oleh Rasulullah. Sementara Rasulullah sendiri bahagia melihat Sa’ad bin Abi Waqqash masuk Islam, hingga beliau tak segan membanggakannya. Sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Jabir RA. menyebutkan, ketika Sa’ad bin Abi Waqqash datang kepada Rasulullah, beliau bersabda, “Inilah saudara ibuku, hendaklah melihatku sebagai anak pamannya” (HR. Ibnu Abdil Birr). Bahkan pernah diriwayatkan, ketika Rasulullah sedang duduk bersama sebagian sahabatnya, beliau melihat Sa’ad bin Abi Waqqash bergerak menuju ke arah beliau, Beliau lalu bersabda, “Ini pamanku! Hendaknya setiap orang menunjukkan pamannya kepadaku”.   

Sosok Sa’ad bin Abi Waqqash digambarkan oleh Ustadzah Hj. Idah sebagai orang yang memiliki tubuh pendek, gemuk, rambut keriting, hidung pesek, kulit sawo matang, jemari tebal dan kasar, serta badannya dipenuhi bulu. Ia dikenal sebagai anak yang serius dan memiliki pemikiran yang cerdas, berbudi luhur, dan berakhlak mulia. Ia juga tergolong anak yang sangat berbakti kepada ibunya.

Tatkala ibunya mengetahui bahwa Sa’ad bin Abi Waqqash telah masuk Islam, maka ibunya pun marah. Ia berusaha untuk mengembalikan agama anaknya ke agama lamanya. Meskipun Sa’ad bin Abi Waqqash sangat mencintai, menyayangi, dan juga sangat berbakti kepada ibunya, namun ia tidak mau ketika harus kembali ke agama semula. Ketika usaha ibunya tidak membuahkan hasil, maka ibunya mengancam kepada Sa’ad bin Abi Waqqash, bahwa ia akan mogok makan dan minum sampai Sa’ad bin Abi Waqqash kembali ke agama lamanya.

Acaman Hamnah binti Sufyan, ibu Sa’ad bin Abi Waqqash, tidak main-main. Meskipun Sa’ad bin Abi Waqqash telah melarang ibunya agar tidak melakukan hal itu, tapi ibunya benar-benar mogok makan dan minum hingga beberapa hari. Akibatnya, tubuh ibunda Sa’ad bin Abi Waqqash menjadi lemah, kurus, dan kering. Bahkan akhirnya pingsan. Keluarganyapun menyuapi hingga siuman.

Melihat kondisi ibunda Sa’ad bin Abi Waqqash yang memprihatinkan, maka keluarganya menyuruh Sa’ad bin Abi Waqqash agar menjenguk ibunya. Harapannya,  dengan melihat kondisi ibunya, mudah-mudahan hatinya menjadi lunak.

Sa’ad bin Abi Waqqash sebenarnya hancur hatinya ketika menyaksikan pemandangan di mana ibunya tampak kurus, kering, dan lemah-lunglai. Akan tetapi hal itu tidak menggoyahkan keimanan Sa’ad bin Abi Waqqash terhadap Allah dan Rasul-Nya.

“Wahai ibu, sungguh aku sangat mencintaimu. Akan tetapi aku lebih mencintai Allah dan Rasul-Nya. Demi Allah, andai ibu memiliki seratus nyawa lalu keluar satu per satu, niscaya aku tidak akan tinggalkan agama baruku ini karena sesuatu apapun. Terserah kepada ibu, apakah ibu mau makan atau tidak”, kata Sa’ad bin Abi Waqqash kepada ibunya.

Mengetahui anaknya sangat teguh pendiriannya, akhirnya ibunda Sa’ad bin Abi Waqqash mengalah. Kini ia tak mogok makan dan minum lagi.

Dengan adanya peristiwa tersebut, maka turunlah wahyu Allah.

 

Dan Kami wajibkan manusia (berbuat) kebaikan kepada dua orang ibu-bapaknya. Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya. Hanya kepada-Ku-lah kembalimu, lalu Aku kabarkan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan (Al-Qur’an Surat Al-’Ankabut ayat 8).

