Jumat, 28 Maret 2025

MUSEUM SUMPAH PEMUDA, Ikrar Persatuan Pemuda dari Rumah Indekos


Belajar tak mengenal usia, demikian kata bijak yang sering kita dengar. Belajar pun dapat dilakukan kapan saja, di mana saja, dan dengan siapa saja. Berkunjung ke museum pun dapat dikategorikan belajar, sebab dengan berkunjung ke museum kita dapat mengetahui dan mempelajari sejarah, budaya, seni, dan ilmu pengetahuan. Bahkan tak hanya itu, dengan mengunjungi museum, wawasan dan pengetahuan kita juga akan bertambah.

Kali ini saya tertarik untuk mengunjungi Museum Sumpah Pemuda yang terletak di Jalan Kramat Raya Nomor 106, RT 2 / RW 9, Kelurahan Kwitang, Kecamatan Senen, Jakarta Pusat. Ketertarikan saya untuk mengunjungi museum tersebut, selain ingin tahu tempat Kongres Pemuda Kedua yang menghasilkan Sumpah Pemuda, juga ingin tahu seperti apa semangat para pemuda kala itu yang ingin lepas dari belenggu kolonial. Tempat kongres yang menghasilkan Sumpah Pemuda itu kini dijadikan Museum Sumpah Pemuda.

Sebagai orang yang tinggal di Kabupaten Tangerang dan dekat dengan stasiun kereta api, maka ketika menuju Jakarta, saya pun menggunakan moda transportasi commuterline dan turun di Stasiun Tanah Abang. Sesungguhnya ada stasiun yang lebih dekat dengan lokasi Museum Sumpah Pemuda, yaitu Stasiun Pasar Senen. Namun untuk meneruskan perjalanan ke museum tersebut, tergolong jauh bila berjalan kaki, kecuali jika naik ojek atau angkutan kota (angkot) dari Terminal Pasar Senen yang terletak di depan Stasiun Pasar Senen. Itulah sebabnya saya lebih memilih turun di Stasiun Tanah Abang, sebab bila turun di Stasiun Pasar Senen waktu perjalanan menjadi lebih lama karena jarak tempuhnya jadi lebih jauh dari rumah.

Dari Tanah Abang saya melanjutkan perjalanan dengan naik bus Transjakarta, turun di halte dekat Atrium, lalu berjalan kaki menuju Museum Sumpah Pemuda, melawan arus laju kendaraan dari arah Salemba. Jarak tempuhnya agak lumayan jauh, mungkin lebih dari 500 meter.

Andai di depan museum tidak ada papan nama, mungkin orang mengira bahwa bangunan tersebut adalah rumah tempat tinggal. Hal itu tidaklah salah, sebab pada awalnya bangunan tersebut memang merupakan rumah milik seseorang. 

Di museum, petugas yang melayani pengunjung membeli tiket masuk berada di teras depan. Tiket masuk museum sebesar Rp 5.000,-. Saya tidak tahu apakah harga tiketnya dibedakan antara anak-anak atau anak sekolah dan mahasiswa dengan umum atau tidak, karena saya tidak meminta informasi tentang hal itu. Di teras yang cukup lebar dan panjang, tersedia dua meja dengan masing-masing meja tersedia empat kursi. Meja dan kursi ini bisa digunakan untuk istirahat bagi pengunjung yang merasa lelah. 

Museum Sumpah Pemuda (Sumber foto: Mulyono Atmosiswartoputra)

 

Koleksi Museum Sumpah Pemuda


Setelah membeli tiket, saya memasuki ruang-ruang yang ada di Museum Sumpah Pemuda. Saya tidak menemukan nama ruang yang saya kunjungi. Nama ruang baru saya ketahui ketika saya berada di ruang terbuka yang ada di bagian belakang, yang dipampang di semacam papan pengumuman. 

Jumlah ruang untuk memamerkan koleksi museum ada delapan, yakni Ruang Pengenalan, Ruang Organisasi, Ruang Pemuda Bergerak, Ruang Kongres Pemuda Kedua, Ruang Rumah Kos Kramat 106, Ruang Indonesia Raya, Ruang Setelah Sumpah Pemuda, dan Ruang Harapan. 

Denah Museum Sumpah Pemuda (Sumber foto: Mulyono Atmosiswartoputra)

  

Ruang pertama yang dimasuki pengunjung bernama “Ruang Pengenalan”. Dari pintu masuk, bila kita melihat ke arah tembok di sebelah kanan, maka kita akan melihat peta Weltevreden dengan ukuran yang cukup besar yang dipampang di tembok. Kita dikenalkan dengan yang namanya Weltevreden, yakni sebuah kawasan yang kini dikenal dengan nama Jakarta Pusat.

Di sebelah kiri peta (bila dilihat dari sudut pandang pengunjung), dipajang foto Bung Karno saat berkunjung dan berfoto bersama dengan para anggota Perhimpunan Pelajar-Pelajar Indonesia (PPPI) di rumah indekos Kramat 106 pada tahun 1936. Foto ini dipasang di pintu yang tidak digunakan lagi.

Menurut Wikipedia, kata indekos diserap dari frasa bahasa Belanda “in de kost”. Definisi “in de kost” sebenarnya adalah “makan di dalam”, tapi dapat pula berarti “tinggal dan ikut makan” di dalam rumah tempat menumpang tinggal. Saat ini kata indekos lebih sering diucapkan “kos” saja.

Di dekat foto Bung Karno, terdapat informasi tentang “Sejarah Gedung” yang dihiasi foto peserta Sumpah Pemuda Kedua dan foto Sie Kong Lian sewaktu masih muda. Gedung dimaksud adalah rumah milik Sie Kong Lian di Kramat 106 yang dipakai oleh para pemuda sebagai tempat Kongres Pemuda Kedua yang menghasilkan Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 1928. Informasi ini juga dipasang di pintu yang sengaja ditutup karena tidak dipakai.

Di depan informasi tentang “Sejarah Gedung” terdapat meja hias dengan seperangkat sarana persembahyangan seperti dupa dan yang lain serta foto seorang lelaki tua (mungkin Sie Kong Lian di masa tua) yang diletakkan di atas meja.

Di ruang ini juga terdapat koleksi berupa media yang berisi foto beberapa tokoh. Jika dilihat dari depan, maka foto dan tulisannya seperti terpotong-potong karena dicetak di media yang tampak seperti rolling door. Namun bila dilihat dari samping, maka foto tersebut tampak utuh dan tulisannya pun bisa dibaca, yakni “Budi Utomo” dan “Indische Partij”. Adapun foto-fotonya adalah foto para tokoh Budi Utomo dan tokoh Indische Partij. 

Sebagian koleksi di “Ruang Pengenalan” (Sumber foto: Mulyono Atmosiswartoputra)


Di pintu ketiga yang juga tidak dipakai lagi, terdapat tulisan berbunyi, “Dengan bekerja sebagai redaktur koran, saya bisa menggerakkan hati bangsa”. Tulisan yang ditulis di atas akrilik dengan menggunakan cutting sticker tersebut berasal dari ucapan Tirto Adhi Soerjo, tokoh pers dan tokoh kebangkitan nasional Indonesia.

Di tembok sebelah kiri, dipajang Timeline Perjalanan Sumpah Pemuda yang di sebelah kirinya (dilihat dari sudut pandang pengunjung) terdapat foto Bung Karno yang sedang berpidato pada peringatan ke-30 Hari Sumpah Pemuda tahun 1958.

Selesai melihat-lihat koleksi di “Ruang Pengenalan”, saya lalu masuk ke “Ruang Organisasi”. Ruang ini terletak di bagian depan gedung, sejajar dengan ”Ruang Pengenalan”. Ruang ini dapat dimasuki dari “Ruang Pengenalan” melalui pintu masuk yang ada di sebelah kiri. Sesuai dengan namanya, koleksi yang dipamerkan di ruang ini adalah organisasi-organisasi pergerakan nasional seperti Jong Java, Jong Sumatranen Bond, Jong Islamieten Bond, Pemuda Kaum Batawi, Jong Bataks Bond, Sekar Rukun, Jong Celebes, dan Jong Ambon.

Di ruang ini juga dipamerkan vandel dari beberapa organisasi yang dipajang di dalam almari khusus. Di tengah-tengah ruang, terdapat etalase yang berisi media massa dari organisasi pemuda kala itu, seperti Jong Islamieten Bond dan Jong Java, maupun foto-foto kegiatan para pemuda waktu itu.

Di jendela yang sudah tidak digunakan lagi, dipajang tulisan di atas akrilik. Tulisan yang dikutip dari koran Indonesia Merdeka, Maret 1924 itu berbunyi, “Tujuan bersama KEMERDEKAAN INDONESIA menuntut berwujudnya suatu gerakan massa yang menyadari dan menyadarkan diri kepada kekuatan sendiri”.   

Ruang Organisasi, difoto dari pintu masuk (Sumber foto: Mulyono Atmosiswartoputra)

 

Ruang berikutnya adalah “Ruang Pemuda Bergerak”. Di ruang ketiga ini dijumpai patung dua tokoh pemuda di depan meja bundar dengan beberapa buku di atas meja. Tokoh pemuda yang satu duduk di atas kursi, sedang yang satunya lagi berdiri. Kedua tokoh pemuda tersebut tampak sedang membicarakan sesuatu. Sangat disayangkan tidak ada keterangan siapa kedua tokoh pemuda tersebut dan sedang membicarakan apa. Namun informasi yang saya peroleh dari salah satu pegawai museum, kedua tokoh pemuda tersebut adalah Sugondo Joyopuspito dan Abdullah Sigit.

Sugondo Joyopuspito dan Abdullah Sigit di “Ruang Pemuda Bergerak” (Sumber foto: Mulyono Atmosiswartoputra)

 

Selain patung kedua tokoh pemuda, di ruang ini juga ada audiovisual yang menayangkan foto-foto Kongres Pemuda. Juga dipajang keterangan tentang Manifesto 1925, Menuju Kongres Pemuda Kedua, dan PPPI.

Di jendela yang selalu ditutup karena sudah tidak digunakan lagi, yang posisinya di belakang tokoh pemuda yang sedang duduk, terdapat tulisan di atas akrilik yang berasal dari ucapan Muhammad Yamin, “Dalam bahasamu terletak JIWA BANGSAMU. Agungkanlah bahasa jiwamu”.

Sementara di tembok yang lurus dengan pintu masuk dari “Ruang Organisasi”, dipampang lebar-lebar hasil Kongres Pemuda-Pemuda Indonesia di Weltevreden, 27-28 Oktober 1928.

Ruang keempat adalah “Ruang Kongres Pemuda Kedua”. Tepat di samping kanan pintu masuk, kita jumpai patung tokoh-tokoh pemuda yang sedang memimpin kongres. Mereka adalah Sugondo Joyopuspito (Ketua Kongres Pemuda Kedua, berdiri mengepalkan tangan), Amir Syarifuddin, Joko Mursaid, Kacasungkana (tiga orang ini berada di sebalah kanan Sugondo Joyopuspito atau sebelah kiri dari sudut pandang pengunjung), Muhammad Yamin (duduk mengepalkan tangan), dan Rochyani Su’ud. Sementara yang berdiri dan memainkan biola adalah W.R. Supratman. 

Para pemimpin Kongres Pemuda II (Sumber foto: Mulyono Atmosiswartoputra)

 

Di ruang ini terdapat audiovisual yang menggambarkan suasana kongres. Audiovisual ini bukan asli, tapi reka adegan. Ada tiga perempuan yang turut bersuara menurut audiovisual tersebut, yakni Purnomowulan, Emma Puradireja, dan Siti Sundari. Sementara di sudut ruang ini dipasang stand figure Emma Puradireja dan Siti Sundari.

