Malam
ini adalah malam pergantian tahun, dari tahun 2020 berganti ke tahun 2021.
Berjuta-juta manusia di belahan dunia ini beramai-ramai menyongsong detik-detik
datangnya Tahun Baru 2021. Selandia Baru adalah negara pertama yang merayakan
tahun baru kala Indonesia menunjukkan pukul 21.00 WIB (atau 22.00 WITA atau
23.00 WIT). Sementara bagi saya, detik-detik datangnya Tahun Baru 2021 juga
merupakan detik-detik kebahagiaan, sebab mulai tanggal 1 Januari 2021, saya
telah memasuki masa purna tugas, meskipun SK Pensiun belum saya terima.
Keyakinan saya bahwa saya telah purna tugas, karena Pertimbangan Teknis
(Pertek) dari Badan Kepegawaian Negara yang merupakan dasar untuk mengeluarkan
SK Pensiun telah dibuat. Jadi, insya Allah, tinggal menunggu waktu turunnya SK
Pensiun.
Sesungguhnya
saya memiliki kesempatan untuk pensiun dua tahun lagi, karena saya termasuk
orang yang ikut dilantik sebagai Perencana Ahli Madya, sebagai pengganti
jabatan eselon 3 yang karena kebijakan presiden, jabatan tersebut dihapus.
Namun jauh sebelumnya, atas dasar keinginan sendiri, saya sudah mengajukan
permohonan pensiun 58 (artinya pensiun saat usia telah mencapai 58 tahun). Saya
memang tidak berniat untuk melanjutkan sebagai fungsional yang pensiunnya
menjadi 60 tahun.
Ada
beberapa kawan yang secara pribadi bertanya kepada saya, “Apakah tidak sayang,
karena dengan pensiun, maka akan kehilangan tunjangan yang jauh lebih besar
daripada gaji pensiun?”. Saya katakan kepada kawan saya, bahwa ini adalah
pilihan yang mengandung konsekuensi. Jika sayang kehilangan pendapatan yang
lumayan besar dibanding gaji pensiun, maka harus mau meneruskan bekerja lagi,
setidaknya tambah dua tahun lagi. Sebaliknya, jika sudah ingin menggunakan hari
tuanya untuk lepas dari pekerjaan kantor, ya harus ikhlas kehilangan pendapatan
yang lebih besar daripada gaji pensiun.
Lalu
apakah nantinya tidak jenuh karena hari-harinya banyak menganggur setelah
pensiun? Saya tidak berani menjawab secara pasti, apakah pensiun itu
hari-harinya menjenuhkan atau tidak, karena saya baru saja menapakkan kaki
memasuki masa pensiun. Dari hasil pembicaraan dengan kawan-kawan saya yang
sudah lebih dahulu pensiun, ada yang mengatakan bahwa pensiun itu nikmatnya
sekitar tiga bulan. Selepas itu, kejenuhan sering melanda. Namun ada juga yang
mengatakan bahwa pensiun itu tidak menjenuhkan. Ini artinya, jenuh atau
tidaknya dalam menjalani hari-harinya, tergantung pada pensiunan itu sendiri.
Apakah
saya sudah mempersiapkan bisnis atau kegiatan lain yang menghasilkan materi
sebagai pengganti penghasilan yang hilang akibat saya mengambil pensiun? Sampai
detik ini, saya belum mempersiapkan itu, dan belum ada planning ke
arah itu. Saya hanya ingin belajar mensyukuri nikmat Allah, meskipun
penghasilan turun drastis. Semoga Allah menjadikan saya termasuk golongan orang
yang bisa bersyukur.
Apakah
ingin belajar menulis? Yang ini mungkin iya. Semoga saja Allah meridoi
keinginan saya, dan saya bisa menulis sesuatu yang bermanfaat baik bagi diri
saya sendiri, orang lain, maupun masyarakat, walau mungkin saya belum bisa
produktif seperti penulis-penulis yang sudah fokus pada dunia tulis-menulis.
Semoga Allah menjauhkan saya dari menulis hal-hal yang dapat mendatangkan
mudhorot.
Tidak ada komentar :
Posting Komentar