Selasa, 18 November 2025

Pembunuhan Pertama di Dunia


 

Nabi Adam dan Hawa pada mulanya hidup di surga. Di tempat tersebut sesungguhnya mereka tidak kelaparan, tidak telanjang, tidak merasa haus, dan tidak pula terpapar sinar matahari. Namun karena bujukan iblis, akhirnya Nabi Adam dan Hawa melanggar larangan Allah, yakni memakan buah khuldi. Akibatnya, mereka berdua dikeluarkan dari surga dan tinggal di bumi. Allah kemudian memilih Adam sebagai utusan-Nya.

Dan Kami berfirman, “Hai Adam, diamilah oleh kamu dan istrimu surga ini, dan makanlah makanan-makanannya yang banyak lagi baik di mana saja yang kamu sukai, dan janganlah kamu dekati pohon ini yang menyebabkan kamu termasuk orang-orang yang zalim (Al-Qur’an Surat Al-Baqarah ayat 35).

Sesungguhnya kamu tidak akan kelaparan di dalamnya dan tidak telanjang; dan sesungguhnya kamu tidak akan merasa dahaga dan tidak (pula) akan ditimpa panas matahari di dalamnya. Kemudian setan membisikkan pikiran jahatnya kepadanya, dengan berkata, “Hai Adam, maukah saya tunjukkan kepada kamu pohon khuldi (keabadian) dan kerajaan yang tidak akan binasa?”. Maka keduanya memakan buah dari pohon itu, lalu tampaklah bagi keduanya aurat-auratnya dan mulailah keduanya menutupinya dengan daun-daun (yang ada di) surga, dan durhakalah Adam kepada Tuhan dan sesatlah ia. Kemudian Tuhannya memilihnya (menjadi nabi). Maka Dia menerima tobatnya dan memberinya petunjuk. Dia (Allah) berfirman, “Turunlah kamu berdua dari surga bersama-sama, sebagian kamu menjadi musuh bagi sebagian yang lain. Maka jika datang kepadamu petunjuk dari-Ku, lalu barang siapa yang mengikuti petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka (Al-Qur’an Surat Thaha ayat  118-123).

Setelah turun ke bumi, Nabi Adam dan Hawa kemudian dikaruniai keturunan. Berapa jumlah anak mereka, Al-Qur’an tidak menyebutkannya. Yang diabadikan di dalam Al-Qur’an justru perseteruan dua anak Nabi Adam. Para ahli tafsir mengatakan bahwa kedua anak tersebut bernama Qabil dan Habil. Kisah perseteruannya diabadikan dalam Al-Qur’an Surat Al-Māidah ayat 27-31.

27. Ceritakanlah kepada mereka kisah kedua putra Adam (Habil dan Qabil) ketika keduanya mempersembahkan kurban, maka diterima dari salah seorang dari mereka berdua (Habil) dan tidak diterima dari yang lain (Qabil). Ia (Qabil) berkata, “Aku pasti membunuhmu”. Habil berkata, “Sesungguhnya Allah hanya menerima (kurban) dari orang-orang yang bertakwa.

28. Sungguh, kalau kamu menggerakkan tanganmu kepadaku untuk membunuhku, aku sekali-kali tidak akan menggerakkan tanganku kepadamu. Sesungguhnya aku takut kepada Allah, Tuhan seru sekalian alam.

29. Sesungguhnya aku ingin agar kamu kembali dengan (membawa) dosa (membunuh)ku dan dosamu sendiri, maka kamu akan menjadi penghuni neraka, dan yang demikian itulah pembalasan bagi orang-orang yang zalim”.

30. Maka hawa nafsu Qabil menjadikannya menganggap mudah membunuh saudaranya, sebab itu dibunuhnyalah, maka jadilah ia  seorang di antara orang-orang yang merugi.