Berbeda dengan ruang-ruang lain, “Ruang Kongres Pemuda Kedua” ini tampaknya berasal dari dua kamar yang dijadikan satu dengan cara membobok salah satu sisi tembok. Di ruang yang tampak berasal kamar yang dibobok temboknya, terdapat diorama Kongres Pemuda Kedua yang ditempatkan di dalam almari khusus, peta Indonesia dengan judul “Pemuda dan Indentitas Indonesia”, putusan Kongres Pemuda-Pemuda Indonesia yang dipampang di tembok dengan ukuran lebar, stand figure Sartono, dan sebuah informasi tentang “28 Oktober 1928”.

Dari informasi tentang “28 Oktober 1928” kita tahu bahwa ruang ini adalah saksi bisu lahirnya konsep kebangsaan dalam ikrar Sumpah Pemuda yang dirumuskan oleh pemuda dan pemudi Indonesia pada malam penutupan Kongres Pemuda Kedua. Di ruang ini kongres berlangsung selama 6 jam, dimulai pukul 17.30 sampai dengan pukul 23.30. Di ruang ini pula, lagu kebangsaan Indonesia Raya diperdengarkan untuk pertama kalinya oleh penciptanya, W.R. Supratman. 

Diorama Kongres Pemuda II (Sumber foto: Mulyono Atmosiswartoputra)

 

Keluar dari “Ruang Kongres Pemuda Kedua”, pengunjung bertemu dengan ruang terbuka. Di ruang terbuka ini, pengunjung bisa melihat beberapa koleksi. Di sebelah kanan pintu keluar misalnya, kita jumpai empat patung setengah badan, yakni patung A.K. Gani, Arnold Mononutu, Muwardi, dan Sarmidi Mangunsarkoro. Di sebelah kiri pintu keluar terdapat empat patung setengah badan juga, yakni patung Bahder Johan, Siti Sundari, Emma Puradireja, dan Sartono. Masih ada empat patung setengah badan lagi, yang posisinya dekat dengan “Ruang Rumah Kos Kramat 106”, yakni patung M. Rochyani Su’ud, Sutan Muhammad Amin, J. Leimena, dan R. Kacasungkana. Semua patung tersebut ditempatkan di teras, sehingga tidak kehujanan saat musim penghujan.

Lurus dengan pintu keluar “Ruang Kongres Pemuda Kedua”, terdapat Monumen Persatuan Pemuda 1928, berwujud patung tangan mengepal. Monumen tersebut, di bagian depan bawah, berisi Sumpah Pemuda; sedangkan di bagian kiri bawah berisi nama 10 organisasi pemuda, yakni Jong Java, Jong Sumatranen Bond, Jong Ambon, Jong Celebes, Jong Bataks Bond, Sekar Rukun, Pemuda Kaum Betawi, Pemuda Indonesia, Jong Islamieten Bond, dan Perhimpunan Pelajar-Pelajar Indonesia (PPPI). Organisasi-organisasi pemuda inilah yang ikut Kongres Pemuda Kedua. 

Monumen Persatuan Pemuda 1928 (Sumber foto: Mulyono Atmosiswartoputra)

 

Sementara di ruang terbuka sebelah kiri dari pintu keluar “Ruang Kongres Pemuda Kedua”, terdapat relief Sejarah Perjuangan Pemuda.

Selesai melihat-lihat koleksi di ruang terbuka, saya lalu masuk ke ruang kelima, yakni “Ruang Rumah Kos Kramat 106”. Ruang ini terdiri atas dua ruang.

Yang pertama adalah ruang yang berisi foto-foto keluarga Sie Kong Lian, meja dan kursi, serta biola di atas meja yang lain. Di jendela yang ditutup, terdapat tulisan yang digoreskan di atas akrilik. Kata-kata yang berasal dari ucapan keluarga Sie Kong Lian itu berbunyi, Museum Sumpah Pemuda sangat berharga bagi kami, tetapi jauh lebih berharga untuk NKRI. Maka dari itu kami menghibahkannya untuk negara Indonesia”. Di dekat stand figure Sie Kong Lian terdapat keterangan mengenai pengelolaan gedung yang kini menjadi Museum Sumpah Pemuda, dan keterangan pernah dipakai apa saja gedung itu. 

Keluarga Sie Kong Lian (Sumber foto: Mulyono Atmosiswartoputra)

 

Yang kedua adalah ruang yang menceritakan rumah di Jalan Kramat Nomor 106. Di samping pintu masuk terdapat stand figure A.K. Gani dan Amir Syarifuddin yang masing-masing sedang berdiri. Di sebelah kiri Amir Syarifudin terdapat sepeda onta dan plang “Kramat Straat”. Di ruang ini juga dilengkapi dengan audiovisual yang menceritakan Rumah Indekos Kramat 106. Sebagai misal, ada potret salah satu sudut kamar di pondokan tersebut, ada potret dua pelajar STOVIA (School tot Opleiding van Inlandsche Artsen atau Sekolah Dokter Jawa) sedang berbaring di pondokan Kramat 106, ada foto-foto yang menggambarkan suasana rumah indekos Kramat 106 dan sekitarnya, dan lain-lain.

Amir Syarifuddin, sepeda onta, dan plang “Kramat Straat” (Sumber foto: Mulyono Atmosiswartoputra)

 

Di ruang ini terdapat tulisan yang digoreskan di atas akrilik, berbunyi “Makan pagi, siang, dan malam di Langen Siswo lauk pauknya terdiri atas setengah telur goreng, sekerat daging, sambal goreng, tempe, masakan sayuran (lodeh, buncis, dsb), sambal bajak, dan pisang sebuah. Nasi tidak terbatas. Strategi saya: nasi piring pertama dimakan dengan sayur dan sambal bajak; nasi piring kedua dengan daging, tempe; nasi piring ketiga dengan setengah ceplok telur, kemudian saya makan pisang untuk menghilangkan rasa amis. Kadang-kadang di hari tua ini saya merasa nostalgia akan sayur lodeh dan sambal bajak khas Langen Siswo”. Tulisan ini berasal dari pengakuan Prof. Dr. Poorwo Soedarmo, Bapak Gizi Indonesia.

Lalu apa Langen Siswo itu? Seperti dapat kita lihat dari informasi yang dipajang di ruang ini, pelajar Jong Java yang bersekolah di STOVIA menggunakan rumah indekos Kramat 109 sebagai tempat latihan kesenian. Mereka bergabung dalam komunitas kesenian Jawa di STOVIA, yaitu Langen Siswo. Para anggota Langen Siswo tinggal dan makan di rumah indekos Kramat 106 dengan biaya sewa senilai f 12,50. Biaya tersebut sudah termasuk makan tiga kali sehari. Namun ada juga para pelajar yang hanya membayar sewa kos senilai f 7,50. Mereka memilih untuk membeli atau memasak makanan sendiri.

Ruang keenam adalah “Ruang Indonesia Raya”. Koleksi di ruang ini banyak berhubungan dengan lagu kebangsaan Indonesia Raya. Misalnya di ruang ini ada profil W.R. Supratman sebagai pencipta lagu Indonesia Raya, piringan hitam rekaman lagu Indonesia Raya, notasi lagu Indonesia Raya dan gramofon yang diletakkan di atas meja, Tionghoa dan Indonesia Raya, panitia lagu Indonesia Raya tahun 1944, biola milik W.R. Supratman, dan dua tulisan yang digoreskan di atas akrilik yang dipasang di dua jendela yang ditutup. Tulisan pertama berasal dari kata-kata W.R. Supratman, “Saya toh sudah beramal, berjuang dengan caraku, dengan biolaku”; sedang tulisan kedua berasal dari kata-kata Ir. Soekarno, “Jangan ada suatu golongan memilih lagu baru, ialah kepada lagu Indonesia Raya, setialah kepada Pancasila”. 

Notasi lagu Indonesia Raya dan gramofon (Sumber foto: Mulyono Atmosiswartoputra)

 

Tentang gramofon yang sudah tidak dikenal oleh anak-anak masa kini, Wikipedia menerangkan demikian. Gramofon adalah mesin untuk mereproduksi suara dan musik yang direkam pada piringan hitam. Alat ini populer pada tahun 1900-an sampai tahun 1970-an. Gramofon ditemukan oleh Thomas Alva Edison pada 1877.

Ruang ketujuh adalah “Ruang Setelah Sumpah Pemuda”. Di ruang ini ada sepeda motor Vespa milik Angkatan 1966 bernama Hatta Saleh. Ia merupakan aktivis gerakan pemuda tahun 1966, anggota organisasi Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI). Vespa ini digunakan Hatta Saleh saat menghubungi posko-posko mahasiswa di Jakarta.

Di ruang ini juga terdapat penjelasan tentang Kongres Bahasa Indonesia, Kongres Perempuan, Indonesia Muda, dan Kepanduan. Di samping itu, ada juga audiovisual yang berisi foto-foto dan keterangan peristiwa-peristiwa yang terjadi setelah Sumpah Pemuda 1928 seperti Pidato Indonesia Menggugat (1930), Menteng 31, Rengasdeklok, Tritura 1966, Malari-Tritura Baru 1974, dan Reformasi 1998. Di dalam almari khusus, terdapat koleksi patung laki-laki anggota Pandu (sekarang Pramuka), sabuk Hibul Wathan, celana Pandu, kotak PPPK, bendera INPO (Indonesische Nationale Pandvinderij Organizatie atau Organisasi Pandu Nasional Indonesia), tanda tingkatan Kepanduan Bangsa Indonesia (KBI), tanda pengenal Kepanduan Muhammadiyah, pisau lipat, peluit, pisau belati KBI, buku catatan KBI, duk KBI warna merah putih, dan duk/dasi Hizbul Wathan warna hijau.

Di pintu yang selalu tertutup terdapat kata-kata Sutan Takdir Alisjahbana yang ditulis di atas akrilik. Bunyinya, “Terdengarkah itu olehmu, wahai Angkatan Baru? Rebut gelanggang lapang di sinar terang! ENGKAU RAJA ZAMANMU”.

Vespa milik Hatta Saleh (Sumber foto: Mulyono Atmosiswartoputra)

 

Ruang kedelapan atau terakhir adalah “Ruang Harapan”. Di ruang ini, selain berisi foto tokoh-tokoh Sumpah Pemuda seperti A.K. Gani,  W.R. Supratman, Muwardi, Sutan Mohammad Amin, Sarmidi Mangunsarkoro, J. Leimena, dan Arnold Mononutu; juga terdapat foto tokoh-tokoh “Pemuda Indonesia dalam Forbes 30 Under 30”. Forbes 30 Under 30 adalah penghargaan kepada anak-anak muda berprestasi yang berusia di bawah 30 tahun. Tokoh-tokoh pemuda tersebut adalah Anbita Nadine Siregar, Nashin Mahtani, Rendria Labde, Maudi Ayunda, Tania Soerianto, Lalu Mohammad Zohri, dan Rafi Putra Arriyan.

Kata-kata Nashin Mahtani, salah satu anak muda yang mendapat penghargaan Forbes 30 Under 30 turut dipampang di jendela yang selalu ditutup. Demikian kata Nashin Mahtani, “Pemuda hari ini akan menghadapi bencana akibat krisis iklim tiga kali lipat lebih banyak dari generasi sebelumnya. Para pemuda harus aktif bergerak secara gotong royong untuk mengurangi resikonya”.

Tokoh-tokoh Sumpah Pemuda (Sumber foto: Mulyono Atmosiswartoputra)

 

Di ruang ini terpampang juga foto orang-orang yang menyampaikan harapan dan tekadnya bagaimana cara mengisi kemerdekaan.

Keluar dari “Ruang Harapan” yang merupakan ruang terakhir, kita berada di teras depan Museum Sumpah Pemuda sisi kiri. Di sebelah kiri pintu keluar, terdapat tiga prasasti yang diapit oleh dua patung tokoh Sumpah Pemuda setengah badan: Muhammad Yamin dan Sugondo Joyopuspito.  Prasasti pertama berhubungan dengan peresmian Gedung Sumpah Pemuda yang diresmikan oleh Presiden Soeharto, 20 Mei 1974. Prasasti kedua berhubungan dengan pemugaran Gedung Ex-Indonesische Club-Gebouw yang dipugar sejak 5 April 1978 dan selesai 20 Mei 1978 pada zaman Gubernur Ali Sadikin. Prasasti ketiga berhubungan dengan penghibahan Gedung Sumpah Pemuda di Jalan Kramat 106 Jakarta Pusat kepada negara yang ditandatangani oleh dokter Yanti Silman (cucu Sie Kong Lian) dan Hilmar Farid (Direktur Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi) atas nama Pemerintah Indonesia, pada 28 Oktober 2021. 