 

Kisah yang menyebabkan turunnya Al-Qur’an Surat Al-’Ankabut ayat 8 tersebut dapat menjadi pelajaran untuk kita, bahwa berbuat baik kepada orang tua adalah wajib bagi anak. Banyak ayat dalam Al-Qur’an yang memerintahkan kepada kita agar berbuat baik kepada orang tua, salah satu di antaranya adalah Surat Al-Isrā’ ayat 23-24. Dalam ayat ini Allah memerintahkan kepada kita agar berbuat baik kepada kedua orang tua. Jika ayah dan ibunya telah berumur lanjut dan hidup bersama kita, maka kita dilarang untuk berkata kasar dan membentak. Sebaliknya, kita dianjurkan untuk mengucapkan kata-kata yang baik, sopan, penuh kasih-sayang, dan mendoakan keduanya: “Rabbirḥamhumā kamā rabbayānī shaghīrā(n)” (Wahai Tuhanku! Sayangilah keduanya sebagaimana mereka berdua telah mendidikku pada waktu kecil). Sebaliknya, meskipun itu perintah orang tua kita, jika perintah tersebut bertujuan untuk menyekutukan Allah, maka harus kita tolak.

Apakah Sa’ad bin Abi Waqqash tidak terkena tulah karena berani menolak  perintah ibunya? Tentu saja tidak, karena Sa’ad bin Abi Waqqash tetap mencintai  ibunya. Yang ditolak oleh Sa’ad bin Abi Waqqash adalah perintah ibunya yang menyuruh dia untuk kembali ke agama lamanya, sebuah agama yang jelas-jelas menyekutukan Allah. Tindakan Sa’ad bin Abi Waqqash justru dibenarkan oleh Allah. Terbukti, Allah melarang kita untuk mengikuti perintah orang tua yang bersifat menyekutukan Allah.

Berkat beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, Sa’ad bin Abi Waqqash menjadi orang yang sukses di dunia dan akhirat. Yang dimaksud dengan sukses di dunia, misalnya: memiliki harta yang melimpah, mempunyai jabatan tinggi, berhasil membangun kerajaan bisnis, atau memiliki banyak prestasi. Sementara yang dimaksud dengan sukses di akhirat adalah bila seseorang meninggal dunia lalu dia dijauhkan dari siksa api neraka dan dimasukkan ke dalam surga. Pengertian sukses di akhirat ini sesuai dengan yang disebutkan dalam Al-Qur’an Surat Ali Imran ayat 185.

Sukses yang baik menurut Islam adalah sukses di dunia, sukses pula di akhirat.  Meskipun sukses di dunia itu baik, namun apalah artinya jika akhiratnya justru bangkrut.

Apakah betul Sa’ad bin Abi Waqqash itu orang yang sukses? Mari kita lihat kisah hidupnya.

Sa’ad bin Abi Waqqash tumbuh di lingkungan yang mengedepankan keberanian dan ketrampilan berperang. Ia tak pernah absen dari peperangan bersama Rasulullah. Pada saat Perang Badar, Sa’ad bin Abi Waqqash membuatkan tali pengikat pedang untuk adiknya, Umair, karena usia adiknya masih belia. Umair gugur sebagai syuhada, sehingga Sa’ad bin Abi Waqqash pulang tanpa disertai adiknya. Sewaktu Perang Uhud terjadi, Sa’ad bin Abi Waqqash termasuk salah satu orang yang ditugasi sebagai prajurit pemanah. Ketika pasukan muslimin tercerai-berai karena serangan balik pasukan kaum kafir Quraisy, Sa’ad bin Abi Waqqash merupakan orang yang teguh mematuhi perintah Rasulullah. Ia lindungi Rasulullah dari serangan pasukan kaum kafir Quraisy. Ia yang berdiri di samping Rasulullah, diberi beberapa anak panah oleh Rasulullah. Rasulullah  bersabda, “Lemparkan wahai Sa’ad! Bapak ibuku menjadi jaminan bagimu”. Menanggapi hal ini, Ali bin Abi Thalib berkata, “Tidak pernah saya dengar Rasulullah menyediakan ibu bapaknya sebagai jaminan seseorang, kecuali bagi Sa’ad”. Tatkala Umar bin Khaththab menjadi khalifah, atas usulan para sahabat kepada khalifah, Sa’ad bin Abi Waqqash terpilih sebagai panglima perang untuk menghadapi pasukan Persia. Perang yang terjadi di Qadisiyah ini adalah perang terbesar yang pernah ditorehkan oleh sejarah Islam. Pertempuran yang berlangsung selama tiga hari tersebut, berakhir dengan porak-porandanya tentara Persia hingga mereka kehilangan moral. Sementara prajurit muslimin mendapat harta rampasan perang yang sangat berlimpah.     