31. Kemudian Allah menyuruh seekor burung gagak menggali-gali di bumi untuk memperlihatkan kepadanya (Qabil) bagaimana dia seharusnya menguburkan mayat saudaranya. Qabil berkata, “Aduhai celaka aku, mengapa aku tidak mampu berbuat seperti burung gagak ini, lalu aku dapat memguburkan mayat saudaraku ini?” Karena itu, jadiah dia seorang di antara orang-orang yang menyesal.

Kebanyakan ahli tafsir mengatakan bahwa setiap Hawa melahirkan anak selalu kembar, laki-laki dan perempuan. Menurut syariat Nabi Adam, saudara kembar tidak boleh dinikahkan. Qabil misalnya, tidak boleh dinikahkan dengan perempuan yang lahir bersamanya alias saudara kembarnya. Demikian juga Habil, tidak boleh dinikahkan dengan saudara kembarnya.

 Ketika usia Qabil dan Habil menginjak dewasa, Allah memberi petunjuk kepada Nabi Adam agar menikahkan anak-anaknya. Aturan yang berlaku adalah tidak diperbolehkan menikahi saudara kembarnya sendiri. Cara tersebut disampaikan oleh Nabi Adam kepada anak-anaknya. Qabil akan dinikahkan dengan perempuan yang merupakan saudara kembar Habil; sedang Habil akan dinikahkan dengan perempuan yang merupakan saudara kembar Qabil.

Qabil tidak mau menerima ketentuan dari ayahnya. Ia menolak dinikahkan dengan saudara kembar Habil. Alasannya, perempuan yang akan dinikahkan dengan Habil adalah saudara kembarnya, saudara yang lahir bersamanya.  Itulah sebabnya ia merasa dirinyalah yang berhak menikahi saudara kembarnya daripada Habil. Terlebih, saudara kembarnya berparas cantik, lebih cantik daripada saudara kembar Habil.

Meskipun ketentuan yang disampaikan oleh Nabi Adam itu berasal dari Allah, tapi Qabil lebih menuruti hawa nafsunya daripada menaati perintah ayahnya. Untuk menyelesaikan permasalahan yang dihadapi oleh kedua anaknya, Nabi Adam kemudian memerintahkan kepada Qabil dan Habil untuk berkurban di jalan Allah.

Kedua anak Nabi Adam tersebut memiliki karekter yang berbeda. Qabil adalah anak yang egois dan mementingkan diri sendiri. Sementara Habil merupakan anak yang baik dan shaleh, selalu berbuat baik kepada sesama, taat beribadah, dan taat atas apa yang diperintahkan kepadanya.

Keduanya kemudian melaksanakan kurban. Qabil yang egois, mempersembahkan hasil panennya yang jelek untuk kurban. Ia memang seorang petani, sehingga kurbannya berupa hasil panen. Sementara Habil yang seorang peternak, mempersembahkan seekor kambing untuk kurban. Oleh karena Habil merupakan anak yang taat beribadah, ia tidak asal berkurban, melainkan ia mempersembahkan kambing yang gemuk untuk kurban.

Untuk menandai kurban siapa yang diterima, maka kurban yang disambar api itulah  yang diterima. Qabil dan Habil lalu meletakkan kurban masing-masing di tempat yang tinggi. Tak lama berselang, turunlah api menyambar kambing milik Habil. Dengan demikian, berarti kurban Habil-lah yang diterima.

Qabil yang hatinya dipenuhi hawa nafsu, makin dengki kepada Habil karena kurban yang diterima adalah miliki saudaranya, dan bukan miliknya. Ia kemudian mengancam kepada saudara tersebut.

“Aku pasti akan membunuhmu”.

 “Sesungguhnya Allah hanya menerima kurban orang-orang yang bertakwa”, jawab Habil.

Sungguh, jika kamu menggunakan tanganmu untuk membunuhku, maka sekali-kali saya tidak akan menggunakan tanganku untuk membunuhmu, karena saya takut kepada Allah, Tuhan Penguasa Alam. Saya ingin mengembalikan dosaku untukmu dan dosamu sendiri karena membunuhku, sehingga kamu akan menjadi penghuni neraka. Itulah balasan bagi orang-orang yang zalim”, lanjut Habil.