Tiga prasasti yang diapit dua tokoh Sumpah Pemuda (Sumber foto: Mulyono Atmosiswartoputra)

 

Apabila kita membaca Buku Panduan Museum Sumpah Pemuda yang diterbitkan oleh Museum Sumpah Pemuda pada 2010, tampak ada perbedaan nama ruang dan isi koleksinya pada tahun itu dengan saat saya mengunjungi museum tersebut (2025). Menurut dugaan saya, sebelum saya berkunjung ke Museum Sumpah Pemuda, kemungkinan pernah ada perubahan tata pameran sehingga terdapat perbedaan. Hanya saja, kapan perubahan tata pameran tersebut terjadi, entahlah! 

 

Weltevreden

 

Seperti diterangkan di atas, begitu kita memasuki “Ruang Pengenalan” dan pandangan diarahkan ke tembok sebelah kanan, maka kita akan melihat peta Weltevreden dengan ukuran yang cukup besar.  

Menurut informasi yang menyertai peta tersebut, Weltevreden adalah sebuah kawasan di Hindia Belanda yang saat ini menjadi wilayah Kota Jakarta Pusat. Kawasan Weltevreden mulai dikembangkan sejak abad ke-17 ketika Anthonij Paviljoun membangun rumah-rumah untuk peristirahatan di tanah pemberian Pemerintah Kolonial Belanda di sekitar Groot Militair Hospital yang saat ini bernama Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Subroto.

Sejak saat itu, pembangunan di sekitar Weltevreden mulai dilakukan. Pada perkembangan selanjutnya, seorang tuan tanah bernama Yustinus Vink membangun Pasar Tanah Abang dan Pasar Senen pada 1735. Pembangunan kedua pasar tersebut membuat orang-orang Belanda dan Eropa lainnya di Batavia mulai mengembangkan kawasan Weltevreden.

Pada abad ke-18, Gubernur Jenderal Vereenigde Oost-Indische Compagnie (VOC) Pieter Gerardus van Overstraten menjadikan Weltevreden sebagai pusat pemerintahan dan kediaman Gubernur Jenderal yang baru. Pembangunan di Weltevreden terus dilakukan mulai dari Gedung Lembaga Kebudayaan Batavia (sekarang bernama Museum Nasional Indonesia), tempat hiburan, perumahan elit Menteng, stasiun kereta api, berbagai lembaga pendidikan tinggi seperti STOVIA (School tot Opleiding van Inlandsche Artsen atau Sekolah Dokter Jawa) dan RHS (Rechts Hooge School atau Sekolah Tinggi Hukum) Batavia.

Lalu apa hubungan Weltevreden dengan Museum Sumpah Pemuda? Jawaban dari pertanyaan di atas dapat kita ketahui dari koleksi yang dipajang di sudut “Ruang Pengenalan”. Pada sudut kanan ruang ini terdapat informasi tentang “Sejarah Gedung” yang dihiasi foto peserta Sumpah Pemuda Kedua di rumah indekos Kramat 106 dan foto Sie Kong Lian muda. Informasi tentang “Sejarah Gedung” tersebut, demikian. 

STOVIA dan RHS Batavia didirikan setelah adanya Politik Etis. Yang bersekolah di kedua lembaga pendidikan tersebut berasal dari berbagai daerah di wilayah Hindia Belanda. Para pelajar tersebut kemudian memutuskan untuk menyewa rumah indekos sebagai tempat tinggal.

Rumah indekos di Kramat 106 menjadi saksi sebuah peristiwa penting dalam perjalanan sejarah perjuangan bangsa Indonesia. Di tempat inilah kesadaran dan semangat persatuan sebagai sebuah bangsa diikrarkan dalam peristiwa Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 1928.

Lalu siapa Sie Kong Lian? Dia adalah pemilik rumah indekos di Kramat 106. Sejak 1920 Sie Kong Lian mulai membuka bisnis penyewaan rumah indekos. Setelah para pelajar lulus, rumah indekos ini disewakan kepada Pang Tjem Jang (1934-1937) sebagai rumah tinggal. Setelah itu, rumah disewakan kepada Loh Jing Tjoe (1937-1948) untuk digunakan sebagai toko bunga. Setelah kemerdekaan, rumah tersebut digunakan sebagai hotel, lalu Kantor Bea Cukai. Pada 3 April 1973 rumah tersebut dipugar oleh Pemerintah Daerah Khusus Ibukota Jakarta, selesai 20 Mei 1973. Satu tahun kemudian, pada 20 Mei 1974, gedung Kramat 106 diresmikan sebagai Gedung Sumpah Pemuda.

Dari keterangan tersebut, nyata bahwa rumah indekos milik Sie Kong Lian yang berlokasi di Kramat 106 yang kemudian dijadikan Museum Sumpah Pemuda adalah sebuah bangunan yang berada di wilayah yang dulu disebut Weltevreden. Tidaklah berlebihan jika di “Ruang Pengenalan”, ruang pertama kali pengunjung memasuki museum, dikenalkan dengan Weltevreden.

Menurut H. Sutrisno Kutoyo dalam bukunya berjudul Prof. H. Muhammad Yamin SH., Cita-Cita dan Perjuangan Seorang Bapak Bangsa, saat itu istilah mahasiswa belum dikenal. Muhammad Yamin pernah mengusulkan istilah “mahasiswa” untuk untuk menerjemahkan kata “student”, tapi rupanya kalangan pemuda belum dapat mererima istilah baru tersebut. Mereka lebih memilih menerjemahkan “student” dengan “pelajar” daripada “mahasiswa”. Tak mengherankan jika “student” STOVIA dan RHS saat itu juga disebut “pelajar”, bukan “mahasiswa”. Demikian pula dengan Perhimpunan Pelajar-Pelajar Indonesia (PPPI) yang didirikan pada September 1926, adalah suatu perhimpunan para student atau mahasiswa (menurut istilah sekarang) dari berbagai perguruan tinggi yang waktu itu sudah ada.

 

Organisasi Pemuda yang Lahir Sebelum Kongres Pemuda Pertama

 

Sumpah Pemuda bukan merupakan peristiwa sejarah yang berdiri sendiri. Ada rentetan peristiwa sebelumnya yang memengaruhi lahirnya Sumpah Pemuda. Timeline Perjalanan Sumpah Pemuda yang dipajang di tembok sebelah kiri “Ruang Pengenalan” bisa memberikan gambaran kepada kita peristiwa-peristiwa sebelumnya yang memengaruhi lahirnya Sumpah Pemuda. 

Timeline Perjalanan Sumpah Pemuda (Sumber foto: Mulyono Atmosiswartoputra)

 

Akibat diberlakukannya Cultuurstelsel atau Tanam Paksa oleh Pemerintah Kolonial Belanda di bawah Gubernur Jenderal Johannes van den Bosch, rakyat Hindia Belanda (yang kini menjadi Indonesia) mengalami penderitaan. Novel Max Havelaar karya Multatuli, nama samaran Eduard Douwes Dekker, yang menceritakan kesengsaraan rakyat Lebak (wilayah Provinsi Banten saat ini) yang diakibatkan oleh tindakan sewenang-wenang Pemerintah Kolonial Belanda mampu membuat gempar negeri kincir angin. Novel yang terbit pertama kali pada 1860 itu juga mampu menimbulkan adanya gagasan politik etis.

Menanggapi tindakan sewenang-wenang Pemerintah Kolonial Belanda terhadap rakyat jajahannya, Theodore van Deventer melakukan kritikan melalui artikelnya yang berjudul “Eens Erescnul” (Hutang Budi) yang dimuat di majalah De Gids. Ia menyampaikan gagasan agar Pemerintah Kerajaan Belanda menjalankan program balas budi terhadap rakyat pribumi Hindia Belanda. Gagasan yang disampaikan itu kemudian dikenal dengan istilah Trias van Deventer atau Politik Etis yang meliputi tiga program, yaitu irigasi, edukasi, dan migrasi (pemindahan penduduk).

Dalam bukunya berjudul Latar Belakang dan Fase Awal Pertumbuhan Kesadaran Nasional, Suwarno mengatakan bahwa haluan Politik Etis ditetapkan oleh Pemerintah Kerajaan Belanda pada 1901, setelah Ratu Belanda Wilhelmina (1900-1948) berpidato di depan Parlemen Belanda. Ia mencanangkan program yang lebih berorientasi pada upaya memberikan kesejahteraan bagi rakyat pribumi Hindia Belanda dan mengangkat mereka dari kemiskinan.

Dalam pelaksanaannya, seperti dikatakan oleh Kartono dan Susi Dyah Fatmawati dalam bukunya berjudul Sumpah Pemuda dan Sudiyo dalam bukunya berjudul Arus Perjuangan Pemuda dari Masa ke Masa (2003), Politik Etis tak berjalan mulus. Belanda mengadakan program pendidikan pada dasarnya untuk kepentingan kolonial Belanda sendiri. Tujuannya untuk mencetak tenaga kerja terdidik yang murah. Untuk mencukupi tenaga administrasi misalnya, jika harus mendatangkan tenaga dari Belanda tentu memerlukan biaya transportasi yang mahal dan mereka sudah pasti harus digaji tinggi. Demikian juga untuk keperluan pembangunan gedung, dengan adanya pendidikan bagi penduduk pribumi, sehingga tidak perlu mendatangkan teknisi dari Belanda. Meskipun demikian, dari ketiga program Politik Etis itu, hanya bidang edukasi yang bermanfaat bagi rakyat Indonesia. Dengan banyaknya penduduk pribumi yang mendapat kesempatan memperoleh pendidikan, hal ini mampu membawa perubahan besar pada masyarakat Indonesia. Banyak muncul golongan terpelajar, cendekiawan, dan mahasiswa yang berjuang memelopori pergerakan nasional.

Mengapa dari tiga program Politik Etis, hanya program edukasi yang bermanfaat bagi rakyat Indonesia? Menurut Sudiyo (2003), hal itu disebabkan pogram pengairan hanya menguntungkan pihak perusahaan pemerintah dan perusahaan asing. Sementara program migrasi atau pemindahan penduduk, juga untuk mendapatkan tenaga pekerja dari Jawa ke luar Jawa yang dibayar dengan murah. Dalam hal ini, pemerintah menerapkan sistem kuli kontrak yang sangat menyengsarakan rakyat Indonesia, karena kuli kontrak tersebut diancam dengan hukuman poenale sanctie yang penerapannya keras sekali, sehingga menimbulkan perdebatan di antara orang-orang Belanda sendiri.

Dengan memperoleh pendidikan, masyarakat pribumi terpelajar mulai sadar bahwa perlawanan fisik terhadap Belanda tidak menghasilkan kemenangan sesuai yang diharapkan. Seberapapun kuatnya perlawanan rakyat Indonesia terhadap Belanda, akhirnya dapat dipatahkan juga karena Belanda sering menggunakan cara yang licik untuk mematahkan perlawanan rakyat Indonesia. Oleh karena itu, mereka tidak mau menggunakan kekuatan senjata untuk melepaskan diri dari belenggu penjajah, tapi berganti dengan menggunakan kekuatan politik.

Tahun 1908 dianggap sebagai tonggak pergerakan nasional, karena pada tahun tersebut orang-orang terpelajar mulai mendirikan organisasi. Organisasi yang pertama kali berdiri adalah Budi Utomo. Organisasi ini didirikan oleh sejumlah mahasiswa STOVIA seperti Sutomo, Suraji, Gunawan Mangunkusumo, Suwarno, Gumbreg, Mohammad Saleh, dan Suleman pada 20 Mei 1908. Budi Utomo lahir berkat gagasan dokter Wahidin Sudirohusodo.