Kesuksesan Sa’ad bin Abi Waqqash tak hanya di bidang militer. Oleh khalifah Umar bin Kaththab, Sa’ad bin Abi Waqqash pernah diangkat sebagai gubernur di Kufah, Irak. Seperti lazimnya orang yang memiliki kedudukan tinggi, Sa’ad bin Abi Waqqash juga tidak terlepas dari fitnah. Banyak laporan yang disampaikan kepada khalifah, di antaranya disebutkan bahwa Sa’ad bin Abi Waqqash kurang khusyu’ dalam shalatnya ketika menjadi imam. Supaya tidak menimbulkan fitnah di negeri yang baru dikuasai kaum muslimin, Sa’ad bin Abi Waqqash dipanggil oleh khalifah Umar bin Khaththab untuk menghadap beliau di Madinah. Sa’ad bin Abi Waqqash memenuhi panggilan khalifah Umar bin Khaththab. Setelah beberapa lama, khalifah Umar bin Khaththab bermaksud mengembalikan Sa’ad bin Abi Waqqash ke Kufah, tapi ia tidak mau dan pilih tinggal di Madinah. Sa’ad bin Abi Waqqash diangkat kembali sebagai gubernur ketika khalifah dipegang oleh Usman bin Affan. Pengangkatan ini atas wasiat Umar bin Khaththab sebelum meninggal, karena beliau tahu Sa’ad bin Abi Waqqash berhenti dari jabatannya sebagai gubernur bukan karena lalai atau berkhianat, melainkan untuk menghindari fitnah. Akan tetapi tak lama setelah memangku jabatan gubernur yang kedua, Sa’ad bin Abi Waqqash mengundurkan diri, karena menurutnya di kalangan kaum muslimin telah terjadi perubahan dan pergeseran nilai.  

Sa’ad bin Abi Waqqash termasuk salah satu sahabat nabi yang kaya dan dermawan. Kegemarannya berinfak tidak membuat hartanya berkurang. Putrinya yang bernama Aisyah binti Sa’ad bin Abi Waqqash pernah menceritakan bahwa ayahnya mengirimkan zakat hartanya kepada Gubernur Marwan bin Al-Hakam Al-Umawi sebasar 5.000 dinar. Sementara saat meninggal dunia, ayahnya meninggalkan warisan sebesar 250.000 dinar. Jika harga dinar saat ini Rp 3.800.000,- per dinar, maka zakat yang dikeluarkan oleh Sa’ad bin Abi Waqqash sebesar 5.000 x Rp 3.800.000,- = Rp 19.000.000.000,-. Sementara warisan yang ditinggalkan saat Sa’ad bin Abi Waqqash meninggal sebesar 250.000 x Rp 3.800.000,- = Rp 950.000.000.000,-.

Selain sukses di dunia, Sa’ad bin Abi Waqqash juga sukses di akhirat. Seperti disebutkan di atas, yang dimaksud dengan sukses di akhirat adalah mereka yang setelah meninggal dunia, dijauhkan dari siksa api neraka dan dimasukkan ke dalam surga. Sa’ad bin Abi Waqqash termasuk salah satu sahabat nabi yang mendapat jaminan surga. Hal ini dapat kita ketahui dari kata-kata Anas bin Malik, Amru bin Ash, dan Abdullah bin Umar yang menceritakan bahwa, “Ketika kami duduk di sisi Rasulullah, maka beliau bersabda, ‘Akan masuk dari pintu ini seorang laki-laki yang akan menjadi penduduk surga’.  Maka tidaklah di antara kami berharap, melainkan orang tersebut berasal dari keluarganya. Ternyata Sa’ad (bin Abi Waqqash) yang muncul dari pintu tersebut”.