Dikarenakan hatinya telah diliputi hawa nafsu, maka ketika memiliki kesempatan, Qabil betul-betul melaksanakan niatnya. Qabil membunuh Habil. Dengan membunuh Habil, Qabil berkeyakinan bahwa ia akan dapat menikahi saudara kembarnya sendiri dan hidup bahagia. Namun apa yang terjadi setelah Habil berhasil dibunuh? Ternyata dengan membunuh Habil, bukannya ia beruntung, melainkan termasuk salah satu di antara orang-orang yang merugi. Kematian Habil sama sekali tidak mendatangkan kebahagiaan bagi Qabil, meskipun orang yang dianggap sebagai penghalang untuk dapat mempersunting saudara kembarnya itu telah tewas di tangannya.

Qabil dicekam rasa takut dan bingung begitu mengetahui saudaranya meninggal. Ia tak tahu apa yang harus diperbuat.  Ia belum pernah memperoleh contoh bagaimana merawat jenazah. Habil adalah orang yang pertama kali meninggal, dan Qabil adalah pembunuhnya.

Beberapa saat kemudian, Allah mengutus dua ekor burung gagak agar menjadi pelajaran bagi Qabil. Dua ekor gagak tersebut saling bertarung hingga ada yang meregang nyawa. Gagak yang menang dalam pertarungan tersebut kemudian mencakar-cakarkan kakinya ke tanah untuk membuat lubang. Setelah lubang selesai dibuat, ditariklah bangkai gagak yang tewas ke dalam lubang yang telah dibuatnya, kemudian diurug.

Qabil yang sedari tadi memperhatikan gerak-gerik burung gagak tersebut, sempat terhenyak saat melihat salah satu dari kedua burung tersebut memberinya pelajaran.

“Aduh, celaka aku! Mengapa aku tidak mampu berbuat seperti burung gagak itu?”, Qabil menyadari ketololannya.

Qabil yang tadinya kebingungan menghadapi jasad saudaranya, kini telah memperoleh pelajaran dari seekor burung gagak. Qabil segera menggali lubang dan kemudian menguburkan Habil seperti yang diajarkan oleh burung gagak.

  

Daftar Acuan

 

Fatchur Rochman AR. 1995. Kisah-Kisah Nyata dalam Al Qur’an. Surabaya: Apollo.

H. Ali Mas’ud. 2013. Kehancuran bagi Orang yang Serakah dan Iri Hati. Surabaya: Amelia.

Hamid bin Ahmad. 2010. Hukuman dan Azab bagi Mereka yang Zalim. Surabaya: Amelia.

Majdiy Muhammad asy-Syahawiy. 2003. Kisah-Kisah Binatang dari Al-Qur’an dan Al-Hadis. Yogyakarta: Mitra Pustaka.

Muhammad Ali Ash-Shabuny. 2001. Cahaya Al-Qur’an, Tafsir Tematik Surat Al-Baqarah – Al-An’am. Jilid 1. Terjemahan: Munirul Abidin. Jakarta: Pustaka Al-Kautsar.

Muhammad Fairuz NA. 2011. Koleksi Kisah 25 Nabi dan Rasul. Cetakan Kedua. Surabaya: Pustaka Media.

Mulyono Atmosiswartoputra. 2025. 29 Hewan yang Namanya Disebut dalam Al-Qur’an. Majalengka: PT Pusat Literasi Dunia.

Said Yusuf Abu Aziz. 2005. Azab Allah bagi Orang-Orang Zalim. Bandung: CV Pusaka Setia. 

Shalah Al-Khalidy. 2000. Kisah-Kisah Al-Qur’an, Pelajaran dari Orang-Orang Dahulu. Jilid 3. Jakarta: Gema Insani Press.

 

Tidak ada komentar :