Pada 1908 juga, berdiri Indische Vereeniging (Perkumpulan Hindia). Organisasi ini didirikan di Belanda oleh mahasiswa Indonesia yang sedang menuntut ilmu di berbagai universitas. Pada mulannya para mahasiswa tersebut meninggalkan tanah airnya semata-mata untuk belajar. Namun sejak mahasiswa STOVIA mendirikan Budi Utomo, mereka juga mendirikan organisasi pelajar di Nederland yang diberi nama Indische Vereeniging. Pada waktu itu istilah “bangsa Indonesia” sebagai negeri masih belum populer sama sekali, meskipun sudah dikenal di kalangan ilmiah (di bidang etnologi, hukum adat, dan sebagainya), khususnya semenjak terbit buku ahli etnologi Jerman Prof. Adolf Bastian yang berjudul Indonesien oder die Inseln des Malayischen Archipels (1884-1889).

Menurut Sudiyo dalam bukunya berjudul Perhimpunan Indonesia (2004), para pendiri Indische Vereeniging adalah Sosrokartono (kakak R.A. Kartini, mahasiswa Universitas Leiden), Hussein Jayadiningrat (mahasiswa Universitas Leiden), Noto Suroto (mahasiswa Universitas Leiden), Notodiningrat (mahasiswa Technische Hoogescholl di Delft), Sumitro Kolopaking (mahasiswa Fakultas Indologie di Delf), Sutan Casyangan Soripada (mahasiswa Sekolah Perguruan Tinggi di Haarlem), Apituley (mahasiswa Universitas Amsterdam).

Berbeda dengan Sudiyo yang menyebut nama mahasiswa Sekolah Perguruan Tinggi di Haarlem itu Sutan Casyangan Soripada, Suhartono menyebutnya Sutan Kasayangan.

Sudiyo (2004) menyebut tanggal berdirinya Indische Vereeniging adalah 5 November 1908 di rumah Sutan Casyangan Soripada di Hoogewoard 49, Leiden, Belanda. Ketuanya adalah Sutan Casyangan Soripada dengan sekretaris merangkap bendahara Sumitro Kolopaking. Namun dalam Timeline Perjalanan Sumpah Pemuda yang terpampang di dinding tembok “Ruang Pengenalan” Museum Sumpah Pemuda disebutkan Indische Vereeniging berdiri pada 27 Desember 1908.

Indische Vereeniging merupakan organisasi sosial dengan tujuan semata-mata menyelenggarakan kesejahteraan anggota-anggotanya yang ada di negeri Belanda. Namun sejak kedatangan Suwardi Suryaningrat yang sedang menjalani hukuman buang di Belanda pada 1913, memberikan pengaruh yang besar kepada organisasi ini. Apalagi setelah Perang Dunia I (1914-1918) berakhir, perasaan antikolonialisme dan imperialisme di kalangan pemimpin-pemimpin Indische Vereeniging makin menonjol. Lebih-lebih sejak adanya seruan Presiden Amerika Serikat Woodrow Wilson setelah Perang Dunia I berakhir, kesadaran mereka tentang hak bangsa Indonesia untuk menentukan nasibnya sendiri dan merdeka dari penjajahan Belanda semakin kuat.  

Pada 1922 Indische Vereeniging diganti namanya menjadi Indonesische Vereeniging (Perhimpunan Indonesia). Pada waktu itu nama organisasi ini masih banyak diucapkan dengan bahasa Belanda, yaitu Indonesische Vereeniging. Akhirnya, pada 1925 nama organisasi ini diubah bukan menggunakan bahasa Belanda lagi, yakni Indonesische Vereeniging, melainkan menggunakan bahasa Melayu (yang kemudian menjadi bahasa Indonesia), yaitu Perhimpunan Indonesia. Timeline Perjalanan Sumpah Pemuda yang dipajang di “Ruang Pengenalan” Museum Sumpah Pemuda menyebutkan bahwa perubahan tersebut terjadi pada 11 Januari 1925. Tidak hanya nama organisasinya yang diubah, bahkan majalahnya juga diubah agar tidak berbau kolonial, dari Hindia Putra menjadi Indonesia Merdeka. Namun Nyoman Dekker menyebut perubahan tersebut terjadi pada 1924.

Dalam perjalanan sejarah, Perhimpunan Indonesia telah berkali-kali ganti pempimpin. Pemimpin-pemimpinnya yang terkenal adalah Mohammad Hatta, Ahmad Subarjo, Gatot Tanumiharja, Nazir Datuk Pamuncak, Moh. Nazif, Darmawan Mangunkusumo, Iwa Kusuma Sumantri, dokter Sutomo, Sukiman Wiryosanjoyo, J.B. Sitanala, dan Sastromulyono.

Dalam perkembangannya, selain ada kelompok pemuda yang masih bersikap tenang dan masih berpegang pada asas lingkungan, ada juga kelompok pemuda yang sudah jauh bergerak dan tegas menghendaki persatuan (fusi) di kalangan pemuda, terutama pelajar dan mahasiswa. Perhimpunan Indonesia termasuk kelompok yang menghendaki persatuan (fusi) di kalangan pemuda

Beberapa tahun setelah berdirinya Budi Utomo, tepatnya pada 1912, menyusul berdiri Indische Partij. Seperti pernah saya katakan dalam tulisan saya yang berjudul Indische Partij, Partai Politik Pertama di Indonesia yang saya unggah di blog pribadi saya, berbeda dengan Budi Utomo yang pergerakannya di bidang kebudayaan, Indische Partij sejak berdirinya bersifat keras dan langsung bergerak di bidang politik. Indische Partij merupakan partai politik pertama di Indonesia yang lahir saat negeri tercinta ini belum merdeka. Tujuan organisasi ini adalah kemerdekaan Hindia Belanda, sesuatu yang tentu saja tidak diinginkan oleh Belanda. Itulah sebabnya Gubernur Jenderal A.W.F. Idenburg tidak mau memberikan izin badan hukum pada Indische Partij, karena ia khawatir organisasi yang bergerak di bidang politik ini akan lebih bebas dalam pergerakannya. Dikarenakan gagal mengantongi izin badan hukum, maka E.F.E. Douwes Dekker sebagai Ketua Indische Partij akhirnya membubarkan organisasi yang dirintisnya. Pengumuman pembubaran diberitakan pada 31 Maret 1913.

Pada 7 Maret 1915 menyusul berdiri organisasi pemuda kedaerahan yang pertama, bernama Tri Koro Dharmo. Organisasi yang didirikan di dalam gedung STOVIA oleh para pemuda Jawa ini diketuai oleh Satiman Wiryosanjoyo dengan wakil ketua Wongsonegoro. Anggota-anggotanya kebanyakan murid-murid sekolah menengah yang berasal dari Jawa Tengah dan Jawa Timur. Murid-murid yang berasal dari Sunda dan Madura menganggap bahwa perkumpulan ini terlalu sempit. Oleh karena itu, pada Kongres I di Solo, 12 Juni 1918, nama Tri Koro Dharmo diubah menjadi Jong Java (dibaca: Yong Yava. J dibaca Y). Tujuannya adalah untuk membina persatuan dan persaudaraan di kalangan pemuda-pemuda pelajar “Jawa Raya”, yakni pemuda-pemuda pelajar yang berasal dari Jawa, Sunda, Madura, Bali, dan Lombok.

Setelah lahirnya organisasi pemuda kedaerahan pertama, muncul organisasi pemuda kedaerahan yang berasal dari Sumatera. Sama seperti halnya Tri Koro Dharmo, organisasi pemuda dari Sumatera yang diberi nama Jong Sumatranen Bond ini juga didirikan di gedung STOVIA.

Tentang tanggal berdirinya, baik Sudiyo (2003), Marwati Djoened Poesponegoro dan Nugroho Notosusanto, maupun informasi yang terpampang di “Ruang Organisasi” Museum Sumpah Pemuda menyebutkan bahwa Jong Sumatranen Bond berdiri pada 9 Desember 1917. Namun Mardanas Sofwan dalam bukunya berjudul Peranan Gedung Kramat Raya 106 dalam Melahirkan Sumpah Pemuda menyebutkan tanggal berdirinya Jong Sumatranen Bond adalah 2 Desember 1917.

Tujuan Jong Sumatranen Bond adalah untuk mempersatukan pelajar dari Sumatera, menanamkan rasa cinta terhadap kebudayaan Sumatera, dan menumbuhkan kesadaran bahwa mereka akan menjadi pemimpin di masa depan. Terpilih sebagai ketua pertama Jong Sumatranen Bond adalah Tengku Mansur.

Jong Sumatranen Bond yang didirikan di Jakarta ini memiliki cabang di luar Jawa, yaitu di Padang dan Bukittinggi. Mengapa organisasi pemuda Sumatera ini didirikan di Jakarta? Hal ini disebabkan, seperti dikatakan Sudiyo (2003), pada waktu itu di daerah-daerah masih sangat sedikit sekolah yang didirikan oleh Pemerintah Kolonial Belanda. Sekolah di luar Jawa, yang ada baru di kota-kota besar. Itu pun tidak banyak jumlahnya. Oleh karena itu, bila mereka ingin meneruskan sekolah harus ke Jakarta (dulu bernama Batavia). Itulah sebabnya Jong Sumatranen Bond didirikan di Jakarta, karena di sinilah pemuda-pemuda dari Sumatera banyak menuntut ilmu.

Walaupun Jong Sumatranen Bond tidak bersifat politik, tapi Pemerintah Kolonial Belanda mencurigai dan bersikap sinis terhadap gerakan pemuda ini, terutama dirasakan oleh pemuda di luar Jakarta. Kita ambil contoh yang terjadi pada pemuda bernama Bahder Johan. Seperti disebutkan oleh Mardanas Sofwan, pada 1918 Bahder Johan dilantik sebagai sekretaris Jong Sumatranen Bond cabang Padang. Di sekolah, ia diejek oleh gurunya yang orang Belanda, dengan menggambarkan seorang anak berjalan di depan dengan memegang bendera. Guru tersebut berkata, “Ini Bahder Johan memegang bendera bangsanya”. Anak-anak lain bersorak dengan riuh rendah, dan Bahder Johan merasa sangat dihina dengan ejekan itu.

Tokoh-tokoh nasional yang pernah menjadi anggota Jong Sumatranen Bond antara lain: Mohammad Hatta, Muhammad Yamin, M. Tamsil, Bahder Johan, Abu Hanifah, M.A. Hanafiah, Assaat, Amir, dan A.K. Gani. Mohammad Hatta bahkan kemudian ikut memimpin Indische Vereeniging yang berubah menjadi Perhimpunan Indonesia di negeri Belanda. Sementara Abu Hanifah kemudian ikut menjadi anggota Langen Siswo dari Jong Java.

Di Manado, pada 5 Januari 1918 berdiri organisasi kedaerahan bernama Jong Minahasa. Minahasa adalah nama suku bangsa yang mendiami daerah Sulawesi Utara, terutama di daerah Manado. Di daerah ini sudah banyak sekolah-sekolah, karena daerah ini banyak didiami orang-orang Belanda. Tak mengherankan jika di Manado berdiri organisasi pemuda berdasarkan kesukuan. Pendirinya adalah A.J.H.W. Kawilarang (yang kemudian menjadi ketua) dan V. Adam (yang kemudian menjadi sekretaris). Organisasi ini membatasi pergerakannya dalam bidang sosial dan kebudayaan, belum berani melangkah dalam bidang politik. Tokoh-tokohnya yang lain adalah Sam Ratulangi, G.R. Pantaouw, dan lain-lain.

Jika Jong Minahasa adalah organisasi kedaerahan yang didasarkan pada nama suku bangsa, maka di Sulawesi masih ada lagi organisasi kedaerahan berdasarkan nama pulau, yakni Jong Celebes. Celebes adalah penyebutan untuk Pulau Sulawesi pada masa penjajahan Belanda.

Jong Celebes didirikan pada 25 April 1919. Tujuannya mempererat rasa persatuan dan tali persaudaraan antaranggota dan ikut memajukan kebudayaan daerah. Sesuai dengan namanya, Jong Celebes menghimpun para pemuda pelajar yang berasal dari Sulawesi.