 

 

 

Daftar Acuan

 

 

1. Buku

 

Abdullatif Ahmad ‘Aasyur. 1991. 10 Orang Dijamin Ke Surga. Jakarta: Gema Insani.

Abdurrahman Ra’fat Basya. 2019. Sirah Shahabat. Jakarta: Pustaka As-Sunah.

Ali Muhammad Ash-Shallabi. 2018. Peperangan Rasulullah. Cetakan Kedua. Jakarta: Ummul Qura.

Al-Wahidi an-Nisaburi. 2014. Asbabun Nuzul, Sebab-Sebab Turunnya Ayat-Ayat Al-Qur’an. Surabaya: Amelia.

Asrifin An Nakhrawi. 2011. Ringkasan Asbaabun Nuzul, Sebab-Sebab Turunnya Ayat-Ayat Al-Qur’an. Surabaya: Ikhtiar.

K.H.Q Shaleh dan H.A.A, Dahlan. 2004. Asbābun Nuzūl, Latar Belakang Historis Turunnya Ayat-Ayat Al-Quran. Bandung: CV Penerbit Diponegoro.

M. B. Tamam. 2008. Kisah-kisah Teladan 20 Panglima Perang Islam. Surabaya: Amelia.

Muhammad Chirzin. 2011. Buku Pintar Asbabun Nuzul, Mengerti Peristiwa dan Pesan Moral di Balik Ayat-Ayat Suci Al-Quran. Jakarta: Zaman.

Nabawiyah Mahmud. 2017. Jenderal Islam Paling Berpengaruh Sepanjang Sejarah. Sukoharjo: Al-Wafi.

Nizar Abazhah. 2014. Sahabat Muhammad, Kisah Cinta dan Pergulatan Iman Generasi Muslim. Jakarta: Zaman.

Ustadzah Hj. Idah. 2015. 20 Hikayat Dahsyat Panglima Islam Berjuang Hingga Tetes Darah Terakhir. Jakarta: Shava Pustaka.


 

2. Internet

https://kbbi.web.id/kufur

https://finance.detik.com/sosok/d-5555110/saad-bin-abi-waqqash-orang-kaya-yang-doanya-paling-mustajab

https://www.facebook.com/notes/mulyono-atmosiswartoputra/sukses-menurut-islam/2640039176326100/

Jumat, 24 Maret 2023

RASULULLAH DITEGUR ALLAH KARENA LUPA MENGUCAPKAN “IN SYAA ALLAH”


 

Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering mendengar seorang muslim mengucapkan “in syaa Allah” ketika ia berjanji. Menurut Anugerah Ayu Sendari dalam tulisannya yang diunggah di https://www.liputan6.com, “in syaa Allah” berasal dari tiga kata, yakni “in”, “syaa”, dan “Allah”. In berarti ‘jika’, syaa berarti ‘menghendaki’, dan Allah adalah Tuhan Yang Maha Esa. Dengan demikian, in syaa Allah berarti ‘jika Tuhan menghendaki’. Sementara menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, “in syaa Allah” diartikan sebagai ungkapan yang digunakan untuk menyatakan harapan atau janji yang belum tentu dipenuhi.

Masih menurut Anugerah Ayu Sendari, dengan berkata “in syaa Allah”, maka seseorang telah membuat sebuah perjanjian dengan Allah dan akan melakukan janji tersebut. Arti in syaa Allah di sini bukan sekadar berkaitan dengan janji, melainkan juga dipahami bahwa manusia memercayai adanya takdir Allah. Itulah sebabnya Allah memerintahkan kepada kita umat muslim, ketika berjanji atau berencana melakukan suatu hal pada waktu yang akan datang agar mengucapkan “in syaa Allah”. Hal ini disebabkan Allah-lah yang berkuasa menentukan terlaksana atau tidak terlaksananya janji atau rencana seseorang pada waktu yang akan datang. Betapa pentingnya mengucapkan “in syaa Allah” ketika berjanji atau berencana melakukan suatu hal pada waktu yang akan datang, dapat dilihat dari peristiwa yang dialami oleh Rasulullah.