Seperti dikatakan oleh Sudiyo (2003), wilayah pemuda pelajar yang dapat menjadi anggota Jong Celebes adalah yang berasal dari suku Sangir, suku Bolaang Mongondow, suku Gorontalo, suku Minahasa (bagi yang belum menjadi anggota Jong Minahasa), bahkan diperluas sampai ke Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, dan Sulawesi Tenggara. Adapun kegiatan dari organisasi ini tidak beda jauh dengan organisasi pemuda kedaerahan lain, yakni masih terbatas pada bidang sosial dan kebudayaan. Mereka belum berani bergerak di bidang politik.

Tokoh-tokoh Jong Celebes yang terkenal adalah Rumondor Cornelis Lefrand Senduk (R.C.L. Senduk), Arnold Mononutu, Lena Mokoginta, Agustin Magdalena Waworuntu, Hadijah L., Sam Ratulangi, dan H.W. Makaliwe. Tentang Arnold Mononutu, sebetulnya ia lahir di Manado, tapi sekolah di Gorontalo karena orang tuanya bertugas di Gorontalo sebagai pegawai negeri. Oleh karena itu, ia masuk sebagai anggota Jong Celebes. Sementara R.C.L. Senduk, dalam Kongres Pemuda Kedua, ia betugas sebagai pembantu III (panitia umum 

Tak mau ketinggalan dengan pemuda pelajar dari daerah lain yang mendirikan organisasi pemuda kedaerahan, para pemuda pelajar Ambon juga mendirikan organisasi yang diberinya nama Jong Ambon. Tujuannya untuk mempererat persatuan sesama pemuda yang berasal dari Ambon dan ikut memajukan kebudayaan Ambon.  

Kapan Jong Ambon berdiri? Dalam bukunya berjudul Dr. Johannes Leimena, Karya dan Pengabdiannya, Frans Hitipeuw mengatakan bahwa Jong Ambon pertama kali dibentuk pada 1917 oleh para pelajar STOVIA asal Ambon diketuai oleh J. Kajadu (baca: Y. Kayadu). Sama seperti Frans Hitipeuw, Darmansyah dan Momon Abdul Rahman dalam bukunya berjudul Johannes Leimena: Mutiara dari Maluku juga mengatakan bahwa Jong Ambon pertama kali dibentuk pada 1917 oleh para pelajar STOVIA asal Ambon diketuai oleh J. Kajadu. Informasi tentang Jong Ambon yang ada di “Ruang Organisasi” Museum Sumpah Pemuda juga menyebutkan bahwa Jong Ambon berdiri pada 1917. Namun Sudiyo (2003) mengatakan Jong Ambon berdiri tanggal 1 Juni 1923.

Tokoh Jong Ambon yang terkenal adalah L. Tamaela, J.J. Tupamahu, D. Souisa, J.S. Lisapaly, dan J. Leimena. Dalam Kongres Pemuda Kedua, J. Leimena menjadi perwakilan dari Jong Ambon yang bertugas sebagai pembantu IV (panitia umum IV).

Meskipun pemuda Batak sudah banyak yang menjadi anggota Jong Sumatranen Bond, namun mereka kemudian memisahkan diri dan mendirikan organisasi pemuda kedaerahan sendiri. Namanya Jong Bataks Bond. Oganisasi yang didirikan pada 1926 ini bertujuan mempererat rasa persatuan dan persahabatan antarsesama anggota dan ikut memajukan kebudayaan daerah. Seperti halnya organisasi pemuda lainnya, organisasi ini juga tidak bergerak dalam bidang politik, melainkan bergerak dalam bidang sosial dan kebudayaan. Tokoh-tokohnya yang terkenal adalah Sanusi Pane, Sutan Todung Gunung Mulia, Adam Malik Batubara, Saleh Said Harahap, Arifin Harahap, dan Amir Syarifuddin. Pada Kongres Pemuda Kedua, Amir Syarifuddin bahkan menjadi panitia yang bertugas sebagai bendahara.

Para pelajar Sunda tak mau ketinggalan dengan pemuda pelajar dari daerah lain. Mereka mendirikan organisasi yang diberi nama Sekar Rukun. Menurut keterangan tentang Sekar Rukun yang dipajang di “Ruang Organisasi” Museum Sumpah Pemuda, organisasi ini didirikan di Batavia (sekarang Jakarta) pada 26 Oktober 1919. Namun Sudiyo (2003) menyebut tahun berdirinya adalah 1924.

Pendiri Sekar Rukun adalah pelajar Kweekschool (Sekolah Guru). Para pelopor organisasi yang bertujuan menciptakam persatuan antarpemuda Sunda ini adalah Doni Ismail, Iki Adiwijaya, Juwariyah, Hilman, Moh. Sapii, Mangkudiguna, dan Iwa Kusuma Sumantri. Dalam struktur kepengurusan, Sekar Rukun menempatkan Prof. Husein Jayadiningrat sebagai pembina, Iki Adiwijaya sebagai presiden, Doni Ismail sebagai wakil presiden, Nawawi sebagai sekretaris I, Sanusi sebagai sekretaris II, Suriya sebagai bendahara, Samyun dan Usman sebagai anggota. Sementara Kornel Singawinata menjadi perwakilan dari Sekar Rukun untuk menjadi peserta pada Kongres Pemuda Kedua. Baik Mardanas Sofwan maupun Sudiyo (2003) tidak menyebutkan kapan berdirinya Sekar Rukun. Namun Verelladeavanka Adryamarthanini dan Nibras Nada Nailufar dalam tulisannya berjudul “Sekar Rukun: Sejarah, Tujuan, dan Tokoh-Tokohnya” yang diunggah di https://www.kompas.com/, menyebutkan bahwa Sekar Rukun didirikan di Batavia (sekarang Jakarta) pada  26 Oktober 1919

Itulah organisasi-organisasi pemuda kedaerahan yang didirikan sebelum Kongres Pemuda Pertama. Adapun besar kecilnya organisasi tersebut tergantung dari banyaknya murid yang berasal dari daerah tersebut. Semakin banyak pemuda terpelajar di daerah tersebut, maka semakin besarlah organisasinya.

Selain organisasi pemuda kedaerahan, waktu itu muncul juga perkumpulan pemuda yang berbentuk studieclub. Tujuannya membantu dan membimbing para pelajar dan mahasiswa dalam menuntut ilmu di sekolah menengah dan perguruan tinggi. Studieclub yang terkenal adalah Indonesisch Studieclub dan Algemene Studieclub.

Indonesisch Studieclub didirikan tanggal 11 Juni 1924 oleh dokter Sutomo pendiri Budi Utomo. Perkumpulan yang berkedudukan di Surabaya ini bertujuan membangkitkan kaum terpelajar supaya mempunyai kesadaran terhadap masyarakat, memperdalam pengetahuan tentang politik, dan mendiskusikan masalah-masalah studi dan masalah-masalah sosial politik di Indonesia. Di kemudian hari perkumpulan ini berubah menjadi Partai Persatuan Bangsa Indonesia (PBI).

Algemene Studieclub memiliki tujuan yang sama dengan Indonesisch Studieclub, namun asas perjuangannya tegas, yakni non-kooperasi. Perkumpulan yang berkedudukan di Bandung ini, tokoh-tokohnya antara lain Ir. Soekarno dan Ir. Anwari. Di kemudian hari perkumpulan ini berubah menjadi Partai Nasional Indonesia.

Selain organisasi pemuda kedaerahan dan studieclub, ada juga pemuda-pemuda yang mendirikan organisasi berdasarkan ideologi agama seperti Jong Islamieten Bond. Organisasi ini, menurut informasi yang ada di “Ruang Organisasi” Museum Sumpah Pemuda, didirikan di Yogyakarta pada 1 Januari 1925. Berdirinya Jong Islamieten Bond tidak dapat dilepaskan dari dukungan K.H. Ahmad Dahlan dan Haji Umar Said Cokroaminoto (ejaan lama: Haji Oemar Said Tjokroaminoto). Yang menjadi ketua pertamanya adalah R. Syamsurijal, sedangkan H. Agus Salim diangkat sebagai penasihat. Namun Mardanas Sofwan menganggap Jong Islamieten Bond didirikan pada Januari 1926.

Jong Islamieten Bond didirikan dengan tujuan untuk memajukan pengetahuan agama Islam, membangun hidup secara Islam, dan menciptakan persatuan dalam Islam. Jong Islamieten Bond aktif menghadiri rapat-rapat, baik saat persiapan maupun saat penyelenggaraan Kongres Pemuda Pertama maupun Kongres Pemuda Kedua. Tokoh-tokohnya yang terkenal adalah R. Syamsurijal, Haji Agus Salim, Mohammad Rum, Wiwoho, Hasim, Sadewo, M. Juwari, dan Kasman Singodimejo. Jong Islamieten Bond kemudian juga bergerak di bidang kepanduan (sekarang: Pramuka), dan mendirikan Nationaal Islamieten Padvinderij (Natipy).

Pada 1925 para mahasiswa RHS (Recht Hooge School atau Sekolah Tinggi Hukum) dan THS (Technische Hooge School atau Sekolah Tinggi Teknik) mendirikan Perhimpunan Pelajar-Pelajar Indonesia (PPPI), tapi baru diresmikan pada September 1926. Organisasi yang didirikan di Batavia (sekarang: Jakarta) ini bercita-cita menyatukan perkumpulan pemuda untuk berjuang melawan penjajahan. Tokoh-tokohnya antara lain: Sugondo Joyopuspito, Sigit, Gularso, Sumitro, Samiyono, Hendromartono, Subari, Rochyani, Sunarko, S. Juned Pusponegoro, Kuncoro, Wilopo, Suryadi, A.K. Gani, Amir Syarifuddin, dan Abu Hanifah.

 

Manifesto Politik 1925

 

Pada 1925 para mahasiswa Indonesia yang belajar di negeri Belanda dan tergabung dalam organisasi Perhimpunan Indonesia mencetuskan pernyataan sikap politik bangsa Indonesia untuk menuntut diakhirinya penjajahan Belanda di wilayah Indonesia. Pernyataan sikap politik ini dikenal dengan istilah Manifesto Politik 1925.

Baik menurut Suhartono maupun Kartono dan Susi Dyah Fatmawati, Manifesto Politik 1925 yang dicetuskan oleh Perhimpunan Indonesia memiliki empat asas perjuangan, yakni asas kesatuan nasional, solidaritas, nonkooperasi, dan swadaya. Asas kesatuan nasional mengandung arti bahwa perjuangan harus mengesampingkan perbedaan berdasarkan daerah atas golongan untuk bersama-sama membentuk kesatuan aksi dalam melawan Belanda. Asas solidaritas mengandung arti bahwa perjuangan perlu membentuk kekompakan di antara kekuatan nasional dan menciptakan pertentangan penjajah. Aksi nonkooperasi mengandung arti bahwa bangsa Indonesia dengan kekuatan sendiri harus berjuang tanpa bekerja sama dengan kaum penjajah. Asas swadaya mengandung arti bahwa dalam berjuang melawan Belanda perlu menggalang kekuatan sendiri.

Perhimpunan Indonesia di negeri Belanda selalu menjalin hubungan dengan organisasi pemuda yang ada di Indonesia. Menurut B. Sularto dalam bukunya berjudul Dari Kongres Pemuda Pertama ke Sumpah Pemuda, Perhimpunan Indonesia menerbitkan majalah Indonesia Merdeka. Edisi perdana terbit bulan Februari 1925. Sejumlah majalah ini dikirimkan ke organisasi-organisasi pemuda di tanah air (Indonesia). Pada saat itu, organisasi pemuda masih bersifat kedaerahan dan kegiatannya juga masih mengutamakan kepentingan daerah. Meskipun demikian, di antara para pemimpin organisasi pemuda itu sudah ada yang mempunyai gagasan mulia, yaitu merintis persatuan nasional di kalangan angkatan muda Indonesia. Untuk selanjutnya merintis persatuan nasional di kalangan seluruh masyarakat. Mereka yang ingin merintis persatuan nasional, antara lain: Mohammad Tabrani, Sumarto, Suwarso, Bahder Johan, Jamaludin, Sarbaini, Yan Toule Soulehuwiy, Paul Pinontoan, Hamami, dan Sanusi Pane.

Pada masa perintisannya, Perhimpunan Pelajar-Pelajar Indonesia (PPPI) juga sering mendapat kiriman majalah Indonesia Merdeka dari Perhimpunan Indonesia di negeri Belanda. Seperti disebutkan di atas, Perhimpunan Pelajar-Pelajar Indonesia (PPPI) didirikan pada 1925, tapi baru diresmikan pada September 1926.

Majalah terbitan Perhimpunan Indonesia biasanya dikirim ke organisasi-organisasi pemuda di Hindia Belanda (Indonesia) secara selundupan agar tidak diketahui pihak kolonial Belanda, meskipun pengiriman tersebut penuh risiko. Mengapa penuh risiko, karena majalah Indonesia Merdeka berisi artikel-artikel dan juga pernyataan-pernyataan tentang perjuangan Perhimpunan Indonesia di negeri Belanda dan negara-negara Eropa. Hal ini tentu sangat bertentangan dengan Undang-Undang yang dibuat oleh Pemerintah Kolonial Belanda, sehingga bila ketahuan akan mengakibatkan para tokoh pendirinya ditangkap dan diajukan ke sidang pengadilan.

 

Kongres Pemuda Pertama  

 

Seperti dikatakan oleh Umi Zuhriyah dalam tulisannya berjudul “Apa Tujuan Kongres Pemuda 1 dan Bagaimana Hasilnya?” yang diunggah di https://tirto.id/, pada masa itu organisasi-organisasi pemuda di Indonesia masih bersifat lokal dan kedaerahan serta cenderung berfokus pada aspek regional. Di sisi lain, keinginan untuk bersatu di tengah penjajahan Belanda sudah mulai muncul. Upaya untuk mencapai persatuan antarorganisasi pemuda setidaknya mulai dilakukan dengan mengadakan Konferensi Organisasi Pemuda Nasional Pertama yang digelar pada 15 November 1925. Hasilnya, mereka berencana menyelenggarakan Kerapatan Besar Pemuda yang kini dikenal dengan istilah Kongres Pemuda Pertama. Sosok penting di balik konferensi ini adalah Mohammad Tabrani, yang nantinya menjadi Ketua Kongres Pemuda Pertama.

Menurut B. Sularto, 15 November 1925 merupakan tanggal mereka yang ingin merintis persatuan nasional berhasil membentuk Panitia Kongres Pemuda Pertama, yang susunannya demikian.  

Ketua   : Mohammad Tabrani

Wakil Ketua : Sumarto

Sekretaris : Jamaludin

Bendahara : Suwarso

Pembantu      : Bahder Johan, Yan Toule Soulehuwiy, Paul Pinontoan, Hamami, Sarbaini, dan Sanusi Pane.

Awal tahun 1926, Panitia Kongres Pemuda Pertama sudah berhasil menyusun jadwal acara. Enam pemuda-pemudi akan tampil sebagai penceramah, yakni: Sumarto, Bahder Johan, Muhammad Yamin, Jaksodipuro, Paul Pinontoan, dan nona Stien Adam. Rangkaian ceramah terdiri atas tiga pokok pembicaraan, yaitu tentang: (1) persatuan bangsa Indonesia; (2) kedudukan dan peranan wanita dalam masyarakat Indonesia; dan (3) peranan agama dalam gerakan persatuan bangsa Indonesia. Akhirnya, pada 30 April - 2 Mei 1926 diadakanlah Kongres Pemuda Pertama di Jakarta. Kongres disampaikan dalam bahasa Belanda dan tertulis agar Komisaris Kepala Polisi Hindia Belanda yang mengawasi jalannya kongres tidak perlu repot-repot mencatat ceramah dan pidato yang disampaikan dalam kongres. Adapun tujuan Kongres Pemuda Pertama adalah: (1) memajukan paham persatuan dan kebangsaan; dan (2) menguatkan hubungan antarsesama perkumpulan pemuda kebangsaan.

Kongres Pemuda Pertama dipimpin oleh Mohammad Tabrani. Organisasi pemuda yang hadir pada kongres tersebut, menurut Mardanas Sofwan, adalah: Jong Java, Jong Sumatranen Bond, Jong Ambon, Sekar Rukun, Jong Islamieten Bond, Studeerende Minahasaers, Jong Bataks Bond, Pemuda Kaum Theosofi. Sementara Kartono dan Susi Dyah Fatmawati mengatakan yang hadir pada kongres tersebut adalah Jong Java, Jong Sumatranen Bond, Jong Ambon, Jong Bataks Bond, dan Pemuda Kaum Betawi.

Pembukaan Kongres Pemuda Pertama dilaksanakan pada 30 April 1926. Seusai Mohammad Tabrani mengucapkan pidato pembukaan, acara persidangan selanjutnya diisi dengan ceramah Sumarto yang menyampaikan “Gagasan tentang Indonesia Bersatu”. Pokok pembicaraan tentang “Kedudukan Wanita dalam Masyarakat Indonesia” dibahas oleh dua orang penceramah, yakni nona Stien Adam dan Jaksodipuro. Nona Stien Adam membicarakan kedudukan wanita dalam masyarakat Minahasa, sedang Jaksodipuro membicarakan kedudukan wanita dalam adat masyarakat Surakarta. Ceramah yang paling menarik perhatian hadirin adalah yang disampaikan oleh Bahder Johan, karena ia berbicara tentang hak asasi kaum wanita Indonesia.

Kongres Pemuda Pertama juga mulai merintis adanya bahasa persatuan. Yang mendapat tugas berceramah adalah Muhammad Yamin. Menurut B. Sularto, Muhammad Yamin dengan penuh keyakinan, menarik kesimpulan sebagai berikut.

“Menurut keyakinanku, maka bahasa Melayu lambat-laun akan menjadi bahasa pergaulan atau bahasa persatuan bagi rakyat Indonesia. Dan bahwa kebudayaan Indonesia pada masa depan, akan diungkapkan dalam bahasa itu”.

Pada persidangan terakhir yang dilaksanakan tanggal 2 Mei 1926, ada tiga acara. Acara pertama adalah ceramah tentang “Peranan Agama dalam Gerakan Persatuan Nasional”, acara kedua adalah sidang tertutup oleh Panitia Perumus, sedang acara ketiga adalah sidang terbuka yang berisi pengumuman-pengumunan, dan diakhiri dengan pidato penutupan oleh Ketua Panitia Kongres.

Yang tampil sebagai penceramah tentang “Peranan Agama dalam Gerakan Persatuan Nasional” adalah Paul Pinontoan. Dalam ceramahnya, Paul Pinontoan mempunyai pandangan jauh ke depan, seperti dapat dilihat dari ceramahnya yang saya kutip dari buku B. Sularto yang berjudul Dari Kongres Pemuda Pertama ke Sumpah Pemuda di bawah ini.

“Dan bangsa Indonesia, apakah dikau menginginkan dirimu terjajah untuk selamanya? Ataukah dikau mendambakan saatnya tiba, dapat berkata; kemenangan di pihak kita. Indonesia adalah negara merdeka, dipimpin oleh orang-orang Indonesia yang merdeka. Tentu saja saya tidak perlu menjawab pertanyaanku itu, sebab saya tahu, Anda semua sepenuh hati menanti hari saat proklamasi kemerdekaan Indonesia. Namun, sayang nian, hari bersejarah yang tiada duanya dalam sejarah Indonesia itu masih sangat jauh dari kita. Begitu sangat jauh!”

Akhir pidato Paul Pinontoan ditandai oleh suara gemuruh tepuk tangan para peserta kongres. Banyak yang menanggapi ceramah Paul Pinontoan, namun tak satu pun yang melancarkan kecaman terhadap isi ceramahnya. Di pihak lain, Visbeen, Polisi Hindia Belanda, bersikap tak acuh. Ia justru terlihat asyik berbincang-bincang santai dengan seorang pemuda tampan dan pemudi cantik yang duduk di sebelah kanan kirinya yang diberi tugas oleh Mohammad Tabrani untuk terus mengalihkan perhatian Visbeen.

Setelah acara sambutan-sambutan, ceramah-ceramah, tanggapan, dan tanya jawab selesai pada siang hari, Panitia Perumus kemudian membahas naskah rumusan putusan Kongres Pemuda Pertama. Yang mendapat tugas menjadi panitia perumus sebetulnya empat orang, yakni Mohammad Tabrani, Sanu Pane, Jamaludin, dan Muhammad Yamin, tapi Sanusi Pane saat itu belum hadir. Meskipun demikian, tiga orang Panitia Perumus itu sepakat untuk melangsungkan sidang, tanpa Sanusi Pane.

Muhammad Yamin terlebih dahulu memberikan penjelasan bahwa naskah rumusan yang disusunnya itu mencerminkan ikrar pemuda Indonesia, dan disebutnya IKRAR PEMUDA. Bunyinya demikian.

Pertama

:

KAMI PUTRA DAN PUTRI INDONESIA MENGAKU BERTUMPAH DARAH YANG SATU, TANAH INDONESIA

Kedua 

:

KAMI PUTRA DAN PUTRI INDONESIA MENGAKU BERBANGSA YANG SATU, BANGSA INDONESIA

Ketiga

:

KAMI PUTRA DAN PUTRI INDONESIA MENJUNJUNG BAHASA PERSATUAN, BAHASA MELAYU

Jamaludin setuju pada rumusan tersebut, namun Mohammad Tabrani tidak segera memberikan jawaban. Pada saat yang bersamaan, datang Sanusi Pane, masuk ke ruang Panitia Perumus.

Mohammad Tabrani menyatakan setuju dengan kalimat pertama dan kedua, tapi tidak setuju dengan kalimat ketiga. Alasannya, jika sudah mengaku bertumpah darah satu dan berbangsa satu yaitu Indonesia, maka bahasa persatuannya juga bahasa Indonesia. Mendengar alasan Mohammad Tabrani, Muhammad Yamin mengatakan bahwa bahasa Melayu itu kenyataan sejarah, sedangkan bahasa Indonesia belum ada. Namun Mohammad Tabrani menjawab kalau bahasa Indonesia belum ada, kita lahirkan saat Kongres Pemuda sekarang ini.

Sanuse Pane yang datang belakangan mengatakan bahwa yang disampaikan Muhammad Yamin memang kenyataan sejarah, tapi yang dikatakan Mohammad Tabrani tidaklah salah. Alasannya, jika kita sudah menyatakan bertumpah darah satu dan berbangsa satu yaitu Indonesia, apa salahnya jika bahasa persatuan kita beri nama bahasa Indonesia.

Akhirnya, ketika kongres itu ditutup, rumusan tadi tidak dibacakan, kecuali hanya pengumuman bahwa kongres ini merupakan cetusan kebulatan tekad angkatan muda dalam merintis terwujudnya persatuan bangsa Indonesia, dan kongres ini menjadi titik tolak untuk mengadakan Kongres Pemuda berikutnya pada tahun-tahun yang akan datang.

 

Persiapan Kongres Pemuda Kedua

 

Anggota-anggota Perhimpunan Indonesia yang belajar di negeri Belanda, setelah menyelesaikan pendidikannya, mereka pulang ke Indonesia dengan bekal dan instruksi dari Perhimpunan Indonesa untuk memperjuangkan cita-cita Perhimpunan Indonesia seperti yang diputuskan pada 1925. Anggota-anggota Perhimpunan Indonesia yang pulang pada tahun 1925/1926 antara lain: Sartono, Sunarip, Iskak, Budiono, dan Wirjono yang semuanya ahli hukum didikan luar negeri (Leiden, Belanda).