In syaa Allah

(Sumber: https://id.pngtree.com/freepng/insha-allah-arabic-dua-calligraphy-inshallah-islamic-inshaallah-sticker-if-wills-vector-art_8998025.html)

 

Sebagaimana kita ketahui, penduduk Mekah mengetahui bahwa Muhammad adalah orang yang amanah, dapat dipercaya, dan jujur. Dikarenakan sikapnya itu, Muhammad lalu dijuluki Al-Amin oleh mereka. Al-Amin artinya dapat dipercaya. Meskipun demikian, apakah setelah beliau diangkat sebagai rasul oleh Allah, lalu membuat dakwah Rasulullah berjalan mulus di tengah-tengah penduduk Mekah? Ternyata tidak! Perasaan sombong dan takut kehilangan kedudukan menyebabkan mereka menolak ajaran Islam dan bahkan menentang setiap langkah dakwah yang dilakukan oleh Rasulullah. Berbagai cara mereka lakukan demi menghentikan tersiarnya ajaran agama Islam.

Suatu ketika, kaum kafir Quraisy mengutus An-Nadlr bin al-Harts dan Uqbah bin Abi Mu'ith untuk bertanya kepada pendeta Yahudi di Yatsrib (yang kemudian diganti namanya menjadi Madinah oleh Rasulullah setelah beliau hijrah ke kota tersebut) tentang kenabian Muhammad dengan jalan menceritakan sifat-sifat Muhammad dan segala segala sesuatu yang diucapkannya. Mengapa mereka sampai mau melakukan perjalanan jauh hanya untuk bertanya kepada pendeta Yahudi? Hal ini disebabkan kaum kafir Quraisy mengakui bahwa pendeta Yahudi itu mempunyai keahlian dalam memahami kitab yang diturunkan lebih dahulu dan mempunyai pengetahuan tentang tanda-tanda kenabian daripada mereka. Rencananya, setelah mendapat pengetahuan dari pendeta Yahudi, mereka ingin mendebat Rasulullah dengan pengetahuan yang mereka peroleh.  

Berangkatlah kedua utasan tersebut menuju Yatsrib. Sesampai di Yatsrib, mereka bertemu dengan pendeta Yahudi, dan bertanya seperti yang diinginkan oleh para pemimpin kaum kafir Quraisy.

“Tanyakanlah kepada Muhammad tentang tiga hal. Jika ia dapat menjawab, maka sungguh ia adalah utusan Allah. Namun jika ia tak dapat menjawab, maka ia hanyalah orang biasa yang mengaku-aku sebagai nabi”, jawab pendeta Yahudi.

Pendeta Yahudi tadi lalu melanjutkan perkataannya.

“Pertama, tanyakanlah kepadanya tentang pemuda-pemuda pada zaman dahulu yang bepergian dan apa yang terjadi kepada mereka, karena cerita tentang para pemuda ini sangat menarik. Kedua, tanyakanlah kepadanya tentang seorang pengembara yang sampai ke masyrik (timur) dan maghrib (barat), dan apa pula yang terjadi padanya. Ketiga, tanyakan pula kepadanya tentang ruh”.

Setelah mendapat jawaban dari pendeta Yahudi, kedua utusan tersebut pun kembali ke Mekah.

“Kami datang membawa sesuatu yang dapat dipergunakan untuk menentukan sikap tuan-tuan dan Muhammad”, kata utusan tadi kepada para pemimpin kaum kafir Quraisy.

Para utusan ini kemudian menceritakan apa yang dikatakan oleh pendeta Yahudi. Tidak lama setelah itu, kaum kafir Quraisy kemudian menemui Rasulullah dan menanyakan ketiga hal seperti disampaikan pendeta Yahudi.

"Aku akan menjawab pertanyaan kalian besok", jawab Rasulullah dengan harapan besok telah mendapat wahyu dari Allah sebagai bahan jawaban atas pertanyaan kaum kafir Quraisy.

Mendapat jawaban seperti itu dari Rasulullah, mereka pun pulang. Namun apakah Allah langsung menjawab keinginan Rasulullah?