Di antara anggota Perhimpunan Indonesia yang pulang ke Indonesia itu ada yang menetap di Bandung dan ada juga yang menetap di Jakarta. Para pemuda di Bandung yang merasa dirinya semata-mata orang Indonesia, yang tidak sanggup lagi duduk dalam perkumpulan pemuda yang masih bersifat kedaerahan, atas dorongan Mr. Sartono dan Mr. Sunario (mantan anggota Perhimpunan Indonesia di negeri Belanda) pada 20 Februari 1927 mendirikan organisasi yang diberi nama Jong Indonesia. Dalam kongres pertama yang diadakan pada Desember 1927, nama Jong Indonesia diubah menjadi Pemuda Indonesia. Timeline Perjalanan Sumpah Pemuda yang ada di “Ruang Pengenalan” Museum Sumpah Pemuda menyebut perubahan nama itu terjadi pada 28 Desember 1927. Tujuan organisasi ini adalah menyebarkan dan memperkuat cita-cita kebangsaan Indonesia pada rakyat Indonesia, sesuai dengan tujuan Perhimpunan Indonesia. Organisasi Pemuda Indonesia juga memutuskan untuk memakai bahasa Melayu sebagai bahasa bersama, sehingga bahasa ini dengan cepat tersebar di Jawa.  

Tokoh-tokoh organisasi Pemuda Indonesia di antaranya adalah Sugiono, Sunardi, Mulyadi, Supangkat, Agus Prawiranata, Sukamso, Sulasmi, Kacasungkana, dan Abdulgani. Ketua pertamanya adalah Sugiono. Sementara Pemuda Indonesia cabang Jakarta dan Bandung memiliki bagian pemudi yang diberi nama Putri Indonesia.

Di pihak lain, seperti disebutkan di atas, pada 1925 Perhimpunan Pelajar-Pelajar Indonesia didirikan oleh mahasiswa-mahasiswa di Indonesia, tapi baru diresmikan pada September 1926. Organisasi yang didirikan di Batavia (sekarang: Jakarta) ini bercita-cita menyatukan perkumpulan pemuda untuk berjuang melawan penjajahan. Tokoh-tokohnya antara lain: Sugondo Joyopuspito, Sigit, Gularso, Sumitro, Samiyono, Hendromartono, Subari, Rochyani, Sunarko, S. Juned Pusponegoro, Kuncoro, Wilopo, Suryadi, A.K. Gani, Amir Syarifuddin, dan Abu Hanifah.

Pada Desember 1927 terbentuk wadah persatuan bangsa yang diberi nama Permufakatan Perhimpunan-Perhimpunan Politik Kebangsaan Indonesia (PPPKI). Timeline Perjalanan Sumpah Pemuda yang ada di “Ruang Pengenalan” Museum Sumpah Pemuda menyebut pembentukan PPPKI pada 17 Desember 1927, tapi Sudiyo dan kawan-kawan dalam bukunya berjudul Sejarah Pergerakan Nasional Indonesia, dari Budi Utomo sampai dengan Pengakuan Kedaulatan mengatakan bahwa pembentukan tersebut terjadi pada 18 Desember 1927. Pembentukan tadi diawali ketika Ir. Sukarno sebagai pemimpin pergerakan nasional yang tidak canggung dan belum dicurigai oleh Pemerintah Hindia Belanda bersama anggota Perhimpunan Indonesia yang telah pulang ke Indonesia, mendirikan organisasi politik pada 4 Juli 1927 dengan nama  Perserikatan Nasional Indonesia (PNI) yang kemudian diubah namanya menjadi Partai Nasional Indonesia (disingkat PNI juga). PNI inilah yang selalu menekankan dalam setiap rapat tentang pentingnya wadah persatuan bangsa sehingga dibentuklah PPPKI. Adapun organisasi yang masuk dalam PPPKI adalah PNI, Partai Sarekat Islam (PSI), Partai Persatuan Bangsa Indonesia (PBI), Budi Utomo, Pasundan, Jong Sumatranen Bond, dan Pemuda Kaum Betawi. Meskipun organisasi-organisasi tersebut ada yang bergerak secara kooperasi dan ada yang bergerak secara non-kooperasi, namun semuanya bertujuan satu, yaitu menuju Indonesia merdeka.

Sebelum mendirikan organisasi sendiri, para pelajar dari Betawi sudah bergabung di organisasi Jong Java maupun Sekar Rukun. Namun karena merasa perlu wadah tersendiri bagi kaum Betawi, maka pada 1927 mereka kemudian mendirikan organisasi Pemuda Kaum Betawi. Menurut Mardanas Sofwan, pendiri Pemuda Kaum Betawi adalah M. Husni Thamrin, yang di kemudian hari menjadi tokoh pergerakan nasional. Di antara pemimpinnya yang terkenal adalah M. Rochyani Su’ud yang pada Kongres Pemuda Kedua, ia menjadi utusan Pemuda Kaum Betawi dan bertugas sebagai panitia umum V (pembantu V).

Dari organisasi-organisasi pemuda yang ada, Perhimpunan Indonesia (PI) di negeri Belanda, Perhimpunan Pelajar-Pelajar Indonesia (PPPI), dan Pemuda Indonesia merupakan organisasi pemuda yang dengan jelas mempunyai pandangan dan cita-cita Indonesia bersatu.

Sugondo Joyopuspito, pimpinan PPPI, pada 1927 berhasrat melanjutkan kegiatan yang dirintis oleh Mohammad Tabrani dan kawan-kawan pada 1926 yang lalu. Saat itu Sugondo Joyopuspito berkedudukan sebagai mahasiswa (istilah waktu itu adalah student yang diterjemahkan menjadi pelajar) Sekolah Tinggi Hukum. Untuk dapat mewujudkan keinginannya, ia bekerja sama dengan beberapa temannya, yakni Sigit, Suwiryo, Gularso, dan Darwis. Merekapun sering melakukan pertemuan untuk membicarakan keinginan tersebut. Setelah berkali-kali mengadakan pertemuan, akhirnya dicapai kata sepakat akan berusaha mengadakan Kongres Pemuda Kedua pada 1928 dengan kepanitiaan yang diwakili oleh berbagai organisasi pemuda.

Selain bekerja sama dengan teman-temannya, Sugondo Joyopuspito juga meminta dukungan dari sarjana-sarjana Indonesia yang pernah memimpin Perhimpunan Indonesia saat masih menjadi mahasiswa di Belanda. Sarjana-sarjana tersebut antara lain Sartono dan Sunario, keduanya sarjana hukum dan sudah kembali ke Indonesia. Sartono dan Sunario memberi dukungan penuh.

Berhasil meminta dukungan Sartono dan Sunario, Sugondo Joyopuspito lalu meminta informasi kepada Sumarto dan Muhammad Yamin yang pernah terlibat dalam Kongres Pemuda Pertama. Sumarto sebagai wakil ketua, sedang Muhammad Yamin sebagai panitia perumus. Mereka berdua selain memberikan informasi, juga memberikan dukungan terhadap rencana Sugondo Joyopuspito.

Sugondo Joyopuspito yang tak kenal lelah, pada Juni 1928 berhasil menghimpun delapan organisasi pemuda dan satu organisasi pelajar untuk bermusyawarah. Organisasi-organisasi tersebut adalah Jong Java, Jong Celebes, Jong Ambon, Jong Sumatranen Bond, Jong Bataks Bond, Jong Islamieten Bond, Pemuda Kaum Betawi, Pemuda Indonesia, dan Perhimpunan Pelajar-Pelajar Indonesia (PPPI). Musyawarah itu sepakat, mereka akan mengadakan Kongres Pemuda Kedua pada 1928 dengan susunan kepanitian sebagai berikut.

Ketua  : Sugondo Joyopuspito (mewakili PPPI)

Wakil Ketua : Joko Marsaid (mewakili Jong Java)

Sekretaris : Muhammad Yamin (mewakili Jong Sumatranen Bond)

Bendahara : Amir Syarifuddin (mewakili Jong Bataks Bond)

Pembantu I : Johan M. Cai (mewakili Jong Sumatranen Bond)

Pembantu II : Kacasungkana (mewakili Pemuda Indonesia)

Pembantu III : R.C.L. Senduk (mewakili Jong Celebes)

Pembantu IV : J. Leimena (mewakili Jong Ambon)

Pembantu V : Rochyani (mewakili Pemuda Kaum Betawi)

Musyawarah juga sepakat, mereka menunjuk beberapa orang menjadi penasihat dalam Kongres Pemuda Kedua, yakni Sunario, Sartono, M. Nazif (ketiganya sarjana hukum), dan Arnold Mononutu. Sartono dan Sunario, selain penah menjadi anggota Perhimpunan Indonesia, mereka juga anggota dan pendiri Partai Nasional Indonesia.

Dari hasil musyawarah berkali-kali, akhirnya ditetapkan jadwal Kongres Pemuda Kedua dilaksanakan pada 27-28 Oktober 1928. Ceramah dibagi menjadi empat tema, yaitu tentang:

1. persatuan dan kebangsaan Indonesia dengan penceramah Muhammad Yamin;

2. pendidikan dan kebangsaan Indonesia dengan penceramah Nona Purnomowulan, S. Mangunsarkoro, Joko Sarwono, dan Ki Hajar Dewantara;

3. pergerakan pandu (sekarang: pramuka) Indonesia dengan penceramah T. Ramelan; dan

4. pergerakan pemuda Indonesia dan pergerakan pemuda di luar negeri dengan penceramah Sunario.

Adapun tempat pelaksanaan Kongres Pemuda Kedua ditetapkan sebagai berikut.

1. Gedung Katholieke Jongelingen Bond (Persatuan Pemuda Katolik) untuk pembukaan dan rapat umum pertama, tanggal 27 Oktober 1928;

2. Gedung Oost Java Bioscoop (Bioskop Jawa Timur) untuk rapat umum kedua, tanggal 28 Oktober 1928;

3. Gedung Langen Siswo yang juga disebut Gedung Indonesia, untuk rapat umum ketiga dan keempat, tanggal 28 Oktober 1928.

Dalam perjalanannya, Kongres Pemuda Kedua ini nyaris batal, karena pihak Kepolisian Hindia Belanda menolak memberikan izin Kongres Pemuda Kedua. Alasannya, karena dalam daftar acara ada pawai Pandu Indonesia. Namun berkat perjuangan Sunario yang didampingi Arnold Mononutu menghadap pembesar Pemerintah Hindia Belanda, akhirnya berhasil mengantongi izin kongres, dengan catatan pawai pandu ditiadakan.

 

Pelaksanaan Kongres Pemuda Kedua

 

Pada 27 Oktober 1928 pukul 17.30, ketua kongres dengan resmi membuka Kongres Pemuda Kedua di Gedung Katholieke Jongelingen Bond (Persatuan Pemuda Katolik). Setelah itu, ceramah diisi oleh Muhammad Yamin. Saat Muhammad Yamin berceamah, acara sempat terhenti dua kali. Penyebabnya, Komisaris Polisi menegur ketua kongres akibat penceramah mengucapkan kata “kemerdekaan” dan menganjurkan agar putra-putri Indonesia bekerja lebih keras supaya tanah air Indonesia lebih cepat menjadi suatu negara seperti Inggris dan Jepang. Rapat umum hari itu berakhir pukul 23.30.

Keesokan harinya, 28 Oktober 1928, rapat umum pagi hari dan siang hari bertempat di Gedung Oost Java Bioscoop (Bioskop Jawa Timur). Rapat diisi dengan ceramah tentang pendidikan dan kebangsaan Indonesia oleh Nona Purnomowulan, S. Mangunsarkoro, Joko Sarwono, dan Ki Hajar Dewantara.

Nona Purnomowulan yang merupakan seorang guru, dalam ceramahnya mengatakan betapa pentingnya arti disiplin dalam dunia pendidikan, baik disiplin belajar bagi murid maupun disiplin mengajar bagi guru. Disiplin tinggi dan cara mengajar yang tepat akan menentukan keberhasilan putra-putri Indonesia. Ceramah mendapat banyak sambutan, tanggapan, dan pertanyaan dari peserta rapat.

Mangunsarkoro yang juga tokoh pendidik dari kalangan angkatan muda, mengatakan pentingnya kebudayaan bangsa sendiri untuk dijadikan landasan pendidikan putra-putri Indonesia. Pendidikan yang berlandaskan kebudayaan bangsa sendiri akan menjadi pupuk istimewa untuk menyubukan pertumbuhan asa cinta tanah air dan semangat kebangsaan putra-putri Indonesia. Sepeti halnya ceramah nona Purnomowulan, ceramah S. Mangunsarkoro juga mendapat banyak sambutan, tanggapan, dan pertanyaan dari peserta rapat.

Sesungguhnya masih ada dua tokoh lagi yang dijadwalkan bercerama tentang pendidikan dan kebangsaan Indonesia, yakni Joko Sarwono dan Ki Hajar Dewantara, namun sangat disayangkan keduanya berhalangan hadir, sehingga hadirin banyak yang kecewa.

Rapat umum pada pagi dan siang hari itu berhasil dengan selamat.

Malam harinya, rapat dilaksanakan di Gedung Langen Siswo. Yang hadir ratusan orang. Yang tidak kebagian kursi di aula, duduk di ruang belakang, depan, dan samping. Menurut keterangan yang ada di “Ruang Kongres Pemuda Kedua”, di ruang inilah Kongres Pemuda Kedua yang melahirkan Sumpah Pemuda itu dilaksanakan.

Acara yang dimulai pukul 19.30, pokok pembicaraannya tentang pergerakan pandu Indonesia dan tentang pergerakan pemuda Indonesia dan pergerakan pemuda di luar negeri.

T. Ramelan yang membahas tentang pergerakan kepanduan Indonesia menyampaikan tujuan yang hendak dicapai oleh pandu Indonesia ialah keluhuran budi, membina watak satria, berbakti kepada orang tua, masyarakat, serta berbakti pada nusa dan bangsa. Ceramah T. Ramelan mendapat sambutan dari para tokoh kepanduan yang menghadiri persidangan.

Sunario, yang awalnya dijadwalkan menyampaikan ceramah tentang pergerakan pemuda Indonesia dan pergerakan pemuda di luar negeri, dengan seizin Panitia Kongres Pemuda Kedua, materi ceramah diubah menjadi pergerakan pemuda dan persatuan Indonesia. Dikemukakan oleh Sunario bahwa kehendak para pemuda untuk berusaha keras menggalang persatuan bangsa adalah seirama dengan kehendak zaman. Oleh karena itu, agar terwujud persatuan bangsa yang kukuh dan tak terpatahkan, usaha menggalang persatuan bangsa haus dilakukan sampai ke pelosok-pelosok desa. Sambutan, tanggapan, dan tanya jawab dari peserta berkaitan dengan ceramah Sunario memakan waktu cukup lama.

Di saat Sunario sedang berdiskusi dengan peserta rapat, Muhammad Yamin sebagai sekretaris panitia yang duduk di sebelah Sugondo Joyopuspito, menyodorkan secarik kertas sambil berbisik, “Saya punya putusan kongres yang bagus”.

Sebetulnya yang disodorkan oleh Muhammad Yamin adalah rumusan yang dibuat saat Kongres Pemuda Pertama tahun 1926 yang lalu. Hanya saja, kalimat baris ketiga sudah diubah sesuai usul Mohammad Tabrani yang merupakan Ketua Kongres Pemuda Pertama, yakni mengubah bahasa Melayu menjadi bahasa Indonesia. Sugondo Joyopuspito dan panitia yang lain setuju dengan rumusan yang disodorkan oleh Muhammad Yamin.

Ketika ceramah sudah selesai, di waktu istirahat, W.R. Supratman meminta izin kepada Ketua Kongres Pemuda Kedua untuk memperdengarkan lagu gubahannya yang berjudul Indonesia Raya. Setelah teks syair lagu tersebut disodorkan dan dibaca oleh Sugondo Joyopuspito, ada kekhawatiran timbul insiden dengan pihak polisi Belanda yang mengawasi jalannya rapat karena banyak kata “Indonesia”. Oleh karena itu, Sugondo Joyopuspito meminta kepada W.R. Supratman agar ketika memperdengarkan lagunya tidak disertai dengan syairnya, tapi cukup dengan gesekan biolanya. Itulah pertama kali lagu Indonesia Raya diperdengarkan.

Tentang lagu Indonesia Raya yang diperdengarkan pertama kali saat Kongres Pemuda Kedua, akhir-akhir ini media massa online banyak yang memperbicangkan bahwa Dolly Salim disebut-sebut sebagai orang yang pertama kali melantunkan syair Indonesia Raya saat kongres tersebut. Saat itu W.R. Supratman memainkan lagu ciptaannya di depan peserta kongres dengan gesekan biolanya yang mendayu-dayu. Setelah selesai memainkan lagu Indonesia Raya, para hadirin meminta agar lagu tersebut dinyanyikan. Setelah melalui diskusi, akhirnya “Indonesia Raya” dinyanyikan dengan sedikit perubahan lirik, yakni kata “merdeka” diganti dengan kata “mulia” demi keamanan karena kongres diawasi oleh aparat kolonial Belanda. Dolly Salim yang anggota paduan suara Nationaal Indonesische Padvinderij (Natipij) bernyanyi dengan apik sehingga membuat peserta kongres terpesona dengan kemampuannya seperti antara lain diberitakan dalam https://www.kompas.com/ dan https://tirto.id/. Namun apakah benar demikian, tentu perlu ditelusuri lagi berdasarkan sumber-sumber yang otentik.

Setelah W.R. Supratman selesai memperdengarkan lagu Indonesia Raya dengan gesekan biola tanpa syair, panitia kongres memberitahukan kepada hadirin bahwa waktu istirahat telah selesai dan sidang dilanjutkan kembali. Ketua panitia kemudian mengumumkan putusan kongres yang bunyinya demikian.

 

Putusan Congres

Pemida-Pemuda Indonesia

 

Kerapatan pemuda-pemuda Indonesia diadakan oleh perkumpulan-perkumpulan pemuda Indonesia yang berdasarkan kebangsaan dengan namanya Jong Java, Jong Sumatra (Pemuda Sumatra), Pemuda Indonesia, Sekar Rukun, Jong Islamieten Bond, Jong Bataks Bond, Jong Celebes, Pemuda Kaum Betawi dan Perhimpunan Pelajar-Pelajar Indonesia.

Membuka rapat pada tanggal 27 dan 28 Oktober tahun 1928 dinegeri Jakarta;

Sesudahnya mendengar pidato-pidato pembicaraan yang diadakan didalam kerapatan tadi;

Sesudahnya menimbang segala isi-isi pidato-pidato dan pembicaraan ini,

Kerapatan lalu mengambil keputusan:

 

Pertama

:

KAMI PUTRA DAN PUTRI INDONESIA MENGAKU BERTUMPAH DARAH YANG SATU, TANAH INDONESIA

Kedua 

:

KAMI PUTRA DAN PUTRI INDONESIA MENGAKU BERBANGSA YANG SATU, BANGSA INDONESIA

Ketiga

:

KAMI PUTRA DAN PUTRI INDONESIA MENJUNJUNG BAHASA PERSATUAN, BAHASA MELAYU

 

Setelah mendengar putusan ini, kerapatan mengeluarkan keyakinan azas ini wajib dipakai oleh segala perkumpulan kebangsaan Indonesia.

Mengeluarkan keyakinan persatuan Indonesia diperkuat dengan memperhatikan dasar persatuannya:

Kemauan

Sejarah

Bahasa

Hukum Adat

Pendidikan dan Kepanduan

dan mengeluarkan penghargaan, supaya putusan ini disiarkan dalam segala surat kabar dan dibacakan dimuka rapat perkumpulan-perkumpulan.

 

Mendengar putusan rapat, pesertapun serempak berteriak “Setujuuuu…”. Rapat yang dimulai pukul 19.30 itupun berakhir pukul 23.30. Kalimat “Putusan Congres Pemuda-Pemuda Indonesia” inilah yang kemudian kita kenal dengan istilah Sumpah Pemuda.

 

 

Daftar Pustaka

 

 

1. Buku

 

Anonim. 2018. 45 Tahun Sumpah Pemuda. Jakarta: Museum Sumpah Pemuda.

B. Sularto. 1986. Dari Kongres Pemuda Pertama ke Sumpah Pemuda. Jakarta: Balai Pustaka.

Darmansyah dan Momon Abdul Rahman. 2006. Johannes Leimena: Mutiara dari Maluku. Jakarta: Museum Sumpah Pemuda.

Darmansyah, Misman, dan Endang Pristiwaningsih. 2010. Buku Panduan Museum Sumpah Pemuda. Jakarta: Museum Sumpah Pemuda.

Frans Hitipeuw. 1986. Dr. Johannes Leimena, Karya dan Pengabdiannya. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional, Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Sejarah Nasional.

H. Sutrisno Kutoyo. 2004. Prof. H. Muhammad Yamin SH., Cita-Cita dan Perjuangan Seorang Bapak Bangsa. Jakarta Pusat: PT Muatiara Sumber Widya.

Kartono dan Susi Dyah Fatmawati. Tanpa Angka Tahun. Sumpah Pemuda. Jakarta Barat: CV Pamularsih.

Mardanas Sofwan. 2019. Peranan Gedung Kramat Raya 106 dalam Melahirkan Sumpah Pemuda. Jakarta: Museum Sumpah Pemuda, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Marwati Djoened Poesponegoro dan Nugroho Notosusanto. 2010. Sejarah Nasional V, Zaman Kebangkitan Nasional dan Masa Akhir Hindia Belanda (+ 1900 - 1942). Cetakan Keempat. Jakarta: Balai Pustaka.

Nyoman Dekker. 1993. Sejarah Pergerakan Nasional Indonesia, Diawali Kebangkitan Nasional pada Permulaan Abad XX. Malang: Penerbit IKIP Malang.

Sudiyo dkk. 1997/1998. Sejarah Pergerakan Nasional Indonesia, dari Budi Utomo sampai dengan Pengakuan Kedaulatan. Cetakan Kedua. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Museum Kebangkitan Nasional.

Sudiyo. 2003. Arus Perjuangan Pemuda dari Masa ke Masa. Jakarta: Rineka Cipta bekerja sama dengan Bina Adiaksara.

Sudiyo. 2004. Perhimpunan Indonesia. Jakarta: Rineka Cipta dan Bina Adiaksara.

Suhartono. 2001. Sejarah Pergerakan Nasional, dari Budi Utomo sampai Proklamasi 1908-1945. Cetakan Kedua. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Suwarno. 2011. Latar Belakang dan Fase Awal Pertumbuhan Kesadaran Nasional. Purwokerto - Yogyakarta: Program Studi Pendidikan Sejarah, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Muhammadiyah Purwokerto dan Pustaka Pelajar Yogyakarta.

Yenni Patriani Yakub. 2011. Mari Lanjutkan Semangat Sumpah Pemuda. Cetakan Ke-11. Jakarta Timur: PT Wadah Ilmu.

 

2. Internet

 

https://id.wikipedia.org/wiki/Gramofon

https://id.wikipedia.org/wiki/Indekos

https://mulyonoatmosiswartoputra.blogspot.com/2024/11/indische-partij-partai-politik-pertama.html

https://mulyonoatmosiswartoputra.blogspot.com/2024/12/museum-multatuli-tidak-hanya.html

https://tirto.id/hari-sumpah-pemuda-dan-kisah-dolly-salim-nyanyikan-indonesia-raya-f6nE

https://tirto.id/tujuan-kongres-pemuda-1-tokoh-yang-terlibat-dan-hasilnya-gRap

https://www.kompas.com/cekfakta/read/2022/10/28/193500882/kisah-dolly-salim-pelantun-indonesia-raya-saat-kongres-pemuda-ii?page=all.

https://www.kompas.com/stori/read/2021/05/05/151931779/sekar-rukun-sejarah-tujuan-dan-tokoh-tokohnya.

https://www.kompas.com/stori/read/2022/04/27/130000479/jong-celebes-organisasi-pemuda-dari-sulawesi#