Sehari, dua hari, tiga hari dari waktu yang telah Rasulullah janjikan kepada kaum kafir Quraisy telah lewat. Rasulullah terus menanti, tapi Malaikat Jibril belum juga datang menemui beliau untuk menyampaikan wahyu yang dapat menjawab tiga pertanyaan kaum kafir Quraisy. Sementara itu, kaum kafir Quraisy semakin menjadi-jadi dalam mencemooh Rasulullah. Rasulullah tak hanya gelisah, tapi juga bersedih dan malu bercampur-aduk menjadi satu. Beliau tak tahu apa yang harus dikatakan kepada kaum kafir Quraisy.  

Lima belas malam lamanya Rasulullah menunggu datangnya wahyu. Akhirnya datanglah Malaikat Jibril untuk menyampaikan wahyu yang berisi jawaban atas tiga pertanyaan kaum kafir Quraisy. Pertama, kisah tentang para pemuda yang meninggalkan kaumnya pada zaman dahulu yang tertidur di dalam gua selama lebih dari tiga ratus tahun dengan ditemani seekor anjing yang setia (Al-Qur’an Surat Al-Kahfi ayat 9-26) yang di dalamnya ada teguran Allah kepada Rasulullah. Kedua, cerita tentang seorang petualang yang berhasil menjelajahi ujung bumi di timur dan barat (Al-Qur’an Surat Al-Kahfi ayat 83-101). Ketiga, tentang hakikat roh (Al-Qur’an Surat Al-Isra’ ayat 85).

Teguran Allah kepada Rasulullah tadi tertuang dalam Al-Qur’an Surat Al-Kahfi ayat 23-24. Rasulullah ditegur oleh Allah karena beliau telah memastikan sesuatu pada esok hari tanpa mengucapkan “in syaa Allah”.

"Dan jangan sekali-kali kamu mengatakan tentang sesuatu: 'Sesungguhnya aku akan mengerjakan ini besok pagi', kecuali (dengan menyebut): 'in syaa Allah'" (Al-Qur’an Surat Al-Kahfi ayat 23-24).

Terkait teguran tersebut, Ibnu Katsir dalam tafsirnya yang dikutip dalam https://alquranmulia.wordpress.com/ mengatakan bahwa hal ini merupakan bimbingan dari Allah kepada Rasulullah, jika hendak melakukan sesuatu pada masa yang akan datang, hendaklah mengembalikan hal itu kepada kehendak Allah yang mengetahui apa yang telah terjadi, yang akan terjadi, yang tidak akan terjadi, dan bagaimana akan terjadinya.  

Jika Rasulullah telah ditegur oleh Allah karena tidak mengucapkan “in syaa Allah” ketika berjanji atau berencana melakukan sesuatu pada waktu yang akan datang, maka kita sebagai umatnya seyogyanya juga mengucapkan “in syaa Allah” bila berjanji atau hendak melakukan sesuatu pada esok hari, lusa, atau pada waktu yang akan datang.

 

DAFTAR ACUAN

 

1. Buku

Asrifin An Nakhrawi. 2011. Ringkasan Asbaabun Nuzul, Sebab-Sebab Turunnya Ayat-Ayat Al-Qur’an. Surabaya: Ikhtiar.

K.H.Q. Shaleh dan H.A.A. Dahlan dkk. 2000. Asbābun Nuzūl, Latar Belakang Historis Turunnya Ayat-ayat Al-Quran. Cetakan ke-6. Bandung: CV Penerbit Diponegoro.

Muhammad Ali Ash-Shabuny. 2001. Cahaya Al-Qur’an, Tafsir Tematik Surat Al-Kahfi - Al-Mukminun. Jilid 4. Terjemahan: Munirul Abidin. Cetakan Pertama. Jakarta: Pustaka Al-Kautsar.

 

2. Internet

https://alquranmulia.wordpress.com/2015/07/17/tafsir-ibnu-katsir-surah-al-kahfi-ayat-23-24/

https://republika.co.id/berita/q8xrvi458/ketika-rasulullah-ditegur-karena-lupa-ucapkan-insya-allah

https://www.fiqhislam.com/agenda/syariah-akidah-akhlak-ibadah/123914-ketika-rasulullah-ditegur-karena-lupa-ucapkan-insya-allah

https://www.liputan6.com/hot/read/4712489/arti-insya-allah-dalam-percakapan-sehari-hari-dalil-dan-penggunaannya